BAGI turis, Kalimantan adalah bumi khatulistiwa yang sangat mengesankan mereka, namun bagiku, merupakan bumi yang paling gelap yang kuketahui, setelah pulau Bali.
Hampir di setiap rumah Tionghoa terdapat loya, tempat penyembahan orang Tionghoa, yang di Jawa sulit didapat. Tiap toko, tiap sudut rumah, ataupun di sudut-sudut jalan terdapat loya. Banyaknya berhala hampir tak terhitung dengan jari-jari tanganku. Aku sedikit bergidik ketika loya-loya semakin banyak kujumpai di desa-desa yang penduduknya sebagian orang Tionghoa.
Namun di kampung-kampung Melayu atau pun kampung Madura lain lagi adatnya. Belum lagi kampung Dayak, dengan adat dan kebudayaan gelap lainnya. Apakah Allah membiarkan iblis bercokol di sini? pikirku. Baru memasuki pelayanan di Kalbar, sudah merasa gerah. Bukan karena udara yang memang panas, tetapi karena kuasa gelap yang terasa menyesakkan dada kami.
Perasaanku belum menentu, aku belum menyadari peperangan yang bakal terjadi. Kami memasuki ladang pelayanan baru dan berusaha dapat menyesuaikan diri sehingga pelayanan dapat mulai digarap.
Peperangan dengan kuasa kegelapan belum begitu terasa. Allah masih melatih kami agar mampu berperang. Tembakan kami juga belum tepat pada sasaran. Barangkali Allah menyadari, betapa kami terlalu santai.
Allah perlu mendesak kami, agar kami bangun dari tidur, dan meninggalkan mimpi-mimpi indah. Terutama aku yang paling jauh tertinggal. Dalam pelayanan pribadi, aku sepertinya masih tertatih-tatih. Apalagi berkhotbah. Aku merasa kehilangan sesuatu yang dahulu pernah kumiliki. Mengapa aku tak bersemangat, seperti saat aku masih gadis? Mengapa aku kehilangan kuasa, yang saat itu seolah aku miliki? Aku seperti laskar penakut, loyo dan kaku. Aku lebih banyak ndompleng kegiatan suamiku daripada berdikari.
Aku mulai bosan dengan caraku sendiri. Aku ingin menemukan penyebabnya, mengapa aku menjadi penakut. Aku takut berkhotbah, bersaksi atau memimpin renungan. Seolah-olah tak ada sesuatu memenuhi diriku yang dari Tuhan.
Dalam pelayanan pribadi pun, aku sering tak yakin, bahwa aku mampu berdoa untuk orang yang kulayani. Malah terasa hambar dan kering. Aku harus mendapatkan jawaban sesegera mungkin. Aku mulai menyisihkan waktuku secara teratur bersama Tuhan. Aku mulai mengerti, kekeringan ini oleh karena persekutuanku dengan Allahku tidak teratur dan tidak bik. Aku lebih mengutamakan kesibukan baik kesibuk an rutin keluarga, kantor ataupun pelayanan. Sehingga aku tak ada waktu untuk berlutut di kaki Allahku. Kesadaran ini mulai timbul lebih nyata saat aku berkomunikasi lagi dengan Allahku. Aku dapat mendengar lagi sabda-Nya, baik dalam saat teduhku, dalam doa ataupun suara hatiku. Aku yakin Ia bersamaku saat aku berlutut. Gairah bersekutu dengan Allahku mulai timbul lagi.
Dibutuhkan banyak orang untuk setia berdoa, agar kuasa Allah menjadi nyata sehingga banyak orang di Kalimantan bertobat.
Kemarin rasanya begitu indah bersama pimpinan dan rekan-rekan terdekat. Pimpinan kami yang saat itu menghadiri wisuda pertama ATHI Anjungan, juga mendoakan hari ulang tahunku. Akan tetapi hari ini, seolah-olah petir menyambar tulang-tulangku, mobil suamiku terbalik, dan seorang teman misionaris dari Korea meninggal.
Dalam benakku bermunculan tanda tanya yang tak terjawab. Tuhan, selidikilah kami, kalau ada jalan celaka di depan kami, demikian doaku. Sampai suamiku keluar dari rumah sakit, aku belum menemukan jawaban pertanyaan yang menyelinap di hatiku.
Namun peperangan rohani mulai terasa, kami tidak berperang melawan manusia melainkan melawan penghulu-penghulu di udara.
Aku mulai merenungkan kejadian ini lebih mendetail. Rencana kami membuka pelayanan lebih meluas hampir tercapai. Jangkauan pelayanan yang tengah kami gumuli tidak terbatas pada tembok gereja. Kami akan menghimpun orang-orang percaya lahir baru yang dapat kami layani agar mereka dapat membentuk persekutuan doa untuk menggempur pertahanan iblis.
Gagasan ini direstui pimpinan kami, maka hari itu akan diadakan pertemuan khusus dengan gereja-gereja lain di Pontianak. Namun seolah-olah iblis berhasil mengocok tim, sehingga kecelakaan terjadi.
Kami membuka diri dan menerima semua anggapan buruk yang dilemparkan kepada kami, terutama pada suamiku, sebagai keteledoran yang tidak bisa dimaafkan. Suamiku cukup terpukul dan tak bisa menghilangkan kesan buruk, bahkan tuduhan iblis kepadanya. Ia pasrah dan lumpuh secara rohani dan jasmani. Ia bahkan dicengkam putus asa, mengapa harus ada yang celaka karena kelalaiannya? Mengapa Tuhan tak menjawab doa kami? Padahal saat berangkat mereka sudah menyerahkan perjalanan itu kepada Tuhan. Bahkan suamiku sendiri berdoa jika Tuhan tidak menyertai jangan ia keluar dari tempat itu. Namun kecelakaan tidak bisa dihindarkan, dosa apa kiranya yang membuat dia teledor? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat menyiksanya, apalagi kalau ia mendengar suara langsung yang menyudutkannya.
Aku tak mau diam, aku bahkan tak merasa bosan meminta petunjuk Allahku selama mendampingi suamiku di rumah sakit. Diam-diam aku menemukan jawaban yang pasti. Peperangan ini bukan peperangan daging, namun peperangan roh. Aku mulai berdoa serius.
Setiap malam aku membaca Mazmur untuk menguatkan imanku. Dan semalaman karena rintihan suamiku, aku terus bersekutu dengan Tuhan. Malam kedua pengalaman ajaib kurasakan. Darah yang terlihat dalam air seni suamiku tidak membuktikan adanya kerusakan dalam yang seperti diduga oleh dokter. Dan pembengkakan dua hari telah menjadi kempis karena hasil doa dan olesan balsam pemberian teman yang datang berkunjung.
Namun yang lebih hebat, ketika suamiku mulai bisa duduk, tiba-tiba ia memekik. "Dalam nama Yesus, pergi kau!" Aku terhenyak dan bertanya, apa yang terjadi?
"Ah, dia datang menggangguku." jawabnya.
Aku heran dengan jawabannya, siapa yang dimaksudkan. Setelah suamiku menjelaskan masalahnya, aku pun paham, rupanya ia mendapat serangan iblis. Malam itu aku tidak tidur lagi, aku terus berdoa, agar kemenangan Tuhan kami peroleh.
Rupanya gangguan ini bukan saja untuk suamiku, tetapi juga dialami Nico, teman sekamar suamiku yang juga mendapat kecelakaan. Dan lebih celaka lagi, hari berikutnya, aku sendiri juga mendapat bagian, meskipun aku telah tidur di rumah. Serangan itu bertubi-tubi dengan penglihatan yang menjijikan. Aku semakin gencar berdoa kepada Allahku.
Tuhan tidak membiarkan suamiku terlalu lama diam di rumah sakit. Setelah ia kuat, hari ke-8 boleh pulang. Masih banyak saudara yang mengunjungi kami ke rumah. Berbagai nasihat diberikan, agar patah tulang suamiku tidak membekaskan cacat yang lebih parah.
Dalam waktu diam, Tuhan tegas berbicara kepada kami secara pribadi, agar kami hanya boleh meminta petunjuk Tuhan, dan kuasa kesembuhan hanya daripada-Nya. Oleh karena itu kami selalu menolak secara bijaksana rekan-rekan kami yang selalu memberikan nasihat pergi ke sinshe.
Allah membuktikan kuasa-Nya, dua minggu kemudian suamiku sembuh benar, padahal diagnosa dokter sekitar 3 bulan baru tulang-tulang menjadi baik kembali. Allah berbuat lebih cepat dari para dokter.
Kesan kecelakaan masih hangat di benak kami, meskipun telah lama lewat. Bulan-bulan naas itu telah kami lalui. Namun sore ini sekali lagi aku dikejutkan dengan berita yang dibawa seorang pemuda teman putraku yang pertama.
"Apa lagi?" desisku, dengan perasaan kurang enak.
"Ma, tinggal dulu, Papa mau lihat apa yang terjadi."
"Apa sih yang terjadi?" tanyaku memburu, rasa tak puas dan ingin tahu jawaban teka-teki itu.
"Yehuda kecelakaan, tapi tak usah panik." Kata-kata itu justru membuatku tak tenteram, rasa sakit perutku mulai kambuh. Apa artinya tak usah panik, padahal aku sungguh panik,
Aku berdoa dalam hati, agar tak terjadi apa-apa. Malam itu sebenarnya kami akan melayani persekutuan doa. Bersama teman sepersekutuan kami mencari informasi lebih jelas tentang putraku. Kami mengejar sampai rumah sakit. Hasilnya putraku harus opname, karena gegar otak. Aku diam merenungkan semua peristiwa. Mengapa beruntun kejadian yang mengerikan seperti ini? Aku mulai memeriksa diri, benarkah kami telah membuat jalan salah di hadapan tuhan sehingga kami harus menerima hukuman-Nya? Kalau benar demikian, kami sangat bersyukur, karena kami ditegur langsung, kami menerima didikan Tuhan. Belum lagi menerima jawaban yang pasti, sore itu kami mendapat seorang tamu Majelis Gereja kami. Ia tampak cemas, dan menceritakan kepadaku anak tetangganya kesurupan roh jahat. Anak itu tidak lagi berbicara dan berbusana. Kaca-kaca jendela dipecahkan dan orang tuanya diguyur air. Tak ada orang yang berani mendekatinya, ia selalu mengancam menikam siapa saja yang mendekati dia.
"Mereka sudah putus asa Bu, kasihan. Sudah kukatakan hanya Tuhan Yesus yang mengusir setan itu." ceritanya.
Aku diam mendengarkan penjelasan bapak ini. Kebetulan suamiku baru saja istirahat, karena semalaman ia tidak bisa tidur menjaga putraku yang gegar otak terus-terusan muntah. Aku terus berpikir, bagaimana menolong bapak ini.
"Bu, bisakah Bapak dan Ibu menolongnya, saya sudah berjanji akan membawa Pendeta ke rumahnya sore ini."
"Keluarga ini orang Kristen, Pak?"
"Tidak, Bu, dia Kong Hu Chu."
"Bapak harus jelaskan dahulu, jalan keselamatan kepadanya. Jelaskan juga kepada keluarganya, kalau sudah didoakan secara Kristen, tak boleh panggil yang lain. Bapak mengerti, kan?"
"Ya... ya, Bu, saya paham, tetapi saya tidak pandai menjelaskan seperti yang Ibu minta tadi."
"Bapak bisa pakai bahasa Tionghoa, membacakan ayat firman Tuhan dari Yohanes 3:16. Bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, termasuk keluarga ini. Yesus mau menolong, tetapi mereka harus percaya, dan sedia dibimbing. Seluruh keluarga Pak."
"Ya, saya akan sampaikan seperti yang Ibu anjurkan, tetapi ibu dan bapak nanti datang kan?"
Aku bingung, apakah suamiku sanggup pergi dengan kondisi seperti itu? Melayani orang kerasukan harus dengan persiapan yang matang. Apakah ia tak menolak, aku khawatir kalau akumengiyakan, lalu suamiku menolak, bagaimana. Aku mengerti alasan suamiku seandainya ia menolak, karena memang kami tak ada persiapan khusus. Kalau saja gembala sidang ada di tempat, pastilah aku tidak terlalu pusing, pasti aku antar majelis ini ke rumahnya untuk minta pendapat beliau. Pikiranku sementara buntu.
"Bagaimana Bu, saya mau pulang dulu, saya tunggu Ibu dan Bapak di rumah," kata majelis ini mengejutkanku.
"Ya Pak, duluan saja, saya akan bangunkan suamiku, nanti kami menyusul Bapak," kataku tak tentu. Kalimat ini kuucapkan supaya ia tak kecewa. Aku terus berdoa dalam hati supaya Tuhan memecahkan masalah ini. Aku masuk ke kamar, ternyata suamiku telah mendengar pembicaraanku dengan majelis tadi.
"Ada apa Ma?" tanyanya.
"Tetangga Bapak ini kesurupan, ia telah berjanji akan membawa pendeta ke rumahnya."
"Nah, bersiaplah, kita kesana," katanya sambil bangun dan masuk kamar mandi. Aku sedikit panik, aku harus pergi? Belum pernah aku melayani orang kesurupan. Aku sedikit berdebar, mampukah aku Tuhan? bisikku dalam hati. Apakah aku cukup berani menghadapi pemuda ini? Aku mencoba membayangkan anak yang tengah kesurupan ini. Ya Tuhan, berilah aku keberanian dan kekuatan.
Kami mengadakan persiapan doa singkat, menyerahkan pelayanan ini kepada Tuhan sepenuhnya. Sepanjang perjalanan ke rumah majelis ini aku terus komat-kamit berdoa, sedang suamiku seperti biasa memuji Tuhan dengan lagu penyembahan. Inilah adat yang tidak bisa hilang dari pasanganku ini. Rasanya ia begitu santai tidak seperti aku yang panas dingin. Sampai di rumah majelis, kami disambut dengan hangat.
"Wah, dia tak mau berbusana Pak, baru saja mengamuk, mereka semua ketakutan."
"Bapak sudah sampaikan pesan saya?" tanyaku menghilangkan rasa cemasku.
"Ya sudah Bu, mereka sedia dilayani, tetapi pemuda itu telanjang."
"Biar saja," kata suamiku.
Suamiku mengajak majelis dan istrinya berdoa. Pada saat doa dinaikan tiba-tiba aku merasa seperti demam, tubuhku terasa panas. Apakah karena rasa takut menjalari perasaanku sehingga suhu tubuhku naik tinggi? Inilah pikiranku, namun ketika kuraba suhu kulit tubuhku tetap seperti semula, normal.
"Ah... Tuhan, kuatkan aku, jangan Engkau permalukan hamba-Mu ini, aku yakin Engkau akan bekerja. Karena kami datang ke rumah itu untuk jiwa-jiwa yang Engkau kasihi," desisku dalam hati.
Majelis yang mendahului kami kembali melaporkan, bahwa anak itu tak mau berpakaian dan mengancam akan membunuh siapa saja yang mendekati dia.
"Katakan pada pemuda itu , suruh berpakaian, Pendeta mau datang." Majelis itu tersenyum untuk ucapan suamiku, seolah tidak yakin.
"Pak, tadi sudah, tetapi dia mengancam Pak."
"Bilang sama dia, Pendeta suruh." Majelis itu sedikit takut. Ia pergi lagi ke rumah pemuda itu. Lalu ia kembali.
"Sudah Pak, dia mau berpakaian, tetapi tak mau duduk."
"Bilang, Pendeta itu suruh duduk."
Kembali majelis itu ke rumah depan menyampaikan perintah suamiku. Aku memang sedikit heran, ketika perintah kedua pun diikuti pemuda ini. Lalu kami datang ke rumah itu. Tampak seorang laki-laki muda yang tatapan matanya liar dan kosong. tengah dipegangi dua lelaki kekar saudaranya. Ayahnya menyambut kami dengan ramah. Rumahnya sempit, karena itu suamiku dan pemuda itu duduk berhadapan sangat dekat. Pemuda itu tak mau membuka mulutnya ketika Suamiku mencoba menanyakan namanya.
"Sudah tiga hari ia begini Pak, tidak bisa bicara dan mengamuk terus," kata ayahnya menjelaskan.
"Apakah sebelumnya ia bisu?"
"Tidak Pak, dia begini setelah ia cari ilmu."
"Bapak sudah minta pertolongan siapa saja?"
"Semua sudah Pak, loya, dukun, orang pintar, juga Kyai, tetapi hasilnya semakin ganas Pak."
Selama suamiku melayani, aku terus berdoa. Pemuda ini tidak berbuat apa-apa hanya gelisah setiap kali suamiku menyebut nama Yesus. Kami mengadakan doa penyembahan dan puji-pujian, lalu suamiku mengajak pemuda ini bicara. Pemuda ini tetap membungkam, sesekali ia menggaruk-garuk tubuhnya seperti kera, atau memutar-mutar kepalanya sedikit cepat. Kalau orang normal perlakuannya semacam ini dapat membuatnya pusing. Sedang kami yang melihatnya pun merasa pusing.
"Dalam nama Yesus, kuperintahkan buka mulutmu!" perintah suamiku. Tiba-tiba pemuda ini melotot ke arah suamiku, tetapi ia tetap bungkam, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kaudengar, aku perintahkan buka mulutmu!" perintah suamiku lagi.
"Siapa? Aku...?" tanya pemuda ini tiba-tiba.
"Dalam nama Yesus, siapa kau ini?" tanya suamiku.
"Namanya Aping Pak Pendeta," kata bapaknya. Suamiku menyuruh ayah anak ini diam dulu, ia ingin pemuda ini sendiri menjelaskan menjelaskan namanya.
"Ya, aku Aping, Bapak ini siapa?"
"Saya Pendeta," jawab suamiku.
"Pendeta, Pendeta apa?" katanya pula sambil matanya meneliti wajah suamiku.
"Pendeta Kristen," kata suamiku singkat.
"Oh... ya, saya tahu, tetapi pendeta palsu apa benaran?"
"Kaulihat apa?" kata suamiku lagi. Pemuda ini kembali meneliti suamiku dengan cara yang aneh.
"Kok ... matanya bersinar ya, lho itu ada cahaya di matanya, coba buka kacamatanya, oh ... ya, Bapak Pendeta benaran, saya kenal Pendeta, Pendeta itu jujur ya, baik ya."
Terjadi komunikasi antara suamiku dengan pemuda itu, setiap kali dibimbing berdoa untuk mengakui dosanya ia menolak. Ia katakan ia sudah suci, ia Kong Hu Chu, ia juga Islam, dll.
Selama suamiku melayani pemuda ini, aku tak berhenti berdoa. Ada sikap yang aneh-aneh terjadi dan selalu kalau ia ditengking ia mulai memutar kepalanya sangat cepat dan menggaruk-garuk tubuhnya, lalu minta damai dengan suamiku. Dalam hatiku terdengar bisikan, jenis ini adalah jenis legion. Saat suamiku menengking dan memerintahkan dalam nama Yesus supaya ia mau mengikuti doa suamiku, ia marah dan mengancam suamiku akan melaporkan ke Gubernur karena memaksa orang lain beragama Kristen. Suamiku tidak menggubris ucapannya, tetapi terus beberapa kali mengusir roh yang ada dalam pemuda ini. Lalu pemuda ini tampak kecapaian ia minta minum dan mengatakan, di dalam dia ada pasukan yang cukup besar, temannya banyak. Sampai jam 22.00 kami melayani pemuda ini, masih juga ada roh jahat yang sisa, namun yang lain sudah keluar. Ayahnya pun tampak capai sehingga ia minta ijin agar pelayanan dihentikan dulu. Ada jimat yang ditaruh disaku yang belum dilepaskan. Namun kuasa Allah tak terbatas, setelah malam itu dilayani, seluruh keluarga jadi lega. Mereka bisa tidur tenang, demikian juga pemuda itu padahal tiga hari sebelumnya ia begitu ganas.
Tetapi esok harinya datang pamannya memberikan air loya lagi kepadanya. Ia menolak, namun tetap dipaksa dan ayahnya pun menganjurkan supaya diminum. Spontan setelah gelas kosong, pemuda ini kembali liar, telanjang dan lari ke jalan raya.
Kita lihat di sini, betapa jahatnya kuasa kegelapan memberikan kegelapan yang paling buruk kepada manusia. Akan tetapi Allah Yang Kasih adalah Allah pembebas. Majelis itu dengan tegas menegur keras ayah si pemuda yang meminta kembali agar anaknya ditolong. Dan majelis ini dengan kesal menolak.
"Kalian sudah membuang anugerah Allah," katanya tegas.
Syukur pemuda ini mempunyai nenek seorang yang telah menerima Kristus. Ia datang karena mendengar keadaan cucunya. Lalu ia dengan berani meminta agar cucu ini diserahkan kepadanya.
"Kalau kalian terus seperti ini, anak ini akan binasa, beri aku kesempatan, ia cuma bisa sembuh dengan kuasa Yesus."
Si nenek membawa pergi cucunya. Dan benarlah berkat doa si nenek, cucunya sembuh benar, ia normal seperti pemuda lain. Ia masih mengenali kami dan berterima kasih atas pertolongan kami.
"Benar, tidak ada kuasa lain yang lebih hebat dari kuasa Yesus," inilah yang diucapkan dari bibir pemuda ini.
Melalui pelayanan ini, aku bisa menimba beberapa hal yang indah. Iblis tak boleh diberi peluang dalam sikap hati ataupun sikap kompromi. Jelas kuasa kegelapan itu selalu berusaha menawan manusia dengan cara-cara yang licik. Namun orang percaya yang patuh dan beriman, dapat mematahkan pertahanan iblis.
Penulis: Ny. Es. E. Maukary
Penerbit: PT BPK GUNUNG MULIA