Minggu, 05 Agustus 2012

Taat Kepada Kaisar?

 Oleh: Asmadi Kurniawan    



     Di tiap keluarga ada kaisar. Begitu juga di tiap sekolah, gereja, organisasi, perusahaan, desa dan negara. Yang dimaksud dengan kaisar di sini adalah seseorang yang memimpin. Kehadiran seorang kaisar memang dibutuhkan, sebab di mana ada sejumlah orang di situ perlu ada pemimpin.

     Seorang kaisar bisa mendatangkan berkat. Ia mempersatukan. Ia membela. Ia memciptakan kesejahteraan. Tetapi sebaliknya, seorang kaisar juga bisa mendatangkan bencana. Ia menimbulkan perpecahan. Ia masa bodoh. Ia cuma memikirkan kesejahteraan sendiri.
     
     Sering kali seorang kaisar bisa memberi jalan keluar dari persoalan. Tetapi, sering juga kaisar justru menjadi sumber persoalan. Apa sebabnya? Penyebabnya sering kali berkisar disekitar ketaatan. Ketika orang makin taat kepada kaisar, timbullah benih-benih persoalan. Ketika kita taat kepada kaisar, maka kaisar bisa menjadi jahat. Apakah itu berarti bahwa sikap taat adalah keliru? Baiklah kita lihat sebuah pola umum.

     Seseorang diangkat menjadi kaisar. Orangnya baik, terbuka untuk dikritik dan berjiwa demokratis. Tidak lama kemudian beberapa rekan dan pembantunya mulai bersikap ingin menyenangkan hati kaisar secara berlebihan, mungkin untuk mencari muka atau mungkin karena hutang budi atas kedudukan yang diberikan oleh kaisar. Kepala mereka terangguk-angguk terus jika berhadapan dengan kaisar. Mereka selalu menjawab ya, menyetujui dan menggaris-bawahi pendapat kaisar. Mereka merasa kurang sopan untuk berterus terang walaupun tahu bahwa pendapat kaisar kurang bijak. Mereka merasa sungkan untuk mengemukakan pendapat tandingan atau pendapat alternatif. Mereka taat saja. Lambat laun pola ketaatan ini mulai membudaya. Semua orang akhirnya hanya mengangguk-angguk.

     Lama kelamaan kaisar menjadi terbiasa dengan perlakuan demikian. Ia tidak lagi meminta masukan, sebab semua masukan hanya berupa dukungan dan persetujuan. Ia tidak lagi meminta pendapat, sebab segala keputusan tokh dipercayakan kepada kaisar. Akhirnya kaisar hanya mendiktekan pendapat dan semua orang mencatatnya sambil mengangguk-angguk. Maka, jadilah kaisar itu seorang diktator (Latin: dictatores = orang yang mendiktekan kehendak).

     Oleh karena sudah terbiasa pendapatnya selalu ditaati, pada suatu hari kaisar jadi gusar dan tersinggung ketika ada orang yang menentang pendapatnya. Orang itu dianggap menghina kaisar. Lalu kaisar menekan orang itu. Maka jadilah kaisar itu seorang despot (Yunani: despotes = yang dipertuan, penguasa yang kejam).

     Gelisahlah orang karena kaisar menjadi diktator dan despot. Tetapi, sebenarnya siapa yang mula-mula membuat kaisar menjadi seperti itu?

     Ketaatan yang semula tampak baik lambat-laun dapat berkembang menjadi ketaatan yang buta. ketika kaisar tidak pernah dibantah, ketaatan padanya berubah menjadi seperti ketaatan kepada Allah. Taat kepada kaisar menjadi seperti ibadah kepada kaisar.

     Di sinilah letak akar persoalannya. Secara lambat-laun dan tanpa disadari, ketaatan kepada kaisar dapat berubah menjadi ketaatan yang total dan kehilangan sikap kritis. Ketaatan seperti itu sama saja seperti ibadah kepada Allah.

     Orang pernah bertanya kepada Yesus seperti dicatat dalam Markus 12:13-17, apakah patut membayar pajak kepada kaisar. Tampaknya ini isu keuangan, namun ini sebenarnya isu ketaatan. Di Palestina pada waktu itu, pajak merupakan bentuk ketaatan kepada kaisar di Roma. Kelompok Zelot secara ekstrem menolak kaisar. Sebaliknya kelompok Saduki cenderung bersikap kooperatif. Sisanya yaitu kelompok Farisi dan kebanyakan orang bersikap taat karena terpaksa. Lalu orang bertanya kepada Yesus, "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?" (ay. 14).

     Menanggapi pertanyaan ini, Yesus meminta orang mengeluarkan sekeping uang logam dan bertanya, "Gambar dan tulisan (= nama) siapakah ini?" (ay. 16). Mereka menjawab, "Gambar dan tulisan Kaisar" (ay. 16). Memang di situ tertera gambar Tiberius dengan teks: Kaisar Tiberius Agustus, Putra Agustus yang ilahi. Lalu Yesus berkata, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" (ay. 17). Artinya: kaisar berhak menerima ketaatan sampai pada batas tertentu; sesudah batas itu ketaatan adalah hak Allah.

     Di sini tampak perbedaan asasi antara taat kepada kaisar dan taat kepada Allah. Kita patut menaati kaisar, namun bukan dengan ketaatan yang total, sebab hanya kepada Tuhan kita taat secara total. Kita menaati kaisar sejauh ketaatan itu sejalan dengan kehendak Tuhan. Rasul Petrus berkata, "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia" (Kis 5:29).

     Martin Niemoller, pakar teologi di Jerman, menghadapi dilema ketaatan kepada kaisar atau kepada Tuhan. Pada Perang Dunia I, Niemoller adalah perwira Angkatan Laut dan bertugas sebagai komandan kapal selam. Seusai perang ia masuk sekolah teologi dan menjadi pendeta di Berlin. Pada suatu hari ia "diimbau" oleh Hitler untuk menyingkirkan orang-orang keturunan Yahudi dari jajaran pimpinan gereja. Niemoller menolak. Hitler pun marah dan membentak, "Mana jiwa nasionalime kamu? Bukankah kita bangsa Jerman yang besar?" Niemoller menjawab, "Justru karena saya nasionalis, maka saya menghargai keberadaan orang Yahudi. Justru karena kita bangsa yang besar, maka kita melindungi bangsa yang kecil." Hitler berang dan Niemoller dicap pembangkang. Pada tahun 1937 Niemoller dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi. Niemoller menaati kaisar, namun ia menaati Kristus lebih dari menaati kaisar.



Oleh: Dr. Andar Ismail

Diterbitkan: PT BPK GUNUNG MULIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar