Sabtu, 25 Agustus 2012

MENGEJAR EKOR

Oleh: Asmadi Kurniawan



Baca: 1Raja-raja 3:4-14

Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian ... juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan ... (1 Raja-raja 3:12-13).

Seekor kucing keasyikan mengejar ekornya sendiri. Berputar-putar, dan berputar-putar lagi, berharap segera mendapati ekornya tertangkap. Ia pikir, ketika ia sudah mendapatkan ekornya, ia akan bahagia. Ia tidak akan khawatir kehilangan ekornya, karena ia telah memegang ekornya. Padahal itu salah sama sekali! Berputar sampai pingsan pun ia takkan dapat menangkap ekornya. Ia hanya akan kelelahan. Dan sesungguhnya, bukankah tanpa dikejar pun, ekor itu selalu setia mengikutinya?

     Sadar atau tidak, kerap kali orang memakai waktu hidupnya untuk banyak mengejar kesuksesan, kekayaan, pengakuan, dan sebagainya, agar hidupnya bahagia. Segala upaya, waktu, dan energi, dicurahkannya untuk mengejar hal-hal itu. padahal, itu sebenarnya adalah target hidup yang salah! Segala target yang tidak bernilai kekal, tidak layak kita kejar sedemikian rupa. Kita malah kehilangan target yang utama, yang Tuhan ingin agar kita raih dan miliki, supaya hidup kita berarti.

     Mari simak lagi. bagaimana Tuhan berkenan pada permintaan Salomo (ayat 10). Yakni, ketika Salomo meminta hikmat sebagai hal terpenting yang ia rindukan, bukan yang lain-lain (ayat 9). Dan, ketika target utama itu telah ia sasar, Tuhan ternyata menambahkan hal-hal lain yang Salomo perlukan, meski Salomo tidak memintanya (ayat 13). Tanpa perlu dikejar, Tuhan memberinya kekayaan, kemuliaan, umur panjang. Itu semua bonus! Sebab itu, kita diajar untuk tidak mengejar bonus, tetapi target utama: hikmat. Yakni, hati yang berpadanan dengan hati Tuhan. Mata yang melihat seperti mata Tuhan. Hidup yang berjalan sebagaimana Tuhan berjalan. Mari kenali pribadi Tuhan lebih intim. Dan, milikilah hikmat dari-Nya. 

Senin, 13 Agustus 2012

MENJEMPUT FATTY

                                                      Oleh: Asmadi Kurniawan


Pada suatu siang nampak empat orang anak memasuki bangunan stasiun yang kecil di desa Peterswood. Mereka  disertai seekor anjing yang berlari-lari. Kelihatannya senang sekali. Ekornya tidak henti-hentinya dikibaskan kian kemari.

     "lebih baik Buster diikat saja," kata Pip, satu dari keempat anak itu. "Kita datang terlalu cepat. Masih ada dua-tiga kereta lain yang akan lewat. Sini, Buster - kemari sebentar, Anjing manis!"
   
     Anjing kecil berbulu hitam itu datang sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan cepat, serta menggonggong-gonggong.

     "Ya, ya - aku tahu, kau sudah rindu pada Fatty," kata Pip sambil membungkuk, untuk memasang tali penuntun ke kalung leher Buster. "Kami pun rindu padanya. He - jangan meronta!"
   
     "Pegang kuat-kuat - ada kereta masuk!" kata Larry. "Tidak berhenti di sini rupanya."

     Mulanya Buster masih bisa disuruh tenang. Tapi tiba-tiba kereta api yang lewat dengan cepat itu membunyikan peluit. Bunyinya melengking! Buster langsung cepat-cepat menyembunyikan diri di bawah bangku, sehingga Pip yang memegang tali terseret-seret. Buster duduk menghadap tembok, membelakangi kereta api yang lewat. Anjing itu gemetar sekujur tubuhnya. Hii - peluit itu, menyeramkan bunyinya!

     "Aku saja pun ikut kaget," kata Bets. "Sudahkah, Buster - sebentar lagi Fatty kan sudah tiba. Kami senang sekali kau ada bersama kami, selama Fatty pergi. Kau manis sekali selama ini.!"

     "Bahkan Ibu pun suka padamu!" kata Pip sambil menepuk-nepuk Buster. "Padahal ia mula-mula sama sekali tidak setuju kau dititipkan pada kami, selama Fatty ada di Swiss."

     "Aku tidak mengerti, kenapa Fatty mau-maunya pergi ke sana sampai dua minggu, sehingga tdk ada di sini sewaktu natal," keluh Bets.
     "Ia akan ikut dengan ayah-ibunya," kata Daisy. "Pasti ia asyik bermain-main di tengah salju yang begitu banyak di Swiss."

     "Ya - dan kalau jatuh pun tidak apa-apa, karena ia gendut," kata Larry sambil tertawa. "Pukul berapa sekarang? Wah, masih terlalu pagi! Bagaimana sekarang?"

     "Aduh, dingin rasanya di emperan sini. Yuk, kita ke ruang tunggu," ajak Daisy. "Yuk, Buster."

     Tapi Buster tidak mau bergerak dari tempatnya. Pip menarik-narik tali penuntunnya.

     "Ayo ikut, Goblok! Kita cuma akan ke ruang tunggu. Kereta Fatty belum waktunya masuk."

     "Ikat saja dia ke bangku," kata Larry. "Kalau kita paksa juga ikut ke ruang tunggu, nanti ia sedih terus di sana. Kau ini memang goblok, Buster! Kalau aku, biar diupah berapa pun, takkan mau duduk di emperan yang begini dingin."

     Mereka meninggalkan Buster, setelah mengikatnya ke bangku. Mereka masuk ke dalam ruang tunggu. Nyala api pendiangan di situ kecil sekali. Tapi setidak-tidaknya di tempat itu mereka tidak diganggu angin dingin yang menghembus di luar.

     "Satu hal sudah jelas," kata Daissy sambil duduk di bangku kayu yang keras, "Fatty takkan menyamar. Jadi ia tidak bisa mempermainkan kita kali ini. Ia datang bersama ayah dan ibunya - jadi tidak berani berbuat iseng seperti biasanya."

     "Syukur," kata Bets. "Aku ingin melihatnya seperti dia yang asli! Gendut dan periang, dengan cengiran lebar! Sudah berbulan-bulan kita tidak berjumpa dengannya. Tiga bulan di sekolah - lalu langsung belibur ke Swiss!"

     "Aku berani menebak apa yang akan dikatakannya nanti, begitu melihat kita," kata Pip sambil nyengir. "Pasti ia akan berkata, 'Nah - ada misteri baru tidak?' "

     "Jawabannya, tidak!" kata Pip. "Akhir-akhir ini Peterswood tenang sekali. Pak Goon sama sekali tidak ada kesibukannya!"

     Selama dua minggu itu Pak Goon, polisi desa itu, memang mengalami saat-saat tenang. Anjing saja pun tidak ada yang menyerang biri-biri. Juga tidak terjadi peristiwa pencurian - yang kecil-kecil pun tidak ada! Selama itu Pak Goon banyak waktu untuk menikmati tidur-tiduran di kursinya yang empuk!

     Sebuah taksi memasuki halaman depan stasiun, diikuti oleh taksi lain. Seorang laki-laki menjulurkan kepalanya dari jendela taksi yang pertama, lalu memanggil tukang angkat koper yang ada hanya seorang di situ.

     "He - tolong angkat koper-koper ini ke dalam! Cepat, waktu sudah mendesak sekali!"

     Tukang koper yang dipanggil bergegas-gegas datang, untuk mengambil dua koper kecil. Seorang laki-laki keluar dari taksi, lalu membantu seorang wanita turun. Keduanya sudah setengah umur. Pakaian mereka api. Keduanya nampak gembira. Penumpang taksi yang wanita menggendong seekor anjing pudel mungil.

     "Poppet sayang!" kata wanita itu dengan suara mencumbu. "Angin dingin sekali - awas, jangan sampai kau kena pilek!" Anjing kecil itu diselipkannya ke bawah mantel bulu yang tebal, sehingga hanya ujung hidungnya yang mungil saja yang masih nampak. Keempat anak yang menonton dari balik jendela kamar tunggu, senang melihat anjing pudel itu. Aduh, manisnya!

     Empat sampai lima orang turun dari taksi yang datang menyusul. Mereka ribut sekali, tertawa-tawa. kelihatannya mereka hendak mengantar pasangan yang turun lebih dulu.

     "Ayo, cepatlah, Bill! Kau masih harus membeli karcis, padahal waktu tinggal sedikit," kata wanita yang menggendong pudel.

     "Masih banyak waktu," kata laki-laki yang bernama Bill, sambil berjalan masuk ke stasiun. "Eh - itu bunyi kereta ya, yang di kejauhan? Astaga! Rupanya kita memang perlu cepat-cepat!"

     Wanita tadi bergegas-gegas ke emperan dalam, sambil menggendong anjing kecilnya.

     "Ah, ternyata bukan kereta kita," katanya. "Arahnya berlawanan. Kaget aku tadi, Poppet!"

     Orang-orang yang baru datang itu berisik sekali, sehingga keempat anak yang ada di ruang tunggu keluar untuk menonton. Orang-orang dewasa itu ramai sekali berbicara sambil tertawa riang.

     "Selamat bersenang-senang!" kata seorang laki-laki berambut merah. Ia menepuk punggung orang yang bernama Bill, sehingga orang itu terbatuk-batuk.

     "Kalau sudah sampai, jangan lupa mengirim kabar. Kami pasti akan meresa kehilangan kalian. Pesta kalian selalu meriah!" kata seorang wanita yang juga ikut mengantar.

      Wanita yang membawa anjing duduk di bangku tempat Buster terikat, sementara anjingnya diletakkan di lantai peron. Buster tertarik melihat ada anjing di dekatnya, lalu diendus-endus. Anjing pudel kecil itu tahu-tahu mendengking ketakutan. Buster lari ke sebelah depan bangku. Tali penuntunnya melibat kaki wanita yang duduk disitu. Wanita itu menjerit. Dengan cepat ia menyambar anjingnya yang bernama Poppet. Rupanya takut kalau digigit oleh Buster.

      Suasana bertambah ribut, karena tepat saat itu ada kereta masuk. Bunyinya yang berisik menyebabkan Poppet ketakutan setengah mati. Anjing manja itu meronta sehingga terlepas dari pegangan tuannya, lalu cepat-cepat lari. Buster berusaha mengejar. Tak diingatnya bahwa ia terikat tali penuntun ke bangku. sehingga nyaris saja lehernya terjerat. Buster menabrak kaki wanita pemilik Poppet. Wanita itu jatuh terguling. Ia berteriak, terpekik jerit,

     "Aduh, tolong tangkapkan Poppet! Iiih, kenapa sih anjing ini? Ayo, pergi - Anjing jahat!"

     Keadaan menjadi kacau balau. Aak-anak bergegas lari, berusaha menangkapkan Poppet. Pip buru-buru kembali, karena melihat Buster dijadikan bola tendang oleh wanita yang berteriak-teriak karena takut dan sekaligus juga marah-marah.

     "Anjing siapa ini?" teriaknya dengan suara melengking tinggi. "Kenapa di ikat di bawah bangku? Mana polisi? Mana anjingku?"

     "Sudahlah, Gloria - tenang sajalah," kata laki-laki yang bernama Bill. Saat itu tak seorang pun sempat memperhatikan kereta api yang baru saja masuk. Pip serta ketiga anak lainnya juga tidak. Mereka terlalu sibuk dengan Buster - serta Poppet yang malang, yang begitu ketakutan!

     Karenanya mereka tidak melihat Fatty turun dari kereta bersama orang tuanya. Fatty nampak sehat sekali. Montok, dengan kulit coklat kemerahan karena banyak disinari matahari. dengan segera ia sudah melihat keempat temannya yang ada di situ. Ia heran melihat melihat mereka begitu sibuk, sehingga sama sekali tidak memandang ke arah kereta untuk mencarinya!

     "Ayah dan Ibu sajalah yang pulang naik taksi," kata Fatty. "Aku berjalan kaki, bersama teman-teman. Itu mereka!"

     Ia menghampiri Pip yang sedang sibuk berusaha meminta maaf pada wanita yang marah-marah, dan juga pada suami wanita itu. Tangan Pip mencengkeram kalung leher Buster yang menggeliat-geliat hendak membebaskan diri. Anjing bandel itu menggonggong - lalu meronta sehingga pegangan Pip terlepas.

     "Nah - ternyata ada juga yang masih kenal padaku!" kata Fatty. "Halo, Buster!"

     Keempat temannya berpaling dengan cepat. Bets lari menghampiri Fatty lalu merangkulnya dengan gembira. Nyaris saja Fatty terguling karena gerak Bets yang begitu bersemangat.

     "Kau sudah datang, Fatty!"

     "Begitulah kelihatannya!" kata Fatty. Setelah itu menyusul kesibuk pukul-memukul bahu dan punggung, sebagai pengganti ucapan selamat berjumpa kembali. Buster begitu bersemangat melihat tuannya lagi. Ia menggonggong-gonggong. Bunyinya berisik sekali. Ia menggaruk-garuk kaki Fatty, sehingga anak itu terpaksa menggendongnya.

     "Anjing siapa itu?" tanya suami wanita yang masih marah-marah itu. "Belum pernah aku melihat anjing yang begitu tidak tahu adat! Menubruk istriku sampai terjatuh, sehingga mantelnya kotor. Nah - itu ada polisi datang! Coba kemari sebentar, Pak! Saya ingin melaporkan anjing ini. Ia tadi liar sekali - menyerang pudel istri saya, serta menyebabkan istri saya jatuh terguling!"

     Anak-anak kaget sekali, karena tidak menyangka bahwa Pak Goon akan ada di situ! Polisi desa itu kebetulan mampir karena hendak membeli surat kabar. Ia masuk ke emperan, ketika mendengar suara ribut di situ. Ia langsung datang menghampiri. Matanya yang melotot berkilat-kilat. Nampak sekali bahwa ia merasa senang.

     "Anjing ini tadi menyerang, kata Anda? Sebentar, akan kucatat! Ya - anjing ini memang sudah lama merupakan gangguan terhadap ketertibaban \ ya, ya, sudah sejak lama!"

     Pak Goon mengeluarkan buku catatan, lalu menjilat ujung pensilnya. Ia benar-benar mujur saat itu - ada yang mengadukan anjing Fatty yang menyebalkan!

     Kereta api berangkat lagi. Tapi tidak ada yang memperhatikan. Semua asyik menonton anak-anak, yang sedang dikerumuni orang dewasa. Buster langsung meronta dari pelukan Fatty begitu ia melihat Pak Goon datang menghampiri, lalu berlari sambil meloncat-loncat mengelilingi kaki polisi desa itu. Pak Goon mengibas-ngibaskan buku catatannya untuk mengusirnya.

      "Panggil anjing ini - suruh dia pergi! He, suruh dia pergi, kataku! Ia benar-benar akan kulaporkan. Akan..."

      Tahu-tahu wanita istri laki-laki yang bernama Bill itu terpekik dengan gembira,

     "Ah - itu Poppet sudah kembali, dengan Larkin. Kusangka kau takkan bisa datang pada waktunya untuk membawa Poppet pulang, Larkin!"

     Orang yang bernama Larkin itu berbadan gemuk. Jalannya membungkuk dan agak terpincang-pincang. Kakinya yang satu agak menyeret. Ia memakai mantel besar yang sudah usang. Lehernya terbungkus syal yang menutupi bagian bawah mukanya, sedang kepalanya tertutup topi pet yang juga sudah tua. Ia datang menghampiri, sambil menggendong Poppet.

     "Siapa ini?" tanya Pak Goon. Ia tercengang melihat laki-laki berpotongan aneh, yang tahu-tahu muncul dengan seekor anjing kecil dalam gendongan.

     "Oh, dia ini Larkin, yang tinggal di pondok yang ada di pekarangan Tally-Ho, rumah yang kami sewa di sini," kata wanita pemilik Poppet. "Ia tadi kami suruh menyusul untuk menjemput Poppet dan membawanya pulang ke  rumah. Ia yang akan mengurus Poppet selama kami tidak ada - tapi aku ingin terus ditemani anjing manisku ini sampai saat terakhir - ya kan, Poppet sayang?"

     Wanita itu mengambil anjing pudel mungil itu lalu mencumbunya sebentar. Setelah itu ia berbicara pada Larkin,

     "Anda akan merawatnya dengan baik-baik, kan? Jangan lupa segala yang sudah kukatakan. Tak lama lagi aku akan kembali untuk menjenguknya. Nih - bawa dia, sebelum kereta kami masuk. Nanti ia ketakutan lagi."

     Larkin pergi dengan langkah terpincang-pincang. Selama itu ia sama sekali tidak berbicara. Poppet tadi diserahkan padanya dengan hati-hati, seperti boneka. Kini anjing kecil penakut itu dibawa pergi, terselubung dalam mantel laki-laki gemuk itu. 

     Pak Goon mulai tidak sabar. Ia masih memegang buku catatannya. Anak-anak mencari-cari kesempatan lari meninggalkan tempat itu. Tapi kesempatan itu tidak ada, karena Pak Goon memperhatikan mereka terus dengan waspada.

     "Mengenai anjing ini, Bu," kata polisi desa itu. "Bolehkah saya mengetahui nama dan alamat Anda, begitu pula..."

     "Nah, itu dia kereta kita!" seru wanita yang diajaknya bicara. Seketika itu juga orang ramai bergerak maju ke tepi peron. Pak Goon terdorong-dorong, sementara orang-orang sibuk bersalaman mengucapkan selamat jalan, selamat tinggal, dan entah selamat apa lagi. Kemudian laki-laki yang bernama Bill mengajak istrinya naik ke kereta, yang sesaat kemudian berangkat ke luar dari stasiun, diiringi lambaian tangan orang-orang yang mengantar.

     "Hahh!" dengus Pak Goon kesal. Ia menutup kembali buku catatannya, lalu menoleh ke arah Buster serta anak-anak tadi. Mata Pak Goon yang sudah melotot semakin terbelalak - karena yang dicari ternyata tidak ada lagi di situ!


               THE MYSTERY OF TALLY-HO COTTAGE
                                         by Enid Blyton
                    Copyright C Darrell Waters Ltd 1954
               First published by Methuen Children's books
                                    All rights reserved

                           MISTERI DI TALLY-HO
                           Alihbahasa: Agus Setiadi
                                       GM 84.108
                     Hak cipta terjemahan Indonesia
                             PT Gramedia, Jakarta
               Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
                        Diterbitkan pertama kali oleh
                  Penerbit PT Gramedia, Jakarta 1984
                                  Anggota IKAPI




                                Dicetak oleh 
                     Percetakan PT Gramedia
                                   Jakarta

Minggu, 12 Agustus 2012

PERTOBATAN BAGI TEROBOSAN

                                                          Oleh: Asmadi Kurniawan    


   "Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel ..." (Yeremia 31:31). Pertobatan dengan jalan memperbaharui perjanjian kita dengan Tuhan.

     Umat Israel telah kembali dari pembuangan Babilonia. Bait Allah telah selesai di bangun, dan telah didedikasikan. Mereka telah merayakan Paskah di Bait Allah yang baru saja dibangun kembali. Orang-orang Lewi dan imam-imam telah dikuduskan dan diatur sesuai bagian mereka masing-masing di mana mereka telah dimampukan untuk melayani di Bait Allah sesuai peraturan yang berlaku. Tidak sampai dari 8 tahun kemudian, saat tembok dibangun kembali di bawah perintah Nehemia, orang Israel sekali lagi mulai membawa perpuluhan dan buah sulung mereka ke rumah Tuhan.

     Di pasal ini, semua umat bersama-sama berkumpul untuk mendengarkan kitab peraturan dibacakan. Dari pagi sampai siang, Ezra dan orang Lewi membaca dan mengajarkan peraturan kepada mereka. Saat mendengarkan bagaimana mereka telah tidak menaati perintah Tuhan, mereka menangis. Mereka dengan terbuka mengenali kasih karunia Tuhan, mengaku dan bertobat dari dosa-dosa mereka, serta merendahkan dan menyerahkan diri mereka kepada kebenaran Tuhan yang telah menurunkan penghakiman ke atas mereka karena ketidaktaatan mereka. Mereka tidak mencoba melakukan pembelaan atau membenarkan tindakan-tindakan mereka; mereka BERTOBAT.

     Hari pertobatan itu diakhiri dengan memperbaharui perjanjian mereka dengan Tuhan. Mereka bersama-sama berkumpul, menyatukan diri kepada Dia dengan sebuah sumpah dan memeteraikannya. Beberapa hal ini adalah perjanjian mereka dengan Tuhan:

     1. Atas kerelaan mereka sendiri, mereka berjanji memberikan 1/3 syikal setiap tahun untuk pengeluaran-pengeluaran rumah Tuhan (Nehemia 10:32-33).

     2. Mereka telah setuju untuk setiap tahun membawa buah sulung dari tanah dan pohon mereka bagi rumah Tuhan (Nehemia 10:35-37).

     3. Mereka telah setuju membawa yang sulung dari anak, lembu, dan semua kumpulan ternak dan domba mereka ke rumah Tuhan, kepada imam (Nehemia 10:36).

     4. Mereka telah berjanji membawa perpuluhan dari seluruh hasil panen mereka. Seorang imam akan menyertai orang Lewi saat mereka menerima perpuluhan, dan orang Lewi membawa sepersepuluh dari perpuluhan itu ke bilik-bilik rumah perbendaharaan di dalam rumah Tuhan (Nehemia 10:37-38).

          "... umatku, ...merendahkan diri ... berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14).

          Kehendak bagi kita adalah penyediaan total!

     "Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami" (Nehemia 10:39). Saat ini kita memiliki perintah, tantangan, janji yang sama tentang perpuluhan seperti yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel. Kita adalah Israel rohani (Roma 2:28-29).KehendakNya bagi kita adalah penyediaan total! kemakmuran! Suplai yang terus menerus! Kelimpahan!

     Gereja saat ini, secara keseluruhan, sedang hidup di bawah sorga yang tertutup! Mayoritas orang Kristen tidak melihat manifestasi kelimpahan yang dijanjikan Tuhan. Adalah kehendak Tuhan bahwa tubuh Kristus memiliki semua keuangan yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah diberikanNya kepada kita, menginjili dunia. Dia telah membuat penyediaan bagi hal itu melalui hubungan perjanjian kita dengan Dia.

     Mengapa kita tidak berjalan dalam kelimpahan yang telah disediakan Tuhan bagi kita? Karena "rumah Allah" terbengkalai!

     "Rumah Tuhan" ... pekerjaan Tuhan diseluruh dunia ... "terbengkalai" selagi orang Kristen lebih memperhatikan kebutuhan dan kerinduan mereka sendiri. Sementara jutaan orang mati tanpa Tuhan, orang Kristen duduk di rumah mereka yang nyaman dan menikmati kesenangan hidup. Kita sedang hidup di masa penuaian akhir zaman Tuhan, dan Tuhan telah merencanakan untuk memakai gereja ... Anda dan saya ... menyebarkan Injil ke seluruh penjuru dunia sebelum kedatangan Yesus.

     Meskipun "rumah Tuhan" dalam keadaan hancur, tetapi kita membuat alasan dengan berkata, "Waktunya belum tiba untuk rumah Tuhan dibangun."

     Mayoritas besar orang Kristen hari ini menaruh kebutuhan-kebutuhan keluarga mereka lebih utama daripada pekerjaan Tuhan. Seperti bangsa Israel, mereka begitu sibuk membangun rumah-rumah mereka sendiri, memperlengkapinya dengan perabot-perabot terbaik yang dapat dibeli. Sebelum tubuh Kristus dapat masuk ke dalam masa restorasi di mana Tuhan membuka pintu-pintu langit dan berkatNya benar-benar mengejar kita, kita harus  terlebih dahulu datang ke tempat pertobatan.

          "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, ... dan ujilah Aku, ... apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit ..." (Maleakhi 3:10).  

          Tuhan akan mengusir belalang pelahap bagi kepentingan Anda.

     Kita harus bersedia merendahkan diri kita di hadapan Tuhan, seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel. Seluruh tubuh Kristus perlu merendahkan diri mereka. Kita perlu mengangkat wajah kita di hadapan Tuhan dan mengakui bahwa kita telah menelantarkan "rumah Tuhan" ... pekerjaan Tuhan di seluruh dunia. Hari ini, saat tubuh Kristus mendengarkan firman Tuhan diperkatakan melalui nabiNya dan bertindak di atasnya ... melalui mempersembahkan perpuluhan dan persembahan kepada Tuhan sesuai petunjuk yang telah ditetapkanNya di dalam firmanNya ... janji-janjiNya tentang berkat dan kemakmuran akan dilepaskan. Pintu sorga akan terbuka, dan Tuhan akan membuat "kekayaan bangsa-bangsa" mengalir ke dalam tubuh Kristus. Pekerjaan Tuhan akan subur dan berkembang, dan TIDAK AKAN ADA KEKURANGAN DI RUMAH TUHAN. Dalam kehidupan Anda sendiri, itu mungkin yang Anda rasakan saat Anda hidup di bawah pintu sorga yang TERTUTUP. Tidak peduli apa pun yang telah Anda lakukan, kelihatannya Anda tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Anda. Itu karena Anda tidak mengalami janji-janji Tuhan tentang berkat dan kemakmuran di dalam hidup Anda.

     1. Sadarilah cara Anda. Evaluasi ulang motivasi dan metode dalam memberi. Tentukan apakah itu sesuai dengan firman Tuhan.

     2. Bertobat. Mintalah Tuhan mengampuni Anda karena mengabaikan rumah Tuhan dan menomorsatukan kebutuhan Anda.

     3. Disucikan. Jika Anda tidak memberi sesuai dengan firman Tuhan, atau hanya memberi bukan yang terbaik kepada Tuhan, mintalah Tuhan untuk menyucikan Anda. Lalu, dedikasikan kembali perpuluhan dan persembahan Anda kepada Tuhan.

     4. Buatlah komitmen yang baru. Tempatkan Dia menjadi yang terutama, dan berikanlah kepadaNya yang  terbaik yang Anda miliki. Tetaplah untuk setia dan konsisten dalam memberi perpuluhan Anda ke dalam rumah perbendaharaan ... untuk membiayai pekerjaan Tuhan di seluruh dunia.

     Saat Anda melakukan langkah-langkah ini, BERSIAPLAH! Tuhan akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat-berkatNya yang melimpah sehingga tidak ada lagi ruangan yang cukup untuk menerimanya! Dia akan MENGUSIR belalang pelahap bagi kepentingan Anda, dan Anda akan berjalan di dalam hubungan penjanjian dengan Dia di mana Anda hidup di dalam siklus penyediaan supranaturalNya.

Jumat, 10 Agustus 2012

PELAYAN TUHAN: Melayani Jiwa-Jiwa

Oleh: Asmadi Kurniawan


"Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." Lukas 15:10.

"Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran." Kolose 3:12.

     Adalah sukacita besar jika saat ini kita dipercaya untuk terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Melayani Tuhan berarti memberikan yang terbaik bagi Tuhan: hidup, waktu, tenaga dan apa pun yang kita miliki kita persembahkan untuk Dia. Melayani Tuhan berarti melayani jiwa-jiwa, membawa jiwa-jiwa mendekat kepada Tuhan sehingga mereka memiliki pengenalan yang benar akan Dia. Sungguh, tidak ada sukacita yang lebih besar daripada sukacita dalam melayani jiwa-jiwa.

     Ayat nas di atas jelas menyatakan bahwa ada sukacita besar di surga bila ada satu orang berdosa bertobat dan diselamatkan. Alangkah berbahagianya jika kita menjadi bagian dari orang-orang yang dapat membawa jiwa-jiwa itu kepada Tuhan. Oleh karena itu kita yang sudah terlibat dalam pelayanan harus benar-benar memiliki kepedulian terhadap orang lain, terlebih lagi terhadap saudara seiman atau jemaat Tuhan. Apa itu jemaat Tuhan? Adalah kumpulan atau persekutuan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, atau disebut juga anggota gereja. Sebagaimana tubuh mempunyai banyak macam anggota seperti mata, hidung, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya, begitu pula gereja Tuhan memiliki banyak anggota. Dikatakan, "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya." (1 Korintus 12:27). Sebagai pelayan Tuhan kita memiliki tugas dan kewajiban untuk memperhatikan mereka; ada yang bertugas menabur, ada pula yang berkewajiban untuk menyiram. Apa yang kita tabur? Benih yang hidup, yaitu firman Tuhan. Namun, "...yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri." (1 Korintus 3:7-8).

     Jadi, jika kita melihat anggota jemaat Tuhan dapat bertumbuh dan makin dewasa rohaninya, itu bukanlah hasil kepintaran atau jasa kita. Apa pun alasannya, kita tidak punya hak untuk bermegah atau menyombongkan diri! Ingat! Kita ini hanyalah 'pelayannya' saja, dan Tuhan sendirilah yang berkarya melalui pekerjaan Roh Kudus. Tugas kita adalah melayani jiwa-jiwa lebih giat dan semakin giat lagi!

     Kepada jemaat Tuhan di Kolose rasul Paulus menasehatkan agar dalam melayani jiwa-jiwa kita melakukannya dengan sukacita, bukan karena terpaksa; dan juga "...kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran." Jika kita melayani jiwa-jiwa dengan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, kita tidak akan pernah merasa lelah, kecewa, putus asa dan sakit hati ketika kita dikecewakan atau ditolak saat melayani. Sebaliknya kita akan tetap semangat dalam melayani, apa pun keadaannya; tidak akan menahan mulut kita untuk bersaksi dan memberitakan Injil serta mengajar firman kepada orang lain.

     Timotius berkata demikian, "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (2 Timotius 4:2). Mungkin kita berkata, "Apa saya mampu?" Perhatikan! "...Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita..." (2 Timotius 1:7-8). Di dalam kita ada Roh Kudus; Dialah yang mendorong dan memampukan kita untuk menginjil. Setiap anggota jemaat sangat membutuhkan bimbingan dan pemeliharaan seperti anak-anak yang perlu mendapat pemeliharaan, mulai dari masa bayinya sampai kepada masa dewasa. Terhadap jemaat yang rohaninya masih 'bayi' kita harus memberi mereka 'susu', dan bilamana mereka sudah bertambah besar kita pun harus memberikan mereka 'makanan yang keras'. Tertulis: "Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindra yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat."(Ibrani 5:13-14).

     Itu adalah tanggung jawab kita para pelayan Tuhan: memelihara mereka dengan firmanNya dan menyatakan perbuatan kasih yang hangat sebagai pengikat kita satu sama lain.

     Kasih Kristus itulah yang mendorong kita dalam segala pelayanan dan pengorbanan kita, karena tiap-tiap jemaat berhak mendapatkan pemeliharaan rohani yang sama.

Kamis, 09 Agustus 2012

PERTARUNGAN ANTARA DUA SIFAT DASAR

                                                                  Oleh: Asmadi Kurniawan                                                  
   


  "Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?" (Yak 4:1). Pesan Yakobus ini tidak dialamatkan kepada orang-orang yang belum percaya. Ia berbicara kepada orang Kristen yang sudah dibasuh oleh Darah dan penuh dengan Roh Kudus. Ada pertarungan yang sedang berlangsung di dalam kita, namun itu adalah pertarungan yang dapat kita menangkan, melalui kasih karunia Allah.

     "Jika demikian halnya, mengapa aku seperti ini?" (Kej 25:22-23). Ini adalah pertanyaan kuno. Tuhan, mengapa aku seperti ini? Mengapa aku merasa seperti ini? Apa yang salah dengan diriku? Ribka di dalam perjanjian lama mengalami pergumulan seperti ini di dalam dirinya. Untuk menemukan jawaban-jawaban yang ia perlukan, ia tidak mendatangi psikiater melainkan bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, mengapa aku seperti ini?" Allah menjawabnya, "Dua bangsa ada dalam kandunganmu ...." Jawaban ini memiliki makna yang besar karena melambangkan pergumulan antara kedagingan dengan roh di dalam kita. (Tentunya, ada sepasang anak kembar di dalam kandungannya - Esau melambangkan orang yang duniawi, dan Yakub melambangkan orang yang rohani), tetapi penerapan dan maknanya merupakan suatu perumpamaan yang luar biasa bagi setiap kita.

     Orang-orang percaya di Korintus, walaupun sudah lahir baru, dipenuhi Roh Kudus, disucikan, dan memiliki semua karunia Roh Kudus, mempunyai beberapa pergumulan yang sengit dengan kedagingan. Paulus menyebut mereka manusia duniawi. Mereka diganggu oleh iri hati dan perselisihan, dan bahkan beberapa di antara mereka ada yang jatuh kembali kepada amoralitas dan kemabukan. Bagaimana mungkin orang-orang percaya yang didiami oleh Kristus berlaku demikian rupa?  

               Kita Memiliki Suatu Sifat Dasar Dosa
                       (1 Yoh 1:8) vs. (1Yoh 3:9)

    *  I Yohanes 1:8 "Jikalau kita berkata, bahwa kita tidak berdosa (memiliki sifat dasar dosa), maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Firman Tuhan menyatakan bahwa kita mempunyai suatu sifat dosa, dan harus mengakui bahwa kita memilikinya (Yer 17:9, Yes 6:5, Rm 7:24, 1 Yoh 1:9).

    *  I Yohanes 3:9 "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah ".Kristus yang ada di dalam kita tidak dapat berbuat dosa. Ia adalah benih kudus yang ada di dalam kita, dan Ia tidak dapat berbuat dosa (1 Ptr 1:23). Namun tentu saja kadang-kadang kita berbuat dosa. Kalau begitu darimanakah dosa ini datang? Dosa ini datang dari suatu sifat lama yang sudah ada sejak kita dilahirkan.

    Paulus, penafsir perjanjian yang baru mengatakan, "Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu (sifat lama) ada padaku"; dan bahwa "bukan aku lagi yang membuatnya, tetapi dosa yang ada dalam aku" (Rm 7:17, 20-23). Paulus menjelaskan bahwa masih ada suatu sifat dosa yang menetap di dalam anggota-anggota tubuh kita (1 Kor 9:27; 2 Kor 12:7).

     Yesus Kristus mempunyai dua sifat. Ia adalah Anak Manusia. Tubuhnya terbentuk dari darah dan daging Maria, yang merupakan keturunan ras Adam. Ia berasal dari benih Daud, keturunan Abraham. Karena itu tubuh-Nya diciptakan persis seperti tubuh kita. Yesus diciptakan dalam rupa manusia berdosa (Rm 8:3), dan dicobai di dalam segala pencobaan yang kita alami (Ibr 2:14-18; 4:15). Tetapi Ia tidak pernah menyerah kalah terhadapnya! Yesus adalah Anak Allah dahulu maupun sekarang. Roh dan jiwa-Nya kekal. Ia telah datang dari surga untuk tinggal di dalam tubuh yang bersifat kedagingan. Sebagai seorang manusia yang tinggal dalam sebuah tubuh manusia yang bersifat kedagingan, Ia mengutuk dosa dalam daging dengan cara tidak pernah menyerah kalah kepada hawa nafsu kedagingan itu.

               Apakah Penyembuh atas Sifat Lama?
   
     Tatkala kita dilahirkan baru, Kristus masuk ke dalam kita dan kita mulai memiliki suatu sifat baru. Ia secara harfiah lahir di dalam diri kita sebagai benih (1 Ptr 1:23). Kristus rindu bertumbuh di dalam kita sampai Ia mencapai pertumbuhan yang sempurna di dalam kita (Gal 4:19). Namun bukankah benar bahwa sekalipun kita telah dilahirkan baru dan bahkan telah dipenuhi Roh Kudus, masih ada banyak pergumulan dengan kedagingan? (Kedagingan sifat lama, manusia lama dan manusia duniawi semuanya adalah istilah yang sama yang menggambarkan sifat dasar yang kita miliki sejak dilahirkan). Hal yang akan membereskan perkara kedagingan, sifat lama, dan manusia lama adalah ... pengalaman dari Roma 6:6. 

     Roma 6:6 adalah suatu pengalaman yang mutlak yang harus dipisahkan dari pengalaman lahir baru dan kepenuhan Roh Kudus. "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya (dibuat tidak berfungsi). "Kata tahu dalam bahasa Yunaninya berarti "suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman". Itu bukanlah suatu pengetahuan yang ada di kepala saja atau sesuatu yang saudara peroleh melalui iman. Itu adalah suatu pengalaman, suatu pewahyuan dari Allah. Dan Allah rindu untuk membawa setiap orang percaya ke dalam pengalaman ini. Sesuatu yang dramatis terjadi tatkala kita mengalami. Roma 6:6! Manusia lama (sifat lama) kita dibuat tidak berdaya. Ini mengandung pengertian bahwa sifat lama kita ditawan dan ditundukkan sehingga kita mampu menguasainya. Mengalami Roma 6:6 memberikan kepada kita kuasa untuk menentukan pilihan, baik untuk kekudusan maupun kedagingan.

     Bila saudara membandingkan semua ayat lainnya dengan ayat ini, pengalaman Roma 6:6 tidak mengandung konsep tentang penghapusan sifat lama kita. Sifat lama itu tetap ada, tetapi ditawan dan disalibkan, lalu menjadi semakin lemah dan semakin lemah tatkala kita menolak "memberi makan" atau melatihnya. Tetapi manusia baru kita (Kristus di dalam kita) akan semakin kuat bila kita "memberi makan" dan melatihnya. Bacalah analogi yang ditemukan di dalam 2 Samuel 3:1 - Saul (manusia duniawi) menjadi semakin lemah dan lemah; Tetapi Daud (manusia rohani) menjadi semakin kuat dan kuat. Bahkan setelah kita mengalami Roma 6:6 sekalipun, kekudusan masih merupakan suatu pilihan, suatu perjuangan. Kita harus menganggap sifat lama kita tidak berkuasa, kemudian menyerahkan tubuh kita kepada Allah. Kekudusan adalah suatu perjuangan, suatu pilihan (Rm 6:11, 13, 14). Sebelum mengalami Roma 6:6, kita hampir tidak memiliki pilihan, dalam arti dosa berkuasa atas kita dalam banyak cara. Pengalaman Roma 6:6 memberikan kuasa kepada kita untuk memilih kekudusan.

      * Pengalaman Roma 6:6 membuat manusia lama kita tersalib. Pengalaman itu menawannya. Tetapi janganlah kita melebih-lebihkan pengertian "mati atas dosa". Sifat lama kita tidak pernah dihapus atau berhenti keberadaannya selama hidup ini ada di dalam tubuh yang dapat binasa ini. Pada hari kebangkitan, kita akan menerima tubuh baru yang bersih dari sifat lama. Penyucian yang sempurna belum selesai sampai kita dibangkitkan dari kematian (Rm 8:23).


Katalog Dalam Terbitan:
Caram, Paul G.
     Kemenangan Atas keakuan /
Paul G. Caram;
alih bahasa, Yuliati Purnomo;
penyunting, Yuliati Purnomo
-- Jakarta: Nafiri Gabriel, 2003.
262 hlm; 14,5 X 21 cm

Judul asli: Victory Over the Self-Centered Life

Selasa, 07 Agustus 2012

Pada Mulanya

Oleh: Asmadi Kurniawan


Kejadian, 1 - 4

Dahulu kala, ketika belum ada matahari, bulan, bintang, dan lain-lain, Tuhan menciptakan dunia ini. Dia membuat matahari untuk menerangi siang hari. Dia membuat bulan dan bintang-bintang untuk menyinari malam yang gelap. Dan, Dia membuat langit, bumi dan laut.

     Tuhan juga membuat burung-burung yang beterbangan di langit, ikan-ikan yang berenang di lautan, dan bermacam-macam binatang yang hidup di darat. Ketika memandang semua yang diciptakan-Nya itu, Tuhan merasa senang. Semuanya begitu bagus. Sekarang dunia sudah siap untuk ditinggali. Yang terakhir, Tuhan menciptakan manusia, yaitu Adam dan Hawa.

     Tuhan meminta Adam dan hawa mengurus dunia yang baru diciptakan-Nya itu. mereka harus memelihara tanaman, pohon, burung, ikan, dan binatang yang hidup di darat. Tuhan juga menyediakan tempat tinggal yang indah bagi mereka. Di situ ada sungai-sungai dengan air yang sejuk, pohon-pohon rindang, dan bermacam-macam buah yang enak untuk dimakan. Tempat itu bernama Taman Eden.

      Adam dan hawa sangat bahagia. Tuhan hanya melarang mereka melakukan satu hal, yaitu makan buah dari sebuah pohon yang berada di Taman Eden. Adam dan Hawa menaati perintah Tuhan itu. Mereka hidup sebagai sahabat-sahabat Tuhan.

     Tetapi, ada yang ingin merusak dunia yang diciptakan Tuhan. Pada suatu hari, Hawa sedang berjalan melewati pohon itu. Tiba-tiba dia mendengar suara ular yang berdesis dengan lembut.
     
     "Hawa, lihatlah," kata ular itu, "Buah ini kelihatan segar dan manis, kan? Tidakkah kamu ingin mencicipinya? Makan saja. Kamu pasti jadi sama pintar dengan Tuhan."

     Hawa mendengarkan kata-kata ular itu. Ia memperhatikan buah itu dengan seksama.

     Hawa pun lupa pada larangan Tuhan. Ia ingin menuruti keinginannya sendiri.

     Segera Hawa mengulurkan tangannya dan memetik buah itu. Dia pun memakannya dan memberikannya juga kepada Adam.

     Sejak saat itu keadaan berubah sama sekali.

     Tuhan tahu apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa. Tidak ada seorang pun yang dapat menyembunyikan sesuatu dari Tuhan. Kini Adam dan Hawa bukan lagi sahabat-sahabat Tuhan. Tuhan menyuruh mereka pergi.

     Mereka meninggalkan Taman Eden, tempat di mana mereka dapat hidup senang, berjalan-jalan, dan bahkan bercakap-cakap dengan Tuhan. Seorang malaikat berdiri di situ untuk menjaga. Jangan sampai mereka kembali lagi ke sana.

     Sejak saat itu, mereka harus bekerja keras, sehingga badan mereka pegal karena capek. Mereka kini tahu bagaimana rasa sakit dan nyeri.

     Sesudah Adam dan Hawa meninggalkan Taman Eden, mereka mendapat dua anak laki-laki, yakni Kain dan Habel. Setelah besar, Kain menjadi petani yang bekerja di ladang dan bercocok tanam. Habel menjadi gembala dan memelihara kawanan domba ayahnya.

     Di musim panen, Kain mengambil sebagian dari hasil ladangnya untuk diberikan kepada Tuhan. Itulah cara Kain mengucapkan terima kasih. Habel juga mempersembahkan seekor domba kepada Tuhan.

     Habel adalah pemuda yang baik, sebab itu Tuhan senang dengan hadiah dari Habel. Lain halnya dengan Kain. Tuhan tahu bahwa Kain suka iri hati. Ketika Kain tahu bahwa Tuhan tidak senang menerima hadiahnya, dia menjadi iri hati pada Habel, bahkan membenci adiknya itu.

     Pada suatu hari, ketika keduanya ada di ladang, Kain membunuh Habel. Ia pikir, tidak ada yang melihatnya. Kain tidak tahu bahwa Tuhan melihat semua yang telah dilakukannya.

     Tuhan lalu menghukum Kain dengan mengusir dia dari rumahnya untuk selama-lamanya. dunia yang tadinya begitu indah sudah ternoda.


        Diterbitkan oleh:
Lembaga Alkitab Indonesia 
Anggota IKAPI No. 067/DKI/97
Jln. Salemba Raya 12, Jakarta 10430
Tel. (021) 3142890, Fax. (021) 3101061
e-mail: info@alkitab.or.id http://www.alkitab.or.id

Minggu, 05 Agustus 2012

Taat Kepada Kaisar?

 Oleh: Asmadi Kurniawan    



     Di tiap keluarga ada kaisar. Begitu juga di tiap sekolah, gereja, organisasi, perusahaan, desa dan negara. Yang dimaksud dengan kaisar di sini adalah seseorang yang memimpin. Kehadiran seorang kaisar memang dibutuhkan, sebab di mana ada sejumlah orang di situ perlu ada pemimpin.

     Seorang kaisar bisa mendatangkan berkat. Ia mempersatukan. Ia membela. Ia memciptakan kesejahteraan. Tetapi sebaliknya, seorang kaisar juga bisa mendatangkan bencana. Ia menimbulkan perpecahan. Ia masa bodoh. Ia cuma memikirkan kesejahteraan sendiri.
     
     Sering kali seorang kaisar bisa memberi jalan keluar dari persoalan. Tetapi, sering juga kaisar justru menjadi sumber persoalan. Apa sebabnya? Penyebabnya sering kali berkisar disekitar ketaatan. Ketika orang makin taat kepada kaisar, timbullah benih-benih persoalan. Ketika kita taat kepada kaisar, maka kaisar bisa menjadi jahat. Apakah itu berarti bahwa sikap taat adalah keliru? Baiklah kita lihat sebuah pola umum.

     Seseorang diangkat menjadi kaisar. Orangnya baik, terbuka untuk dikritik dan berjiwa demokratis. Tidak lama kemudian beberapa rekan dan pembantunya mulai bersikap ingin menyenangkan hati kaisar secara berlebihan, mungkin untuk mencari muka atau mungkin karena hutang budi atas kedudukan yang diberikan oleh kaisar. Kepala mereka terangguk-angguk terus jika berhadapan dengan kaisar. Mereka selalu menjawab ya, menyetujui dan menggaris-bawahi pendapat kaisar. Mereka merasa kurang sopan untuk berterus terang walaupun tahu bahwa pendapat kaisar kurang bijak. Mereka merasa sungkan untuk mengemukakan pendapat tandingan atau pendapat alternatif. Mereka taat saja. Lambat laun pola ketaatan ini mulai membudaya. Semua orang akhirnya hanya mengangguk-angguk.

     Lama kelamaan kaisar menjadi terbiasa dengan perlakuan demikian. Ia tidak lagi meminta masukan, sebab semua masukan hanya berupa dukungan dan persetujuan. Ia tidak lagi meminta pendapat, sebab segala keputusan tokh dipercayakan kepada kaisar. Akhirnya kaisar hanya mendiktekan pendapat dan semua orang mencatatnya sambil mengangguk-angguk. Maka, jadilah kaisar itu seorang diktator (Latin: dictatores = orang yang mendiktekan kehendak).

     Oleh karena sudah terbiasa pendapatnya selalu ditaati, pada suatu hari kaisar jadi gusar dan tersinggung ketika ada orang yang menentang pendapatnya. Orang itu dianggap menghina kaisar. Lalu kaisar menekan orang itu. Maka jadilah kaisar itu seorang despot (Yunani: despotes = yang dipertuan, penguasa yang kejam).

     Gelisahlah orang karena kaisar menjadi diktator dan despot. Tetapi, sebenarnya siapa yang mula-mula membuat kaisar menjadi seperti itu?

     Ketaatan yang semula tampak baik lambat-laun dapat berkembang menjadi ketaatan yang buta. ketika kaisar tidak pernah dibantah, ketaatan padanya berubah menjadi seperti ketaatan kepada Allah. Taat kepada kaisar menjadi seperti ibadah kepada kaisar.

     Di sinilah letak akar persoalannya. Secara lambat-laun dan tanpa disadari, ketaatan kepada kaisar dapat berubah menjadi ketaatan yang total dan kehilangan sikap kritis. Ketaatan seperti itu sama saja seperti ibadah kepada Allah.

     Orang pernah bertanya kepada Yesus seperti dicatat dalam Markus 12:13-17, apakah patut membayar pajak kepada kaisar. Tampaknya ini isu keuangan, namun ini sebenarnya isu ketaatan. Di Palestina pada waktu itu, pajak merupakan bentuk ketaatan kepada kaisar di Roma. Kelompok Zelot secara ekstrem menolak kaisar. Sebaliknya kelompok Saduki cenderung bersikap kooperatif. Sisanya yaitu kelompok Farisi dan kebanyakan orang bersikap taat karena terpaksa. Lalu orang bertanya kepada Yesus, "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?" (ay. 14).

     Menanggapi pertanyaan ini, Yesus meminta orang mengeluarkan sekeping uang logam dan bertanya, "Gambar dan tulisan (= nama) siapakah ini?" (ay. 16). Mereka menjawab, "Gambar dan tulisan Kaisar" (ay. 16). Memang di situ tertera gambar Tiberius dengan teks: Kaisar Tiberius Agustus, Putra Agustus yang ilahi. Lalu Yesus berkata, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" (ay. 17). Artinya: kaisar berhak menerima ketaatan sampai pada batas tertentu; sesudah batas itu ketaatan adalah hak Allah.

     Di sini tampak perbedaan asasi antara taat kepada kaisar dan taat kepada Allah. Kita patut menaati kaisar, namun bukan dengan ketaatan yang total, sebab hanya kepada Tuhan kita taat secara total. Kita menaati kaisar sejauh ketaatan itu sejalan dengan kehendak Tuhan. Rasul Petrus berkata, "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia" (Kis 5:29).

     Martin Niemoller, pakar teologi di Jerman, menghadapi dilema ketaatan kepada kaisar atau kepada Tuhan. Pada Perang Dunia I, Niemoller adalah perwira Angkatan Laut dan bertugas sebagai komandan kapal selam. Seusai perang ia masuk sekolah teologi dan menjadi pendeta di Berlin. Pada suatu hari ia "diimbau" oleh Hitler untuk menyingkirkan orang-orang keturunan Yahudi dari jajaran pimpinan gereja. Niemoller menolak. Hitler pun marah dan membentak, "Mana jiwa nasionalime kamu? Bukankah kita bangsa Jerman yang besar?" Niemoller menjawab, "Justru karena saya nasionalis, maka saya menghargai keberadaan orang Yahudi. Justru karena kita bangsa yang besar, maka kita melindungi bangsa yang kecil." Hitler berang dan Niemoller dicap pembangkang. Pada tahun 1937 Niemoller dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi. Niemoller menaati kaisar, namun ia menaati Kristus lebih dari menaati kaisar.



Oleh: Dr. Andar Ismail

Diterbitkan: PT BPK GUNUNG MULIA

Kamis, 02 Agustus 2012

Kalimantan, Sarang Kegelapan

Oleh: Asmadi Kurniawan

BAGI turis, Kalimantan adalah bumi khatulistiwa yang sangat mengesankan mereka, namun bagiku, merupakan bumi yang paling gelap yang kuketahui, setelah pulau Bali.
 
   Hampir di setiap rumah Tionghoa terdapat loya, tempat penyembahan orang Tionghoa, yang di Jawa sulit didapat. Tiap toko, tiap sudut rumah, ataupun di sudut-sudut jalan terdapat loya. Banyaknya berhala hampir tak terhitung dengan jari-jari tanganku. Aku sedikit bergidik ketika loya-loya semakin banyak kujumpai di desa-desa yang penduduknya sebagian orang Tionghoa.
 
  Namun di kampung-kampung Melayu atau pun kampung Madura lain lagi adatnya. Belum lagi kampung Dayak, dengan adat dan kebudayaan gelap lainnya. Apakah Allah membiarkan iblis bercokol di sini? pikirku. Baru memasuki pelayanan di Kalbar, sudah merasa gerah. Bukan karena udara yang memang panas, tetapi karena kuasa gelap yang terasa menyesakkan dada kami.
 
   Perasaanku belum menentu, aku belum menyadari peperangan yang bakal terjadi. Kami memasuki ladang pelayanan baru dan berusaha dapat menyesuaikan diri sehingga pelayanan dapat mulai digarap.
   
 Peperangan dengan kuasa kegelapan belum begitu terasa. Allah masih melatih kami agar mampu berperang. Tembakan kami juga belum tepat pada sasaran. Barangkali Allah menyadari, betapa kami terlalu santai.

    Allah perlu mendesak kami, agar kami bangun dari tidur, dan meninggalkan mimpi-mimpi indah. Terutama aku yang paling jauh tertinggal. Dalam pelayanan pribadi, aku sepertinya masih tertatih-tatih. Apalagi berkhotbah. Aku merasa kehilangan sesuatu yang dahulu pernah kumiliki. Mengapa aku tak bersemangat, seperti saat aku masih gadis? Mengapa aku kehilangan kuasa, yang saat itu seolah aku miliki? Aku seperti laskar penakut, loyo dan kaku. Aku lebih banyak ndompleng kegiatan suamiku daripada berdikari.
 
   Aku mulai bosan dengan caraku sendiri. Aku ingin menemukan penyebabnya, mengapa aku menjadi penakut. Aku takut berkhotbah, bersaksi atau memimpin renungan. Seolah-olah tak ada sesuatu memenuhi diriku yang dari Tuhan.
 
   Dalam pelayanan pribadi pun, aku sering tak yakin, bahwa aku mampu berdoa untuk orang yang kulayani. Malah terasa hambar dan kering. Aku harus mendapatkan jawaban sesegera mungkin. Aku mulai menyisihkan waktuku secara teratur bersama Tuhan. Aku mulai mengerti, kekeringan ini oleh karena persekutuanku dengan Allahku tidak teratur dan tidak bik. Aku lebih mengutamakan kesibukan baik kesibuk an rutin keluarga, kantor ataupun pelayanan. Sehingga aku tak ada waktu untuk berlutut di kaki Allahku. Kesadaran ini mulai timbul lebih nyata saat aku berkomunikasi lagi dengan Allahku. Aku dapat mendengar lagi sabda-Nya, baik dalam saat teduhku, dalam doa ataupun suara hatiku. Aku yakin Ia bersamaku saat aku berlutut. Gairah bersekutu dengan Allahku mulai timbul lagi.
 
  Dibutuhkan banyak orang untuk setia berdoa, agar kuasa Allah menjadi nyata sehingga banyak orang di Kalimantan bertobat.
 
   Kemarin rasanya begitu indah bersama pimpinan dan rekan-rekan terdekat. Pimpinan kami yang saat itu menghadiri wisuda pertama ATHI Anjungan, juga mendoakan hari ulang tahunku. Akan tetapi hari ini, seolah-olah petir menyambar tulang-tulangku, mobil suamiku terbalik, dan seorang teman misionaris dari Korea meninggal.
 
  Dalam benakku bermunculan tanda tanya yang tak terjawab. Tuhan, selidikilah kami, kalau ada jalan celaka di depan kami, demikian doaku. Sampai suamiku keluar dari rumah sakit, aku belum menemukan jawaban pertanyaan yang menyelinap di hatiku.
 
  Namun peperangan rohani mulai terasa, kami tidak berperang melawan manusia melainkan melawan penghulu-penghulu di udara.
 
  Aku mulai merenungkan kejadian ini lebih mendetail. Rencana kami membuka pelayanan lebih meluas hampir tercapai. Jangkauan pelayanan yang tengah kami gumuli tidak terbatas pada tembok gereja. Kami akan menghimpun orang-orang percaya lahir baru yang dapat kami layani agar mereka dapat membentuk persekutuan doa untuk menggempur pertahanan iblis.

    Gagasan ini direstui pimpinan kami, maka hari itu akan diadakan pertemuan khusus dengan gereja-gereja lain di Pontianak. Namun seolah-olah iblis berhasil mengocok tim, sehingga kecelakaan terjadi.

    Kami membuka diri dan menerima semua anggapan buruk yang dilemparkan kepada kami, terutama pada suamiku, sebagai keteledoran yang tidak bisa dimaafkan. Suamiku cukup terpukul dan tak bisa menghilangkan kesan buruk, bahkan tuduhan iblis kepadanya. Ia pasrah dan lumpuh secara rohani dan jasmani. Ia bahkan dicengkam putus asa, mengapa harus ada yang celaka karena kelalaiannya? Mengapa Tuhan tak menjawab doa kami? Padahal saat berangkat mereka sudah menyerahkan perjalanan itu kepada Tuhan. Bahkan suamiku sendiri berdoa jika Tuhan tidak menyertai jangan ia keluar dari tempat itu. Namun kecelakaan tidak bisa dihindarkan, dosa apa kiranya yang membuat dia teledor? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat menyiksanya, apalagi kalau ia mendengar suara langsung yang menyudutkannya.
 
   Aku tak mau diam, aku bahkan tak merasa bosan meminta petunjuk Allahku selama mendampingi suamiku di rumah sakit. Diam-diam aku menemukan jawaban yang pasti. Peperangan ini bukan peperangan daging, namun peperangan roh. Aku mulai berdoa serius.
   
   Setiap malam aku membaca Mazmur untuk menguatkan imanku. Dan semalaman karena rintihan suamiku, aku terus bersekutu dengan Tuhan. Malam kedua pengalaman ajaib kurasakan. Darah yang terlihat dalam air seni suamiku tidak membuktikan adanya kerusakan dalam yang seperti diduga oleh dokter. Dan pembengkakan dua hari telah menjadi kempis karena hasil doa dan olesan balsam pemberian teman yang datang berkunjung.
 
  Namun yang lebih hebat, ketika suamiku mulai bisa duduk, tiba-tiba ia memekik. "Dalam nama Yesus, pergi kau!" Aku terhenyak dan bertanya, apa yang terjadi?
 
  "Ah, dia datang menggangguku." jawabnya.

  Aku heran dengan jawabannya, siapa yang dimaksudkan. Setelah suamiku menjelaskan masalahnya, aku pun paham, rupanya ia mendapat serangan iblis. Malam itu aku tidak tidur lagi, aku terus berdoa, agar kemenangan Tuhan kami peroleh.
 
 Rupanya gangguan ini bukan saja untuk suamiku, tetapi juga dialami Nico, teman sekamar suamiku yang juga mendapat kecelakaan. Dan lebih celaka lagi, hari berikutnya, aku sendiri juga mendapat bagian, meskipun aku telah tidur di rumah. Serangan itu bertubi-tubi dengan penglihatan yang menjijikan. Aku semakin gencar berdoa kepada Allahku.
 
  Tuhan tidak membiarkan suamiku terlalu lama diam di rumah sakit. Setelah ia kuat, hari ke-8 boleh pulang. Masih banyak saudara yang mengunjungi kami ke rumah. Berbagai nasihat diberikan, agar patah tulang suamiku tidak membekaskan cacat yang lebih parah.
 
  Dalam waktu diam, Tuhan tegas berbicara kepada kami secara pribadi, agar kami hanya boleh meminta petunjuk Tuhan, dan kuasa kesembuhan hanya daripada-Nya. Oleh karena itu kami selalu menolak secara bijaksana rekan-rekan kami yang selalu memberikan nasihat pergi ke sinshe.

  Allah membuktikan kuasa-Nya, dua minggu kemudian suamiku sembuh benar, padahal diagnosa dokter sekitar 3 bulan baru tulang-tulang menjadi baik kembali. Allah berbuat lebih cepat dari para dokter.

 
   Kesan kecelakaan masih hangat di benak kami, meskipun telah lama lewat. Bulan-bulan naas itu telah kami lalui. Namun sore ini sekali lagi aku dikejutkan dengan berita yang dibawa seorang pemuda teman putraku yang pertama.
 
  "Apa lagi?" desisku, dengan perasaan kurang enak.

 "Ma, tinggal dulu, Papa mau lihat apa yang terjadi."

 "Apa sih yang terjadi?" tanyaku memburu, rasa tak puas dan ingin tahu jawaban teka-teki itu.
   
 "Yehuda kecelakaan, tapi tak usah panik." Kata-kata itu justru membuatku tak tenteram, rasa sakit perutku mulai kambuh. Apa artinya tak usah panik, padahal aku sungguh panik,

 Aku berdoa dalam hati, agar tak terjadi apa-apa. Malam itu sebenarnya kami akan melayani persekutuan doa. Bersama teman sepersekutuan kami mencari informasi lebih jelas tentang putraku. Kami mengejar sampai rumah sakit. Hasilnya putraku harus opname, karena gegar otak. Aku diam merenungkan semua peristiwa. Mengapa beruntun kejadian yang mengerikan seperti ini? Aku mulai memeriksa diri, benarkah kami telah membuat jalan salah di hadapan tuhan sehingga kami harus menerima hukuman-Nya? Kalau benar demikian, kami sangat bersyukur, karena kami ditegur langsung, kami menerima didikan Tuhan. Belum lagi menerima jawaban yang pasti, sore itu kami mendapat seorang tamu Majelis Gereja kami. Ia tampak cemas, dan menceritakan kepadaku anak tetangganya kesurupan roh jahat. Anak itu tidak lagi berbicara dan berbusana. Kaca-kaca jendela dipecahkan dan orang tuanya diguyur air. Tak ada orang yang berani mendekatinya, ia selalu mengancam menikam siapa saja yang mendekati dia.

 "Mereka sudah putus asa Bu, kasihan. Sudah kukatakan hanya Tuhan Yesus yang mengusir setan itu." ceritanya.
 
  Aku diam mendengarkan penjelasan bapak ini. Kebetulan suamiku baru saja istirahat, karena semalaman ia tidak bisa tidur menjaga putraku yang gegar otak terus-terusan muntah. Aku terus berpikir, bagaimana menolong bapak ini.
   
 "Bu, bisakah Bapak dan Ibu menolongnya, saya sudah berjanji akan membawa Pendeta ke rumahnya sore ini."
   
 "Keluarga ini orang Kristen, Pak?"
   
 "Tidak, Bu, dia Kong Hu Chu."
   
 "Bapak harus jelaskan dahulu, jalan keselamatan kepadanya. Jelaskan juga kepada keluarganya, kalau sudah didoakan secara Kristen, tak boleh panggil yang lain. Bapak mengerti, kan?"

 "Ya... ya, Bu, saya paham, tetapi saya tidak pandai menjelaskan seperti yang Ibu minta tadi."
 
 "Bapak bisa pakai bahasa Tionghoa, membacakan ayat firman Tuhan dari Yohanes 3:16. Bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, termasuk keluarga ini. Yesus mau menolong, tetapi mereka harus percaya, dan sedia dibimbing. Seluruh keluarga Pak."
   
 "Ya, saya akan sampaikan seperti yang Ibu anjurkan, tetapi ibu dan bapak nanti datang kan?"
 
  Aku bingung, apakah suamiku sanggup pergi dengan kondisi seperti itu? Melayani orang kerasukan harus dengan persiapan yang matang. Apakah ia tak menolak, aku khawatir kalau akumengiyakan, lalu suamiku menolak, bagaimana. Aku mengerti alasan suamiku seandainya ia menolak, karena memang kami tak ada persiapan khusus. Kalau saja gembala sidang ada di tempat, pastilah aku tidak terlalu pusing, pasti aku antar majelis ini ke rumahnya untuk minta pendapat beliau. Pikiranku sementara buntu.
   
 "Bagaimana Bu, saya mau pulang dulu, saya tunggu Ibu dan Bapak di rumah," kata majelis ini mengejutkanku.
   
 "Ya Pak, duluan saja, saya akan bangunkan suamiku, nanti kami menyusul Bapak," kataku tak tentu. Kalimat ini kuucapkan supaya ia tak kecewa. Aku terus berdoa dalam hati supaya Tuhan memecahkan masalah ini. Aku masuk ke kamar, ternyata suamiku telah mendengar pembicaraanku dengan majelis tadi.
   
 "Ada apa Ma?" tanyanya.
 
  "Tetangga Bapak ini kesurupan, ia telah berjanji akan membawa pendeta ke rumahnya."
 
  "Nah, bersiaplah, kita kesana," katanya sambil bangun dan masuk kamar mandi. Aku sedikit panik, aku harus pergi? Belum pernah aku melayani orang kesurupan. Aku sedikit berdebar, mampukah aku Tuhan? bisikku dalam hati. Apakah aku cukup berani menghadapi  pemuda ini? Aku mencoba membayangkan anak yang tengah kesurupan ini. Ya Tuhan, berilah aku keberanian dan kekuatan.
   
 Kami mengadakan persiapan doa singkat, menyerahkan pelayanan ini kepada Tuhan sepenuhnya. Sepanjang perjalanan ke rumah majelis ini aku terus komat-kamit berdoa, sedang suamiku seperti biasa memuji Tuhan dengan lagu penyembahan. Inilah adat yang tidak bisa hilang dari pasanganku ini. Rasanya ia begitu santai tidak seperti aku yang panas dingin. Sampai di rumah majelis, kami disambut dengan hangat.
   
 "Wah, dia tak mau berbusana Pak, baru saja mengamuk, mereka semua ketakutan."
 
  "Bapak sudah sampaikan pesan saya?" tanyaku menghilangkan rasa cemasku.
 
  "Ya sudah Bu, mereka sedia dilayani, tetapi pemuda itu telanjang."
 
  "Biar saja," kata suamiku.
   
 Suamiku mengajak majelis dan istrinya berdoa. Pada saat doa dinaikan tiba-tiba aku merasa seperti demam, tubuhku terasa panas. Apakah karena rasa takut menjalari perasaanku sehingga suhu tubuhku naik tinggi? Inilah pikiranku, namun ketika kuraba suhu kulit tubuhku tetap seperti semula, normal.
   
 "Ah... Tuhan, kuatkan aku, jangan Engkau permalukan hamba-Mu ini, aku yakin Engkau akan bekerja. Karena kami datang ke rumah itu untuk jiwa-jiwa yang Engkau kasihi," desisku dalam hati.
 
 Majelis yang mendahului kami kembali melaporkan, bahwa anak itu tak mau berpakaian dan mengancam akan membunuh siapa saja yang mendekati dia.
 
 "Katakan pada pemuda itu , suruh berpakaian, Pendeta mau datang." Majelis itu tersenyum untuk ucapan suamiku, seolah tidak yakin.
 
  "Pak, tadi sudah, tetapi dia mengancam Pak."
   
 "Bilang sama dia, Pendeta suruh." Majelis itu sedikit takut. Ia pergi lagi ke rumah pemuda itu. Lalu ia kembali.
 
  "Sudah Pak, dia mau berpakaian, tetapi tak mau duduk."
   
 "Bilang, Pendeta itu suruh duduk."
 
  Kembali majelis itu ke rumah depan menyampaikan perintah suamiku. Aku memang sedikit heran, ketika perintah kedua pun diikuti pemuda ini. Lalu kami datang ke rumah itu. Tampak seorang laki-laki muda yang tatapan matanya liar dan kosong. tengah dipegangi dua lelaki kekar saudaranya. Ayahnya menyambut kami dengan ramah. Rumahnya sempit, karena itu suamiku dan pemuda itu duduk berhadapan sangat dekat. Pemuda itu tak mau membuka mulutnya ketika Suamiku mencoba menanyakan namanya.
 
  "Sudah tiga hari ia begini Pak, tidak bisa bicara dan mengamuk terus," kata ayahnya menjelaskan.
 
  "Apakah sebelumnya ia bisu?"
 
  "Tidak Pak, dia begini setelah ia cari ilmu."
 
  "Bapak sudah minta pertolongan siapa saja?"
   
  "Semua sudah Pak, loya, dukun, orang pintar, juga Kyai, tetapi hasilnya semakin ganas Pak."
 
  Selama suamiku melayani, aku terus berdoa. Pemuda ini tidak berbuat apa-apa hanya gelisah setiap kali suamiku menyebut nama Yesus. Kami mengadakan doa penyembahan dan puji-pujian, lalu suamiku mengajak pemuda ini bicara. Pemuda ini tetap membungkam, sesekali ia menggaruk-garuk tubuhnya seperti kera, atau memutar-mutar kepalanya sedikit cepat. Kalau orang normal perlakuannya semacam ini dapat membuatnya pusing. Sedang kami yang melihatnya pun merasa pusing.
   
 "Dalam nama Yesus, kuperintahkan buka mulutmu!" perintah suamiku. Tiba-tiba pemuda ini melotot ke arah suamiku, tetapi ia tetap bungkam, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

 "Kaudengar, aku perintahkan buka mulutmu!" perintah suamiku lagi.
 
  "Siapa? Aku...?" tanya pemuda ini tiba-tiba.
   
  "Dalam nama Yesus, siapa kau ini?" tanya suamiku.
   
 "Namanya Aping Pak Pendeta," kata bapaknya. Suamiku menyuruh ayah anak ini diam dulu, ia ingin pemuda ini sendiri menjelaskan menjelaskan namanya.
 
  "Ya, aku Aping, Bapak ini siapa?"
 
  "Saya Pendeta," jawab suamiku.
   
  "Pendeta, Pendeta apa?" katanya pula sambil matanya meneliti wajah suamiku.
 
  "Pendeta Kristen," kata suamiku singkat.
 
  "Oh... ya, saya tahu, tetapi pendeta palsu apa benaran?"
   
  "Kaulihat apa?" kata suamiku lagi. Pemuda ini kembali meneliti suamiku dengan cara yang aneh.
 
  "Kok ... matanya bersinar ya, lho itu ada cahaya di matanya, coba buka kacamatanya, oh ... ya, Bapak Pendeta benaran, saya kenal Pendeta, Pendeta itu jujur ya, baik ya."
   
 Terjadi komunikasi antara suamiku dengan pemuda itu, setiap kali dibimbing berdoa untuk mengakui dosanya ia menolak. Ia katakan ia sudah suci, ia Kong Hu Chu, ia juga Islam, dll.
   
 Selama suamiku melayani pemuda ini, aku tak berhenti berdoa. Ada sikap yang aneh-aneh terjadi dan selalu kalau ia ditengking ia mulai memutar kepalanya sangat cepat dan menggaruk-garuk tubuhnya, lalu minta damai dengan suamiku. Dalam hatiku terdengar bisikan, jenis ini adalah jenis legion. Saat suamiku menengking dan memerintahkan dalam nama Yesus supaya ia mau mengikuti doa suamiku, ia marah dan mengancam suamiku akan melaporkan ke Gubernur karena memaksa orang lain beragama Kristen. Suamiku tidak menggubris ucapannya, tetapi terus beberapa kali mengusir roh yang ada dalam pemuda ini. Lalu pemuda ini tampak kecapaian ia minta minum dan mengatakan, di dalam dia ada pasukan yang cukup besar, temannya banyak. Sampai jam 22.00 kami melayani pemuda ini, masih juga ada roh jahat yang sisa, namun yang lain sudah keluar. Ayahnya pun tampak capai sehingga ia minta ijin agar pelayanan dihentikan dulu. Ada jimat yang ditaruh disaku yang belum dilepaskan. Namun kuasa Allah tak terbatas, setelah malam itu dilayani, seluruh keluarga jadi lega. Mereka bisa tidur tenang, demikian juga pemuda itu padahal tiga hari sebelumnya ia begitu ganas.
   
 Tetapi esok harinya datang pamannya memberikan air loya lagi kepadanya. Ia menolak, namun tetap dipaksa dan ayahnya pun menganjurkan supaya diminum. Spontan setelah gelas kosong, pemuda ini kembali liar, telanjang dan lari ke jalan raya.
   
 Kita lihat di sini, betapa jahatnya kuasa kegelapan memberikan kegelapan yang paling buruk kepada manusia. Akan tetapi Allah Yang Kasih adalah Allah pembebas. Majelis itu dengan tegas menegur keras ayah si pemuda yang meminta kembali agar anaknya ditolong. Dan majelis ini dengan kesal menolak.
   
 "Kalian sudah membuang anugerah Allah," katanya tegas.
     Syukur pemuda ini mempunyai nenek seorang yang telah menerima Kristus. Ia datang karena mendengar keadaan cucunya. Lalu ia dengan berani meminta agar cucu ini diserahkan kepadanya.
   
 "Kalau kalian terus seperti ini, anak ini akan binasa, beri aku kesempatan, ia cuma bisa sembuh dengan kuasa Yesus."
   
 Si nenek membawa pergi cucunya. Dan benarlah berkat doa si nenek, cucunya sembuh benar, ia normal seperti pemuda lain. Ia masih mengenali kami dan berterima kasih atas pertolongan kami.
   
 "Benar, tidak ada kuasa lain yang lebih hebat dari kuasa Yesus," inilah yang diucapkan dari bibir pemuda ini.
   
 Melalui pelayanan ini, aku bisa menimba beberapa hal yang indah. Iblis tak boleh diberi peluang dalam sikap hati ataupun sikap kompromi. Jelas kuasa kegelapan itu selalu berusaha menawan manusia dengan cara-cara yang licik. Namun orang percaya yang patuh dan beriman, dapat mematahkan pertahanan iblis.


Penulis: Ny. Es. E. Maukary


Penerbit: PT BPK GUNUNG MULIA

Rabu, 01 Agustus 2012

Tidakkah Kamu Baca Bahwa ...?


                                                                  Oleh: Asmadi Kurniawan

Kebanyakan buku dalam perjanjian baru yang sekarang kita punyai asal-usulnya adalah surat. Ya, surat biasa dengan nama si penerima, nama si pengirim, salam pembuka, isi (bisa pendek, bisa panjang) dan salam penutup. Surat itu dikirim oleh seorang rasul kepada gereja di suatu kota. Yang pertama muncul adalah surat kepada gereja di Tesalonika, pada tahun 50.
 
  Apa yang terjadi dengan surat itu? Tentunya surat itu dibaca dengan penuh rasa ingin tahu. Mula-mula oleh seorang penatua. Kemudian dibacakan dalam ibadah Minggu. Bayangkan perasaan umat yang mendengarkan: gembira menerima kabar dari jauh, terharu menerima penghiburan dan penguatan iman, terbisu menerima teguran, tertegun menerima pegangan atau penjelasan pandangan kristiani mengenai pelbagai persoalan hidup sehari-hari.
 
  Bisa jadi ada orang yang  ingin membaca sendiri surat itu lalu meminjamnya. Ada pula yang menyalinnya atau meminta jasa orang lain untuk memperbanyaknya. Karena belum ada mesin fotokopi, sebuah naskah diperbanyak dengan cara disalin. Mula-mula surat itu beredar hanya di satu kota. Lambat laun warga gereja di kota lain juga mendapat salinannya.
 
  Begitulah surat dibaca, diperbanyak disimpan, diedarkan, dipelajari dan direnungkan oleh umat. Mereka sangat menghargai bacaan itu. Agaknya surat Tesalonika ini merupakan satu-satunya bacaan rohani yang ada di samping tulisan-tulisan agama Yahudi. Baru pada tahun-tahun berikutnya satu demi satu muncul surat-surat Galatia, Filipi, Korintus dan Roma. Pada waktu itu Kitab Injil sama sekali belum ada. Kitab Injil yang pertama, yaitu Markus, baru selesai dikarang pada tahun 70. Injil Matius menyusul sekitar tahun 85.
 
  Dari awalnya gereja merupakan umat yang menghargai bacaan sebagai santapan rohani sehari-hari. Orang Kristen adalah orang yang suka membaca. Budaya baca adalah bagian dari hidup yang beribadah. Budaya ini adalah kelanjutan dari umat Yahudi. Berbeda dari agama-agama lain di sekitarnya pada zaman itu, Umat Yahudi adalah umatyang beribadah di sekitar buku. Sejak tahun 600sM umat Yahudi sudah memakai buku (mulai ditulis beberapa ratus tahun sebelumnya) yang menjadi kaedah hidup, yaitu Kitab Ulangan. sekitar 200 tahun kemudian menyusul Kitab Kejadian dan Keluaran. Antara tahun 400 dan 200 sM juga sebagian Mazmur dan beberapa karangan nabi. Karena kuatnya budaya baca, maka umat Yahudi (kemudian hari itu juga umat Kristen) dijuluki sebagai "umat berkitab" atau "orang-orang berbuku".

    Oleh karena itu, pada zaman Yesus budaya baca sudah cukup meluas. Yesus membaca banyak buku dan berasumsi bahwa orang lain juga membaca. Setiap kali menghadapi orang yang belum tahu tentang suatu pokok Yesus bertanya dengan heran, "Tidakkah kamu baca bahwa ...?" (Mat 12:3, 5; 19:4; 22:31) atau "Belum pernahkah kamu baca ...?" (Mat 21:16, 42).
 
   Ratusan buku yang ditulis selama sepuluh abad sebelum zaman Yesus dan selama dua abad sesudahnya, kemudian hari dikumpulkan, dipilih dan disunting. Melalui pelbagai tahap penelaahan beberapa persidangan gereja pada tahun 400-an menyepakati untuk memilih 66 kitab sebagai kanon, yaitu daftar kitab-kitab yang dipakai sebagai ukuran, yang dibagi menjadi 39 buku dalam daftar perjanjian lama dan 27 dalam perjanjian baru. Beberapa kitab-kitab lain yang tidak termasuk dalam daftar itu tetap dimanfaatkan oleh gereja hingga sekarang.
 
   Yang lebih pelik dari penentuan kanon adalah penelitian naskahnya. Semua kitab yang hendak dihimpun menjadi Alkitab itu sudah tidak ada naskah aslinya. Yang ada hanya salinannya. Versi salinan itu tidak terhitung banyaknya dan sering berbeda satu sama lain. Belum lagi perbedaan versi terjemahan. Ada empat bahasa untuk naskah kitab-kitab Perjanjian Lama: Ibrani, Aram, Yunani dan Latin. Acuan utamanya adalah bahasa Ibrani, tetapi bahasa itu sangat sulit sebab tidak memakai hurup hidup. Misalnya, yang tertulis hanyalah bbk, lalu penyunting harus menerka apa ini babak, bebek, bibik, bobok atau bubuk.
 
   Jadi, Alkitab yang sekarang kita miliki telah melewati perjalanan yang berliku-liku. Dikarang oleh ratusan orang selama hampir dua belas abad. Tidak bisa terhitung banyaknya penyalin, penyunting dan penerjemah. Kalau kita melihat cikal bakal kitab-kitab itu kita akan tercengang: bentuknya gulungan, terbuat dari kulit kambing atau papirus, hurupnya aneh, belum ada pembagian bab dan ayat. Nomor-nomor ayat yang sekarang ada di Alkitab baru dibubuhkan pada tahun 1551 oleh Robert Etienne, seorang pencetak buku di Lyon, Perancis.
 
   Begitu banyak orang dari segala zaman telah berperan serta dan berjerih payah untuk mewariskan kata-kata yang hendak dipakai oleh Allah sebagai firman-Nya kepada kita. Kata-kata itu bisa berbicara kepada kita sebagai sapaan Allah kalau kita membacanya, yaitu membacanya dengan penuh rasa ingin tahu.

    Sungguh sayang sekali kalau apa yang sudah dikarang, disalin, disunting, diterjemahkan dan dicetak sebagai karya besar pimpinan Roh Tuhan ternyata jarang dibaca sehingga hanya sedikit saja yang kita ketahui isinya. Yesus akan heran dan bertanya kepada kita, "Tidakkah kamu baca bahwa ...?"



Penulis: Dr. Andar Ismail


Penerbit: PT BPK GUNUNG MULIA