Rabu, 01 Agustus 2012
Tidakkah Kamu Baca Bahwa ...?
Oleh: Asmadi Kurniawan
Kebanyakan buku dalam perjanjian baru yang sekarang kita punyai asal-usulnya adalah surat. Ya, surat biasa dengan nama si penerima, nama si pengirim, salam pembuka, isi (bisa pendek, bisa panjang) dan salam penutup. Surat itu dikirim oleh seorang rasul kepada gereja di suatu kota. Yang pertama muncul adalah surat kepada gereja di Tesalonika, pada tahun 50.
Apa yang terjadi dengan surat itu? Tentunya surat itu dibaca dengan penuh rasa ingin tahu. Mula-mula oleh seorang penatua. Kemudian dibacakan dalam ibadah Minggu. Bayangkan perasaan umat yang mendengarkan: gembira menerima kabar dari jauh, terharu menerima penghiburan dan penguatan iman, terbisu menerima teguran, tertegun menerima pegangan atau penjelasan pandangan kristiani mengenai pelbagai persoalan hidup sehari-hari.
Bisa jadi ada orang yang ingin membaca sendiri surat itu lalu meminjamnya. Ada pula yang menyalinnya atau meminta jasa orang lain untuk memperbanyaknya. Karena belum ada mesin fotokopi, sebuah naskah diperbanyak dengan cara disalin. Mula-mula surat itu beredar hanya di satu kota. Lambat laun warga gereja di kota lain juga mendapat salinannya.
Begitulah surat dibaca, diperbanyak disimpan, diedarkan, dipelajari dan direnungkan oleh umat. Mereka sangat menghargai bacaan itu. Agaknya surat Tesalonika ini merupakan satu-satunya bacaan rohani yang ada di samping tulisan-tulisan agama Yahudi. Baru pada tahun-tahun berikutnya satu demi satu muncul surat-surat Galatia, Filipi, Korintus dan Roma. Pada waktu itu Kitab Injil sama sekali belum ada. Kitab Injil yang pertama, yaitu Markus, baru selesai dikarang pada tahun 70. Injil Matius menyusul sekitar tahun 85.
Dari awalnya gereja merupakan umat yang menghargai bacaan sebagai santapan rohani sehari-hari. Orang Kristen adalah orang yang suka membaca. Budaya baca adalah bagian dari hidup yang beribadah. Budaya ini adalah kelanjutan dari umat Yahudi. Berbeda dari agama-agama lain di sekitarnya pada zaman itu, Umat Yahudi adalah umatyang beribadah di sekitar buku. Sejak tahun 600sM umat Yahudi sudah memakai buku (mulai ditulis beberapa ratus tahun sebelumnya) yang menjadi kaedah hidup, yaitu Kitab Ulangan. sekitar 200 tahun kemudian menyusul Kitab Kejadian dan Keluaran. Antara tahun 400 dan 200 sM juga sebagian Mazmur dan beberapa karangan nabi. Karena kuatnya budaya baca, maka umat Yahudi (kemudian hari itu juga umat Kristen) dijuluki sebagai "umat berkitab" atau "orang-orang berbuku".
Oleh karena itu, pada zaman Yesus budaya baca sudah cukup meluas. Yesus membaca banyak buku dan berasumsi bahwa orang lain juga membaca. Setiap kali menghadapi orang yang belum tahu tentang suatu pokok Yesus bertanya dengan heran, "Tidakkah kamu baca bahwa ...?" (Mat 12:3, 5; 19:4; 22:31) atau "Belum pernahkah kamu baca ...?" (Mat 21:16, 42).
Ratusan buku yang ditulis selama sepuluh abad sebelum zaman Yesus dan selama dua abad sesudahnya, kemudian hari dikumpulkan, dipilih dan disunting. Melalui pelbagai tahap penelaahan beberapa persidangan gereja pada tahun 400-an menyepakati untuk memilih 66 kitab sebagai kanon, yaitu daftar kitab-kitab yang dipakai sebagai ukuran, yang dibagi menjadi 39 buku dalam daftar perjanjian lama dan 27 dalam perjanjian baru. Beberapa kitab-kitab lain yang tidak termasuk dalam daftar itu tetap dimanfaatkan oleh gereja hingga sekarang.
Yang lebih pelik dari penentuan kanon adalah penelitian naskahnya. Semua kitab yang hendak dihimpun menjadi Alkitab itu sudah tidak ada naskah aslinya. Yang ada hanya salinannya. Versi salinan itu tidak terhitung banyaknya dan sering berbeda satu sama lain. Belum lagi perbedaan versi terjemahan. Ada empat bahasa untuk naskah kitab-kitab Perjanjian Lama: Ibrani, Aram, Yunani dan Latin. Acuan utamanya adalah bahasa Ibrani, tetapi bahasa itu sangat sulit sebab tidak memakai hurup hidup. Misalnya, yang tertulis hanyalah bbk, lalu penyunting harus menerka apa ini babak, bebek, bibik, bobok atau bubuk.
Jadi, Alkitab yang sekarang kita miliki telah melewati perjalanan yang berliku-liku. Dikarang oleh ratusan orang selama hampir dua belas abad. Tidak bisa terhitung banyaknya penyalin, penyunting dan penerjemah. Kalau kita melihat cikal bakal kitab-kitab itu kita akan tercengang: bentuknya gulungan, terbuat dari kulit kambing atau papirus, hurupnya aneh, belum ada pembagian bab dan ayat. Nomor-nomor ayat yang sekarang ada di Alkitab baru dibubuhkan pada tahun 1551 oleh Robert Etienne, seorang pencetak buku di Lyon, Perancis.
Begitu banyak orang dari segala zaman telah berperan serta dan berjerih payah untuk mewariskan kata-kata yang hendak dipakai oleh Allah sebagai firman-Nya kepada kita. Kata-kata itu bisa berbicara kepada kita sebagai sapaan Allah kalau kita membacanya, yaitu membacanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Sungguh sayang sekali kalau apa yang sudah dikarang, disalin, disunting, diterjemahkan dan dicetak sebagai karya besar pimpinan Roh Tuhan ternyata jarang dibaca sehingga hanya sedikit saja yang kita ketahui isinya. Yesus akan heran dan bertanya kepada kita, "Tidakkah kamu baca bahwa ...?"
Penulis: Dr. Andar Ismail
Penerbit: PT BPK GUNUNG MULIA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar