Oleh: Asmadi Kurniawan
Kejadian, 1 - 4
Dahulu kala, ketika belum ada matahari, bulan, bintang, dan lain-lain, Tuhan menciptakan dunia ini. Dia membuat matahari untuk menerangi siang hari. Dia membuat bulan dan bintang-bintang untuk menyinari malam yang gelap. Dan, Dia membuat langit, bumi dan laut.
Tuhan juga membuat burung-burung yang beterbangan di langit, ikan-ikan yang berenang di lautan, dan bermacam-macam binatang yang hidup di darat. Ketika memandang semua yang diciptakan-Nya itu, Tuhan merasa senang. Semuanya begitu bagus. Sekarang dunia sudah siap untuk ditinggali. Yang terakhir, Tuhan menciptakan manusia, yaitu Adam dan Hawa.
Tuhan meminta Adam dan hawa mengurus dunia yang baru diciptakan-Nya itu. mereka harus memelihara tanaman, pohon, burung, ikan, dan binatang yang hidup di darat. Tuhan juga menyediakan tempat tinggal yang indah bagi mereka. Di situ ada sungai-sungai dengan air yang sejuk, pohon-pohon rindang, dan bermacam-macam buah yang enak untuk dimakan. Tempat itu bernama Taman Eden.
Adam dan hawa sangat bahagia. Tuhan hanya melarang mereka melakukan satu hal, yaitu makan buah dari sebuah pohon yang berada di Taman Eden. Adam dan Hawa menaati perintah Tuhan itu. Mereka hidup sebagai sahabat-sahabat Tuhan.
Tetapi, ada yang ingin merusak dunia yang diciptakan Tuhan. Pada suatu hari, Hawa sedang berjalan melewati pohon itu. Tiba-tiba dia mendengar suara ular yang berdesis dengan lembut.
"Hawa, lihatlah," kata ular itu, "Buah ini kelihatan segar dan manis, kan? Tidakkah kamu ingin mencicipinya? Makan saja. Kamu pasti jadi sama pintar dengan Tuhan."
Hawa mendengarkan kata-kata ular itu. Ia memperhatikan buah itu dengan seksama.
Hawa pun lupa pada larangan Tuhan. Ia ingin menuruti keinginannya sendiri.
Segera Hawa mengulurkan tangannya dan memetik buah itu. Dia pun memakannya dan memberikannya juga kepada Adam.
Sejak saat itu keadaan berubah sama sekali.
Tuhan tahu apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa. Tidak ada seorang pun yang dapat menyembunyikan sesuatu dari Tuhan. Kini Adam dan Hawa bukan lagi sahabat-sahabat Tuhan. Tuhan menyuruh mereka pergi.
Mereka meninggalkan Taman Eden, tempat di mana mereka dapat hidup senang, berjalan-jalan, dan bahkan bercakap-cakap dengan Tuhan. Seorang malaikat berdiri di situ untuk menjaga. Jangan sampai mereka kembali lagi ke sana.
Sejak saat itu, mereka harus bekerja keras, sehingga badan mereka pegal karena capek. Mereka kini tahu bagaimana rasa sakit dan nyeri.
Sesudah Adam dan Hawa meninggalkan Taman Eden, mereka mendapat dua anak laki-laki, yakni Kain dan Habel. Setelah besar, Kain menjadi petani yang bekerja di ladang dan bercocok tanam. Habel menjadi gembala dan memelihara kawanan domba ayahnya.
Di musim panen, Kain mengambil sebagian dari hasil ladangnya untuk diberikan kepada Tuhan. Itulah cara Kain mengucapkan terima kasih. Habel juga mempersembahkan seekor domba kepada Tuhan.
Habel adalah pemuda yang baik, sebab itu Tuhan senang dengan hadiah dari Habel. Lain halnya dengan Kain. Tuhan tahu bahwa Kain suka iri hati. Ketika Kain tahu bahwa Tuhan tidak senang menerima hadiahnya, dia menjadi iri hati pada Habel, bahkan membenci adiknya itu.
Pada suatu hari, ketika keduanya ada di ladang, Kain membunuh Habel. Ia pikir, tidak ada yang melihatnya. Kain tidak tahu bahwa Tuhan melihat semua yang telah dilakukannya.
Tuhan lalu menghukum Kain dengan mengusir dia dari rumahnya untuk selama-lamanya. dunia yang tadinya begitu indah sudah ternoda.
Diterbitkan oleh:
Lembaga Alkitab Indonesia
Anggota IKAPI No. 067/DKI/97
Jln. Salemba Raya 12, Jakarta 10430
Tel. (021) 3142890, Fax. (021) 3101061
e-mail: info@alkitab.or.id http://www.alkitab.or.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar