Kamis, 09 Agustus 2012

PERTARUNGAN ANTARA DUA SIFAT DASAR

                                                                  Oleh: Asmadi Kurniawan                                                  
   


  "Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?" (Yak 4:1). Pesan Yakobus ini tidak dialamatkan kepada orang-orang yang belum percaya. Ia berbicara kepada orang Kristen yang sudah dibasuh oleh Darah dan penuh dengan Roh Kudus. Ada pertarungan yang sedang berlangsung di dalam kita, namun itu adalah pertarungan yang dapat kita menangkan, melalui kasih karunia Allah.

     "Jika demikian halnya, mengapa aku seperti ini?" (Kej 25:22-23). Ini adalah pertanyaan kuno. Tuhan, mengapa aku seperti ini? Mengapa aku merasa seperti ini? Apa yang salah dengan diriku? Ribka di dalam perjanjian lama mengalami pergumulan seperti ini di dalam dirinya. Untuk menemukan jawaban-jawaban yang ia perlukan, ia tidak mendatangi psikiater melainkan bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, mengapa aku seperti ini?" Allah menjawabnya, "Dua bangsa ada dalam kandunganmu ...." Jawaban ini memiliki makna yang besar karena melambangkan pergumulan antara kedagingan dengan roh di dalam kita. (Tentunya, ada sepasang anak kembar di dalam kandungannya - Esau melambangkan orang yang duniawi, dan Yakub melambangkan orang yang rohani), tetapi penerapan dan maknanya merupakan suatu perumpamaan yang luar biasa bagi setiap kita.

     Orang-orang percaya di Korintus, walaupun sudah lahir baru, dipenuhi Roh Kudus, disucikan, dan memiliki semua karunia Roh Kudus, mempunyai beberapa pergumulan yang sengit dengan kedagingan. Paulus menyebut mereka manusia duniawi. Mereka diganggu oleh iri hati dan perselisihan, dan bahkan beberapa di antara mereka ada yang jatuh kembali kepada amoralitas dan kemabukan. Bagaimana mungkin orang-orang percaya yang didiami oleh Kristus berlaku demikian rupa?  

               Kita Memiliki Suatu Sifat Dasar Dosa
                       (1 Yoh 1:8) vs. (1Yoh 3:9)

    *  I Yohanes 1:8 "Jikalau kita berkata, bahwa kita tidak berdosa (memiliki sifat dasar dosa), maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Firman Tuhan menyatakan bahwa kita mempunyai suatu sifat dosa, dan harus mengakui bahwa kita memilikinya (Yer 17:9, Yes 6:5, Rm 7:24, 1 Yoh 1:9).

    *  I Yohanes 3:9 "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah ".Kristus yang ada di dalam kita tidak dapat berbuat dosa. Ia adalah benih kudus yang ada di dalam kita, dan Ia tidak dapat berbuat dosa (1 Ptr 1:23). Namun tentu saja kadang-kadang kita berbuat dosa. Kalau begitu darimanakah dosa ini datang? Dosa ini datang dari suatu sifat lama yang sudah ada sejak kita dilahirkan.

    Paulus, penafsir perjanjian yang baru mengatakan, "Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu (sifat lama) ada padaku"; dan bahwa "bukan aku lagi yang membuatnya, tetapi dosa yang ada dalam aku" (Rm 7:17, 20-23). Paulus menjelaskan bahwa masih ada suatu sifat dosa yang menetap di dalam anggota-anggota tubuh kita (1 Kor 9:27; 2 Kor 12:7).

     Yesus Kristus mempunyai dua sifat. Ia adalah Anak Manusia. Tubuhnya terbentuk dari darah dan daging Maria, yang merupakan keturunan ras Adam. Ia berasal dari benih Daud, keturunan Abraham. Karena itu tubuh-Nya diciptakan persis seperti tubuh kita. Yesus diciptakan dalam rupa manusia berdosa (Rm 8:3), dan dicobai di dalam segala pencobaan yang kita alami (Ibr 2:14-18; 4:15). Tetapi Ia tidak pernah menyerah kalah terhadapnya! Yesus adalah Anak Allah dahulu maupun sekarang. Roh dan jiwa-Nya kekal. Ia telah datang dari surga untuk tinggal di dalam tubuh yang bersifat kedagingan. Sebagai seorang manusia yang tinggal dalam sebuah tubuh manusia yang bersifat kedagingan, Ia mengutuk dosa dalam daging dengan cara tidak pernah menyerah kalah kepada hawa nafsu kedagingan itu.

               Apakah Penyembuh atas Sifat Lama?
   
     Tatkala kita dilahirkan baru, Kristus masuk ke dalam kita dan kita mulai memiliki suatu sifat baru. Ia secara harfiah lahir di dalam diri kita sebagai benih (1 Ptr 1:23). Kristus rindu bertumbuh di dalam kita sampai Ia mencapai pertumbuhan yang sempurna di dalam kita (Gal 4:19). Namun bukankah benar bahwa sekalipun kita telah dilahirkan baru dan bahkan telah dipenuhi Roh Kudus, masih ada banyak pergumulan dengan kedagingan? (Kedagingan sifat lama, manusia lama dan manusia duniawi semuanya adalah istilah yang sama yang menggambarkan sifat dasar yang kita miliki sejak dilahirkan). Hal yang akan membereskan perkara kedagingan, sifat lama, dan manusia lama adalah ... pengalaman dari Roma 6:6. 

     Roma 6:6 adalah suatu pengalaman yang mutlak yang harus dipisahkan dari pengalaman lahir baru dan kepenuhan Roh Kudus. "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya (dibuat tidak berfungsi). "Kata tahu dalam bahasa Yunaninya berarti "suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman". Itu bukanlah suatu pengetahuan yang ada di kepala saja atau sesuatu yang saudara peroleh melalui iman. Itu adalah suatu pengalaman, suatu pewahyuan dari Allah. Dan Allah rindu untuk membawa setiap orang percaya ke dalam pengalaman ini. Sesuatu yang dramatis terjadi tatkala kita mengalami. Roma 6:6! Manusia lama (sifat lama) kita dibuat tidak berdaya. Ini mengandung pengertian bahwa sifat lama kita ditawan dan ditundukkan sehingga kita mampu menguasainya. Mengalami Roma 6:6 memberikan kepada kita kuasa untuk menentukan pilihan, baik untuk kekudusan maupun kedagingan.

     Bila saudara membandingkan semua ayat lainnya dengan ayat ini, pengalaman Roma 6:6 tidak mengandung konsep tentang penghapusan sifat lama kita. Sifat lama itu tetap ada, tetapi ditawan dan disalibkan, lalu menjadi semakin lemah dan semakin lemah tatkala kita menolak "memberi makan" atau melatihnya. Tetapi manusia baru kita (Kristus di dalam kita) akan semakin kuat bila kita "memberi makan" dan melatihnya. Bacalah analogi yang ditemukan di dalam 2 Samuel 3:1 - Saul (manusia duniawi) menjadi semakin lemah dan lemah; Tetapi Daud (manusia rohani) menjadi semakin kuat dan kuat. Bahkan setelah kita mengalami Roma 6:6 sekalipun, kekudusan masih merupakan suatu pilihan, suatu perjuangan. Kita harus menganggap sifat lama kita tidak berkuasa, kemudian menyerahkan tubuh kita kepada Allah. Kekudusan adalah suatu perjuangan, suatu pilihan (Rm 6:11, 13, 14). Sebelum mengalami Roma 6:6, kita hampir tidak memiliki pilihan, dalam arti dosa berkuasa atas kita dalam banyak cara. Pengalaman Roma 6:6 memberikan kuasa kepada kita untuk memilih kekudusan.

      * Pengalaman Roma 6:6 membuat manusia lama kita tersalib. Pengalaman itu menawannya. Tetapi janganlah kita melebih-lebihkan pengertian "mati atas dosa". Sifat lama kita tidak pernah dihapus atau berhenti keberadaannya selama hidup ini ada di dalam tubuh yang dapat binasa ini. Pada hari kebangkitan, kita akan menerima tubuh baru yang bersih dari sifat lama. Penyucian yang sempurna belum selesai sampai kita dibangkitkan dari kematian (Rm 8:23).


Katalog Dalam Terbitan:
Caram, Paul G.
     Kemenangan Atas keakuan /
Paul G. Caram;
alih bahasa, Yuliati Purnomo;
penyunting, Yuliati Purnomo
-- Jakarta: Nafiri Gabriel, 2003.
262 hlm; 14,5 X 21 cm

Judul asli: Victory Over the Self-Centered Life

Tidak ada komentar:

Posting Komentar