Rabu, 05 September 2012

Menghancurkan Persembunyian Iblis

Oleh: Asmadi Kurniawan


RUPANYA Tuhan Yesus melibatkan aku agar mengikuti pelayanan suamiku untuk melatih imanku yang belum berkembang. Tentu kami berdua yang dipersiapkan menjadi hamba-Nya tidak pernah membayangkan bahwa iblis akan berhasil masuk dalam rumah tangga kami.

     Kami sadari contoh nyata dari kehidupan Imam Eli yang gagal, karena anak-anaknya Hofni dan Pinehas tidak menaati firman Allah dan bahkan dengan sengaja menyangkali firman Allah serta hidup dalam dosa. Kami sadar hamba-hamba Tuhan yang sibuk selalu akan dihantui penyakit ini. Apakah ini merupakan penyakit yang menular bagi kami hamba-hamba Tuhan?

     Kami berusaha mendidik anak-anak kami agar mereka berpaut dengan firman Tuhan. Dan kami berusaha menegur keras apabila mereka tidak menghormati firman Allah. Namun kami tidak tahu persis apakah taburan kami mendarat dalam hati mereka? Apakah mereka benar-benar menaati firman Tuhan?

     Sebagai ibu, aku lebih cepat mencium bau busuk yang kebanyakan dibawa anak laki-laki. Setiap kali mereka memutar lagu-lagu duniawi atau melihat film-film video kasar, membuat aku bergumul. Kapan mereka sadar dan bertobat? Untuk itu, secara rutin, aku dan suamiku setiap hari mengambil waktu teduh khusus mendoakan putra-putri kami.

     Hari ini putraku pertama pulang agak awal, mengeluh pusing kepala. Ia minta obat pusing, tetapi pusing rupanya berkembang menjadi demam tinggi, sepertinya anakku terserang influensa. Oleh karena demamnya agak serius, kami konsul ke dokter kenalan kami. Dan ia memberikan obat untuk Yehuda. Empat hari ia meringkuk di kamar karena demam tersebut. Namun anehnya ia yang sudah kuanggap sebagai pemuda, karena tubuhnya yang tumbuh segar, walau usianya baru 18 tahun kurang, saat seperti  ini, ia malah minta ijin tidur di kamar kami. Suamiku mengijinkan putra kami bermanja-manja sedikit saat ia sakit. Dalam hatiku bertanya-tanya, anak ini tak pernah bermanja sebelumnya, tidak juga terlalu dekat dengan kami, seperti adik-adiknya. tetapi ia kini minta tidur bersama kami, sepertinya ada ketakutan yang tersembunyi di balik hatinya.

     Diam-diam aku terus memperhatikan tingkahnya. Tampak sekali ia cemas, baik dari tutur katanya, ataupun tingkah lakunya. Ada apa sebenarnya? Inilah pertanyaan yang menyelip dihatiku.

     Siang hari, sepulang kami dari kantor, Yehuda mengeluh, rahangnya tiba-tiba kaku. Aku mencoba melihat rahang yang tampak kaku itu. Aku menanyakan permulaannya bagaimana dapat seperti itu. Padahal demamnya sudah menurun. Kuperhatikan secara teliti rahang anakku, benar memang seperti kram saja. Anakku mengeluh sakit apabila kram mulai muncul.

      "Kapan mulai begini?" tanyaku ingin tahu.

     "Tadi ketika aku mau berdoa dan membaca firman Allah."

     Laporan ini sama sekali tidak membuat kesan lain, dugaanku mungkin ia kena angin, karena ia tidur di bawah. Aku minta agar suamiku membawa lagi ke dokter.

     "Kita berdoa dahulu," kata suamiku menenteramkan kami.

     Tetapi tiba-tiba Yehuda berteriak,

     "Ma...ma... kramnya datang lagi Ma, aduh Ma, aku takut Ma." Yehuda menjadi sedikit gelisah, karena kramnya menjalar sampai ke leher.

      Kram itu berpindah-pindah dari leher ke tekak, dari tekak ke lidah lalu mata Yehuda pun sudah memudar. Aku sedikit berdebar, apa gerangan yang terjadi pada anakku ini?

     Aku meminta ulang kepada suamiku agar membawanya ke dokter kenalan kami, maksudku dengan memeriksakan dia ke dokter akan segera tahu, apa penyebab kram ini.

     Dokter memeriksa anakku dengan teliti, dan memberikan injeksi untuk menghentikan kram. Menurut dokter, kalau ini gejala angin maka dengan injeksi akan reda. Oleh karena itu kami harus menunggu di tempat praktek sampai kram hilang. Suamiku terpaksa meninggalkan kami oleh karena ia harus menyambut tamu-tamu yang datang dari Korea. Sudah beberapa menit, rupanya obat yang disuntikkan tidak mempan, dokter memberikan resep untuk membeli obat yang lebih kuat. Dan setelah obat dimasukkan, kami disuruh menunggu lagi. Namun yang ini pun tak berhasil. Dokter temanku memeriksa ulang, ia seorang rohani, oleh karena itu, ia mengatakan kepadaku, agar aku menyelidiki kasus ini dari segi rohani. Karena dari segi medis, tidak tampak adanya penyakit yang mengkhawatirkan.

     Pada saat itu Yehuda sudah semakin tersiksa. Setiap kali kram itu datang, ia menjerit kesakitan, dan yang aneh, lidah Yehuda dapat terjulur keluar sampai tampak akarnya, lalu tergulung habis ke dalam. Ia merintih dan menangis. Mata anakku sudah mulai kosong. Aku sebagai ibunya, merasa ikut terpukul dan tersiksa melihat penderitaan putraku. Belum pernah ia pasrah ataupun menangis kalau ia sakit. Bahkan belum pernah ia jatuh dalam pelukanku saat ia sakit. Namun saat itu, dalam keadaan ketakutan, ia minta aku memeluknya. Ia kelihatan begitu menderita, dan sedikit pun tak membiarkan aku meninggalkan dia.

     Pulang dari dokter sudah jam 19.00, suamiku belum pulang juga. Baru saja aku mau meninggalkan dia untuk mengambil makanan, tiba-tiba anakku berteriak lagi, dan kali ini dengan sangat ketakutan.

     "Ma..., ma... jangan pergi Ma, aku takut Ma, doakan aku Ma."

     Dengan cepat aku kembali ke tempat tidurnya. Rahang, leher, mata, lidah mulai berturutan kram, dan suara tangis anakku telah berubah. Ia tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan jelas, seperti orang yang hampir kelu. Aku merasa sangat iba, aku tak tahan melihat anakku menderita. Oleh karena itu aku mengangkat tanganku untuk menyembah dan memuji Tuhan. Dengan hati yang sangat hancur, aku tak mampu mengucapkan doaku, selain memuji dan menyembah-Nya. Namun tiba-tiba aku merasakan kehadiran Allahku. Aku mengalami kekuatan yang luar biasa, kekuasaan penuh dari Tuhan. Doaku sudah berubah kalimat, aku mengucapkan doa dalam bahasa asing.

     Satu tangan kuangkat ke atas untuk menyembah Tuhan, tangan satunya tertumpang di kepala anakku. Tiba-tiba Yehuda menggeliat, dan wajahnya berubah, ia berteriak,

     'Panas... panas...!" Melihat gejala itu, aku semakin bersemangat aku mulai sadar, Yehuda tidak teerserang sakit biasa, ada roh lain yang bersarang di balik penyakitnya. Aku terus gencar menyembah Tuhan, dan ia terus menggeliat-geliat kepanasan. Saat demikian suamiku muncul, ia segera bergabung bersamaku. Kami gencar berdoa, kali ini aku mulai menengking iblis, aku memerintahkan agar iblis keluar. Terjadi peperangan yang luar biasa. Anakku berteriak-teriak, iblis bertahan tak mau keluar, ia menyiksa anakku, membantingnya, menekuknya dan membuat anakku menggeliat-geliat di tempat tidur. Pada saat itu, suamiku imannya mulai kendor, ia meninggalkan aku sendiri menggumuli anakku. Suamiku berdoa sendiri di ruang lain dan meminta ampun kepada Tuhan untuk dosa-dosanya. Lidah Yehuda terjulur panjang, ia mulai mengejekku, aku menjadi makin panas, aku mulai benci kepada iblis. Sekali lagi kuangkat tanganku tinggi-tinggi, lalu kutantang iblis dengan berani, kali ini tegas kuperintahkan agar dia meninggalkan anakku Yehuda.

     Anakku meronta keras, dia terbanting dan berteriak, tetapi iblis memekik sambil mengatakan ia tak mau keluar.

     Aku mulai berkonsentrasi, persis seperti seorang bidan yang sedang menunggui seorang ibu yang akan melahirkan putranya.

      "Baik," kataku, "kamu tak mau keluar, sekarang rasakan, kau kubakar dalam nama Yesus!"

     Dan tanganku seolah-olah melemparkan api ke rahang Yehuda.

     Tiba-tiba Yehuda berteriak seperti tercekik dan muntah. Namun masih ada kram di tempat yang lain, kali ini tampak lidahnya sering terjulur. Dengan gemas, jari-jariku kutempel ke lidah Yehuda, dan kuperintahkan iblis meninggalkan lidah anakku, sekali lagi yang ini pun menolak, aku jadi garang.

     "Kubakar kau dalam nama Yesus," kataku sekali lagi. Dan Yehuda kembali terkapar dan berteriak melengking lalu muntah.

     Beberapa teman yang mendengar teriakan anakku mulai berdatangan, mereka mendukung kami dalam doa. Saat itu suamiku sudah mulai kuat dan bergabung lagi denganku. sampai jam 24.00, iblis belum semua keluar. Kram masih ada di beberapa tempat, sedang anakku mulai dapat berbicara lagi.

     Dengan aktif Yehuda ikut menunjukkan di mana persembunyian iblis. Memang hal ini luar biasa. Pengalaman ini masih sangat baru bagi kami dan kami belajar dari pengalaman yang baru ini. Anak kami ini sudah menerima Tuhan Yesus sejak ia berusia 4 tahun, saat ia mengenal apa itu dosa. Lalu ia mengalami kelahiran baru dalam pelayanan kebangunan rohani.

     Dan dalam kondisi mundur rohani, iblis berhasil mengecoh dia menyerang fisiknya tetapi tidak mampu menerobos masuk ke dalam roh dan jiwanya. Oleh karena itu saat kami berdoa, dengan kesadaran penuh ia ikut berdoa. Namun saat iblis menyerangnya, ia tak mampu bertahan, iblis mengambil alih suara dan kalimat-kalimat yang diucapkannya. Ia dengar, ia tahu kalimat-kalimat itu bukan dari dia tetapi dari iblis. Seperti menolak keluar, atau menyebut namanya, lalu menatap ke arah orang-orang tertentu, ia terkadang tidak mau seperti itu, tetapi tak dapat melawannya. Tidak ada kemampuan melawannya.

     Lewat jam 24.00, teman-teman lain sudah mulai capai, mereka pulang, Yehuda minta terus didoakan.

     "Keluarkan semua Ma, Pa, masih banyak," ucapnya sedikit kelu. Jendela kamar sengaja kubuka lebar. Dan tetangga yang mendengar teriakan Yehuda berdatangan melihat kejadian yang kami alami dari jendela.

     Kami terus bergumul dalam doa sampai jam 5.00 pagi. Yehuda sudah mulai bisa berdoa, bisa minum dan berbaring. Namun ia merasa masih ada roh-roh yang belum keluar.

     Setiap ia menyebut nama roh itu, kembali roh itu menyerangnya sehingga lidahnya kaku. Kami mulai loyo, capai, tetapi Yehuda masih bersemangat, walaupun ia cukup sakit. Karena roh-roh yang besar selalu saja menyiksanya sebelum ia mau keluar. Aku merasa ini sisa-sisanya yang kecil. Suamiku sendiri sudah lelah dan tertidur kecapaian. Kulihat Yehuda masih belum sembuh benar. Sekali lagi aku mohon kekuatan dari Tuhan, dengan gemas pula, aku menyuruh Yehuda telungkup, kubangunkan suamiku, lalu kami mulai berdoa mengurapi Yehuda dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dengan memerintahkan roh apa saja yang masih ada keluar dengan cepat. Dan Yehuda tidak lagi bangun ia sambil berbaring telungkup muntah-muntah sampai habis. Baru ia bisa lancar bicaranya, tidak kelu lagi. Ia menangis senang. Air mata kami pun menitik puas dalam kemenangan Tuhan. Kami menyuruh Yehuda mengucap syukur dan menyembah Tuhan. Pada saat tangannya kusuruh angkat, lagi-lagi kram datang, kali ini berada di tangannya, ia tak mampu mengangkat tangannya, dari lengan sampai ke ujung jari-jarinya menjadi kaku.

     "Pa, rasanya ada di sini," kata Yehuda ketakutan.

     "Tak usah panik," kata suamiku menguatkan Yehuda. Saat yang bersamaan aku menutup mata dan mohon petunjuk Bapa di surga, roh apa lagi yang berada di lengan anakku ini. Seperti beberapa roh yang tak mau mengakui namanya, Allahku begitu jelas menjelaskan kepadaku siapa roh ini sebenarnya, demikian juga yang bertengger di lengan Yehuda.

     Bapa di surga mengingatkan aku pada kungfu yang pernah dipelajari oleh ayah dari suamiku. Lalu tergambar bagaimana anakku ini cepat sekali memukul adik-adiknya dan siapa saja yang tidak disenanginya. Aku tersenyum dan mulai berkata, "Dalam nama Yesus, siapa kau yang bersembunyi di balik tangan anakku?" tanyaku.

     Tiba-tiba Yehuda menatapku dengan kosong, mulutnya terkatup rapat dan mulai agak kejang. Sekali lagi aku bertanya dengan membentaknya, "Kau tak perlu bersembunyi, sekarang juga kau roh kungfu roh nenek moyang dari opa Yusuf, aku perintahkan kau dalam nama Yesus keluar!"

     Kupegang lengan Yehuda, dan anak ini sekali lagi berteriak dan muntah. Baru lengannya menjadi lemas, dan dia menangis lagi, lalu tanpa disuruh ia mengangkat tangannya untuk  menyembah Tuhan.

     Kami sangat terharu, mengikuti doa anakku yang hancur hati. Ia begitu bersyukur dan menangis minta ampun untuk dosa-dosanya, hal-hal yang tidak pernah kami duga sebelumnya diakui dengan jujur dalam doanya, lalu ia terus memuji Tuhan. Setelah selesai ia juga mengatakan bahwa dadanya yang bertato merasa seperti terbabar, kami tahu Allah tengah membersihkan iblis yang masih bersembunyi dalam dosa-dosa anakku.

     Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kami, iblis juga bersembunyi di balik dosa-dosa yang tidak diakui dan masih disenangi. Hari itu menjadi hari yang bersejarah bagi keluarga kami. Allah bekerja membersihkan dosa. Kebangunan rohani yang dipimpin oleh Allah sendiri. Yehuda telah sembuh benar, wajahnya bercahaya. Ia terus beroperasi menghancurkan benda-benda setan yang disimpan di dalam rumah tanpa setahu kami. Anakku begitu takut, setelah pelepasan, Allah berbicara langsung kepada dia.

     Sementara berdoa, suara Tuhan datang dan ia sendiri yang menunjukkan di mana kaset-kaset rock itu disembunyikan dan harus dibakar habis. Juga majalah-majalah porno, poster-poster rock, semua harus dihancurkan dan dibakar habis.

     Sejak itu ia aktif bersaksi, ia juga bersaksi di gereja. Anakku benar-benar berubah. Kalau dahulu diajak menyanyi pun berat, tetapi sekarang ia malah berani berbicara di depan jemaat. Bakatnya bermain musik makin nyata, saat ia memainkan musik tidak lagi tampak keduniawian.

     Hampir setiap malam ia mengajakku membaca firman Tuhan dan berdoa sampai jam 1.00 malam. Banyak masalah dia ungkapkan kepada kami. Sampai hubungannya yang paling buruk dengan wanita-wanita perek diakui. Syukur ia belum terlanjur menjalani dunia hitam itu. Karena pada saat itu Roh Allah mencegahnya dengan memberikan ketakutan yang sangat kepadanya.

     Meskipun capai, kami tetap melayani dia. Kemudian ia juga membawa teman-temannya remaja yang punya masalah dosa dan ocultisme kepada kami. Tetapi karena kesibukan suamiku dengan tugasnya, maka pelayanan ini terpaksa kulakukan sendiri. Rumah kami menjadi rumah konseling, dan kebanyakan pelepasan kuasa kegelapan.

     Seorang putri teman Yehuda punya masalah di giginya. Selalu saja giginya sakit kalau ia mendengar firman Tuhan atau berdoa. Yehuda melayani putri ini dan menganjurkan agar konsultasi denganku. Putri ini tidak menolak karena ia memang terus tersiksa dengan sakit giginya itu.

     Kami berdua berdoa, dan mulai berbicara dari hati ke hati. Ternyata ia punya opa-oma yang memegang jimat-jimat. Ayah tirinya tidak sekeyakinan dengan mereka. Ibunya sendiri percaya kepada dukun-dukun dan juga kepercayaan adat.

     Putri ini sangat terbuka, oleh karana itu mudah untuk membawanya ke pangkuan Kristus. Ia mau mengakui semua dosanya dan menerima Kristus secara pribadi. Setelah doa pelepasan, aku menumpangkan tangan untuk memberkatinya. Dia merasakan sekujur tubuhnya panas, dan sakit giginya sembuh.

     Sungguh luar biasa, putri ini bertumbuh dalam Tuhan Yesus dan setia mengikuti kebaktian. Ia juga mengambil keputusan untuk dibaptis, karena memang belum dibaptis. Orang tuanya tidak pernah ke gereja walau berstatus Kristen oleh karena suaminya yang sekarang bukan orang Kristen. Sedangkan putrinya ini merindukan untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia ingin sekolah Alkitab apabila selesai SLA-nya.

     Hari ini diadakan kebaktian misi di gereja kami. Gereja hampir penuh karena kebaktian semacam ini selalu saja dihadiri jemaat lain yang anggotanya telah mengikuti persekutuan misi yang dilayani dalam wadah YPPII.

     Setelah firman Tuhan, tiba-tiba seorang putri menangis histeris dan hampir kejang. Tentu saja kami yang duduk di belakang agak terganggu. Seorang teman hamba Tuhan mencoba menenangkannya, tetapi agaknya ia malah menangis lebih kencang dan mulai sedikit kejang. Bagi orang yang tidak biasa melayani kasus semacam ini sedikit gugup, dan tak tahu apa yang akan diperbuat. Teman tersebut meminta aku melayani pemuda ini, karena ia menganggap aku sebagai ibu pasti lebih mudah mengorek masalahnya. Aku memang tidak menolak pelayanan, tetapi bagaimana bisa melayani, kalau orangnya terus menangis, Akhirnya aku menyuruhnya menangis sampai puas. Setelah lama aku menunggu akhirnya dia reda, aku mulai berdoa, agar Roh Kudus menolong, agar ia berani menjelaskan masalahnya. Baru saja doa selesai kuucapkan, tiba-tiba ia mulai kejang lagi dan menangis sampai kaku.

     Aku berpikir keras, apa lagi yang harus kuperbuat, aku lalu menunduk diam mohon pimpinan Tuhan. Lalu dengan kasih seorang ibu aku memegang pundaknya dan berusaha menempatkan diriku di pihaknya. Aku juga memberanikan diri untuk dapat dipercaya, dan aku benar-benar berjanji bersedia mendengar apa saja yang menjadi keluhannya. Ia mulai reda dan bertanya kepadaku,

     "Benarkah Ibu mau mengerti aku?"

     "Yah, aku berjanji, percayalah!" kataku membujuknya.

     "Kalau kuungkapkan hal yang buruk sekali pun, dapatkah Ibu tidak menceritakan masalahku kepada orang lain?"

     "Aku berusaha menyimpan rahasiamu."

     "Juga kepada orang yang kubenci?" Aku diam merenung, tampaknya ia punya masalah luka hati yang cukup parah.

     "Oke, ceritakanlah, aku tetap berusaha menyimpan rahasiamu juga kepada orang yang kau benci, tetapi setelah berdoa, kau harus mengampuninya.

     "Tidak, tidak bisa, tak mungkin Bu, aku sangat membencinya dan tak sanggup mengampuninya. Ia sangat menyakitkan hatiku."

     "Tak ada manusia yang sanggup mengampuni orang lain, karena kita dalam keadaan daging dan dosa. Tetapi percayakah kamu bahwa Kristus sanggup mengampuni temanmu yang kau benci itu?"

     Pemuda ini diam tertunduk dan tidak bisa menjawab.

     "Nah ceritakanlah, apa sebenarnya masalahnya dan mengapa engkau membencinya?"

     Ia masih diam tak menjawab, ia menunduk begitu dalam lalu menitikkan air matanya lagi.

     "Tentu engkau dihinanya atau hatimu dilukai, bukan?"

     "Lebih dari itu Bu."

     "Temanmu itu wanita atau lelaki?"

     "Lelaki."

     "Cintamu dikhianati?" Ia mengangguk malu,

     "Bukan cuma itu Bu, aku malu mengatakan kepada Ibu, dan takut."

     "Kamu tidak mempercayaiku?"

     "Percaya Ibu, tetapi aku malu dan takut."

     "Apa laki-laki yang melukaimu dari keluargaku?"

     "Yah!"

     Kata-kata ini membuatku tersentak, jika Tuhan tidak berwibawa dalam hidupku saat itu, mungkin nafsu egoisku akan menyusup melintasi benakku dan membuyarkan pelayananku ini. Karena aku sudah bisa menerka, kemana arah pembicaraan kami.

     "Dia putraku?"

     "Yah," bagai disambar petir aku sangat terkejut, lalu aku berusaha menenangkan diriku.

     "Apakah kalian telah melakukan sesuatu yang dilarang?"

     "Ibu, aku tertipu, aku memang bersalah, aku terlalu percaya."

     "Dan dia tidak mau bertanggung jawab?"

     "Kami sudah berbicara Bu, aku yang salah, tetapi aku sangat benci kepadanya dan tidak bisa mengampuni dia."

     "Yah Ibu mengerti, tentu kamu sangat sakit hati karena sikap putraku yang kurang ajar kepadamu. Aku sebagi ibunya sungguh minta maaf kepadamu untuk perlakuan anakku yang kurang ajar itu."

     "Nanti akan kutegur dan memberikan peringatan kepadanya dan ia harus mau bertanggung jawab kepadamu."

     "Jangan Bu, biar saja, aku memang keliru, sebagai seorang wanita tidak seharusnya begitu mudah menyerahkan diri kepadanya."

     Putri ini mulai menceritakan bagaimana mulanya ia jatuh dengan lelaki yang ternyata salah seorang dari sekian anak-anak yang kuasuh. Dia tidak mengetahui bahwa anak laki-laki ini adalah anak asuhku, setelah semua masalah diceritakan dengan detail, aku juga mulai mengorek masalah adat istiadat dan okultisme. Rupanya pengekangan diri yang tidak berhasil dijinakkan akarnya dari dosa okultisme. Putri ini pernah dilayani menerima Tuhan Yesus secara pribadi, dan sudah dua kali dilayani hamba Tuhan, namun ia belum dapat kemenangan dalam hal mengatasi dosa seks dan masalah pribadinya. Ia masih liar dan tidak dapat mengekang diri dari kemauan yang menyimpang dari firman Tuhan.  

     Untuk mendapatkan kelepasan yang sungguh-sungguh aku mendesaknya agar dia mengupas semua dosa juga okultisme yang masih belum diakui.

     Ia membuka diri dan mau dibimbing sehingga ia begitu mudah ditolong. Allah bekerja luar biasa, ia terbebas dan merasa lega. Dan yang indah ia tidak lagi mendendam kepada lelaki yang membuatnya sakit hati, malah bisa mengampuni dengan sungguh-sungguh, hal ini tampak pada doanya.

     Setelah beberapa hari berselang ia sering datang ke rumah untuk minta bimbingan berikutnya. Kerinduannya untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan tidak bisa ditunda lagi. Puji Tuhan kerinduannya dijawab Tuhan. Dan saat ini, ia telah berada di sebuah sekolah Alkitab di Pontianak untuk dipersiapkan menjadi hamba Tuhan.

     Kalau Allah tengah bekerja, Ia tidak bekerja setengah-setengah. Ia mengasihi manusia berdosa, dan Ia menghendaki pembersihan bagi anak-anaknya.

     Seperti anakku Yehuda, ke empat anakku yang lainnya pun perlu jamahan Tuhan secara khusus. Peristiwa pelepasan Yehuda, anakku pertama masih hangat dalam keluarga kami, terutama bagi adik-adiknya yang melihat sendiri bagaimana Tuhan membebaskan abangnya. Namun peristiwa itu tidak menggugah hati mereka untuk memberanikan mereka menyelesaikan dosa yang masih mereka sembunyikan.

     Sore itu anakku kedua demam tinggi, kami telah memberikan tablet penurun panas, namun panas tidak juga turun. Seperti abangnya ia juga mulai meringkuk di kamar kami. Sebelum  memutuskan membawanya ke dokter kami berdoa terlebih dahulu dan suamiku mulai menanyakan kepadanya apakah ada dosa yang disembunyikan?

     Tiba-tiba anakku menangis, ia juga seorang remaja yang berusia 16 tahun, dan tanpa diperintah dua kali, ia mengakui segala kesalahannya kepada kami. Setelah mengaku, kami membimbingnya dalam doa pengakuan dosa dan menyerahkan kepada Tuhan Yesus sendiri, agar firman Tuhan dalam I Yohanes 1:9 berlaku malam ini untuk anakku.

     Setelah berdoa, ia juga minta ampun kepada kami, dengan mencium tangan kami berdua. Kami sangat terharu untuk kasih Allah yang tengah memproses anakku ini, lalu kami memberkati dia. Dan luar biasa, setelah pengakuan dosa dan berdoa ia mulai berkeringat, tanpa obat lagi demamnya yang tinggi tadi lenyap begitu saja.

     Kami tak putus-putusnya bersyukur untuk pertolongan dan pernyataan kasih-Nya yang besar itu kepada anak-anakku.


Oleh. Ny. Es. E. Maukary


Diterbitkan oleh. PT BPK Gunung Mulia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar