Oleh: Asmadi Kurniawan
Pada suatu siang nampak empat orang anak memasuki bangunan stasiun yang kecil di desa Peterswood. Mereka disertai seekor anjing yang berlari-lari. Kelihatannya senang sekali. Ekornya tidak henti-hentinya dikibaskan kian kemari.
"lebih baik Buster diikat saja," kata Pip, satu dari keempat anak itu. "Kita datang terlalu cepat. Masih ada dua-tiga kereta lain yang akan lewat. Sini, Buster - kemari sebentar, Anjing manis!"
Anjing kecil berbulu hitam itu datang sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan cepat, serta menggonggong-gonggong.
"Ya, ya - aku tahu, kau sudah rindu pada Fatty," kata Pip sambil membungkuk, untuk memasang tali penuntun ke kalung leher Buster. "Kami pun rindu padanya. He - jangan meronta!"
"Pegang kuat-kuat - ada kereta masuk!" kata Larry. "Tidak berhenti di sini rupanya."
Mulanya Buster masih bisa disuruh tenang. Tapi tiba-tiba kereta api yang lewat dengan cepat itu membunyikan peluit. Bunyinya melengking! Buster langsung cepat-cepat menyembunyikan diri di bawah bangku, sehingga Pip yang memegang tali terseret-seret. Buster duduk menghadap tembok, membelakangi kereta api yang lewat. Anjing itu gemetar sekujur tubuhnya. Hii - peluit itu, menyeramkan bunyinya!
"Aku saja pun ikut kaget," kata Bets. "Sudahkah, Buster - sebentar lagi Fatty kan sudah tiba. Kami senang sekali kau ada bersama kami, selama Fatty pergi. Kau manis sekali selama ini.!"
"Bahkan Ibu pun suka padamu!" kata Pip sambil menepuk-nepuk Buster. "Padahal ia mula-mula sama sekali tidak setuju kau dititipkan pada kami, selama Fatty ada di Swiss."
"Aku tidak mengerti, kenapa Fatty mau-maunya pergi ke sana sampai dua minggu, sehingga tdk ada di sini sewaktu natal," keluh Bets.
"Ia akan ikut dengan ayah-ibunya," kata Daisy. "Pasti ia asyik bermain-main di tengah salju yang begitu banyak di Swiss."
"Ya - dan kalau jatuh pun tidak apa-apa, karena ia gendut," kata Larry sambil tertawa. "Pukul berapa sekarang? Wah, masih terlalu pagi! Bagaimana sekarang?"
"Aduh, dingin rasanya di emperan sini. Yuk, kita ke ruang tunggu," ajak Daisy. "Yuk, Buster."
Tapi Buster tidak mau bergerak dari tempatnya. Pip menarik-narik tali penuntunnya.
"Ayo ikut, Goblok! Kita cuma akan ke ruang tunggu. Kereta Fatty belum waktunya masuk."
"Ikat saja dia ke bangku," kata Larry. "Kalau kita paksa juga ikut ke ruang tunggu, nanti ia sedih terus di sana. Kau ini memang goblok, Buster! Kalau aku, biar diupah berapa pun, takkan mau duduk di emperan yang begini dingin."
Mereka meninggalkan Buster, setelah mengikatnya ke bangku. Mereka masuk ke dalam ruang tunggu. Nyala api pendiangan di situ kecil sekali. Tapi setidak-tidaknya di tempat itu mereka tidak diganggu angin dingin yang menghembus di luar.
"Satu hal sudah jelas," kata Daissy sambil duduk di bangku kayu yang keras, "Fatty takkan menyamar. Jadi ia tidak bisa mempermainkan kita kali ini. Ia datang bersama ayah dan ibunya - jadi tidak berani berbuat iseng seperti biasanya."
"Syukur," kata Bets. "Aku ingin melihatnya seperti dia yang asli! Gendut dan periang, dengan cengiran lebar! Sudah berbulan-bulan kita tidak berjumpa dengannya. Tiga bulan di sekolah - lalu langsung belibur ke Swiss!"
"Aku berani menebak apa yang akan dikatakannya nanti, begitu melihat kita," kata Pip sambil nyengir. "Pasti ia akan berkata, 'Nah - ada misteri baru tidak?' "
"Jawabannya, tidak!" kata Pip. "Akhir-akhir ini Peterswood tenang sekali. Pak Goon sama sekali tidak ada kesibukannya!"
Selama dua minggu itu Pak Goon, polisi desa itu, memang mengalami saat-saat tenang. Anjing saja pun tidak ada yang menyerang biri-biri. Juga tidak terjadi peristiwa pencurian - yang kecil-kecil pun tidak ada! Selama itu Pak Goon banyak waktu untuk menikmati tidur-tiduran di kursinya yang empuk!
Sebuah taksi memasuki halaman depan stasiun, diikuti oleh taksi lain. Seorang laki-laki menjulurkan kepalanya dari jendela taksi yang pertama, lalu memanggil tukang angkat koper yang ada hanya seorang di situ.
"He - tolong angkat koper-koper ini ke dalam! Cepat, waktu sudah mendesak sekali!"
Tukang koper yang dipanggil bergegas-gegas datang, untuk mengambil dua koper kecil. Seorang laki-laki keluar dari taksi, lalu membantu seorang wanita turun. Keduanya sudah setengah umur. Pakaian mereka api. Keduanya nampak gembira. Penumpang taksi yang wanita menggendong seekor anjing pudel mungil.
"Poppet sayang!" kata wanita itu dengan suara mencumbu. "Angin dingin sekali - awas, jangan sampai kau kena pilek!" Anjing kecil itu diselipkannya ke bawah mantel bulu yang tebal, sehingga hanya ujung hidungnya yang mungil saja yang masih nampak. Keempat anak yang menonton dari balik jendela kamar tunggu, senang melihat anjing pudel itu. Aduh, manisnya!
Empat sampai lima orang turun dari taksi yang datang menyusul. Mereka ribut sekali, tertawa-tawa. kelihatannya mereka hendak mengantar pasangan yang turun lebih dulu.
"Ayo, cepatlah, Bill! Kau masih harus membeli karcis, padahal waktu tinggal sedikit," kata wanita yang menggendong pudel.
"Masih banyak waktu," kata laki-laki yang bernama Bill, sambil berjalan masuk ke stasiun. "Eh - itu bunyi kereta ya, yang di kejauhan? Astaga! Rupanya kita memang perlu cepat-cepat!"
Wanita tadi bergegas-gegas ke emperan dalam, sambil menggendong anjing kecilnya.
"Ah, ternyata bukan kereta kita," katanya. "Arahnya berlawanan. Kaget aku tadi, Poppet!"
Orang-orang yang baru datang itu berisik sekali, sehingga keempat anak yang ada di ruang tunggu keluar untuk menonton. Orang-orang dewasa itu ramai sekali berbicara sambil tertawa riang.
"Selamat bersenang-senang!" kata seorang laki-laki berambut merah. Ia menepuk punggung orang yang bernama Bill, sehingga orang itu terbatuk-batuk.
"Kalau sudah sampai, jangan lupa mengirim kabar. Kami pasti akan meresa kehilangan kalian. Pesta kalian selalu meriah!" kata seorang wanita yang juga ikut mengantar.
Wanita yang membawa anjing duduk di bangku tempat Buster terikat, sementara anjingnya diletakkan di lantai peron. Buster tertarik melihat ada anjing di dekatnya, lalu diendus-endus. Anjing pudel kecil itu tahu-tahu mendengking ketakutan. Buster lari ke sebelah depan bangku. Tali penuntunnya melibat kaki wanita yang duduk disitu. Wanita itu menjerit. Dengan cepat ia menyambar anjingnya yang bernama Poppet. Rupanya takut kalau digigit oleh Buster.
Suasana bertambah ribut, karena tepat saat itu ada kereta masuk. Bunyinya yang berisik menyebabkan Poppet ketakutan setengah mati. Anjing manja itu meronta sehingga terlepas dari pegangan tuannya, lalu cepat-cepat lari. Buster berusaha mengejar. Tak diingatnya bahwa ia terikat tali penuntun ke bangku. sehingga nyaris saja lehernya terjerat. Buster menabrak kaki wanita pemilik Poppet. Wanita itu jatuh terguling. Ia berteriak, terpekik jerit,
"Aduh, tolong tangkapkan Poppet! Iiih, kenapa sih anjing ini? Ayo, pergi - Anjing jahat!"
Keadaan menjadi kacau balau. Aak-anak bergegas lari, berusaha menangkapkan Poppet. Pip buru-buru kembali, karena melihat Buster dijadikan bola tendang oleh wanita yang berteriak-teriak karena takut dan sekaligus juga marah-marah.
"Anjing siapa ini?" teriaknya dengan suara melengking tinggi. "Kenapa di ikat di bawah bangku? Mana polisi? Mana anjingku?"
"Sudahlah, Gloria - tenang sajalah," kata laki-laki yang bernama Bill. Saat itu tak seorang pun sempat memperhatikan kereta api yang baru saja masuk. Pip serta ketiga anak lainnya juga tidak. Mereka terlalu sibuk dengan Buster - serta Poppet yang malang, yang begitu ketakutan!
Karenanya mereka tidak melihat Fatty turun dari kereta bersama orang tuanya. Fatty nampak sehat sekali. Montok, dengan kulit coklat kemerahan karena banyak disinari matahari. dengan segera ia sudah melihat keempat temannya yang ada di situ. Ia heran melihat melihat mereka begitu sibuk, sehingga sama sekali tidak memandang ke arah kereta untuk mencarinya!
"Ayah dan Ibu sajalah yang pulang naik taksi," kata Fatty. "Aku berjalan kaki, bersama teman-teman. Itu mereka!"
Ia menghampiri Pip yang sedang sibuk berusaha meminta maaf pada wanita yang marah-marah, dan juga pada suami wanita itu. Tangan Pip mencengkeram kalung leher Buster yang menggeliat-geliat hendak membebaskan diri. Anjing bandel itu menggonggong - lalu meronta sehingga pegangan Pip terlepas.
"Nah - ternyata ada juga yang masih kenal padaku!" kata Fatty. "Halo, Buster!"
Keempat temannya berpaling dengan cepat. Bets lari menghampiri Fatty lalu merangkulnya dengan gembira. Nyaris saja Fatty terguling karena gerak Bets yang begitu bersemangat.
"Kau sudah datang, Fatty!"
"Begitulah kelihatannya!" kata Fatty. Setelah itu menyusul kesibuk pukul-memukul bahu dan punggung, sebagai pengganti ucapan selamat berjumpa kembali. Buster begitu bersemangat melihat tuannya lagi. Ia menggonggong-gonggong. Bunyinya berisik sekali. Ia menggaruk-garuk kaki Fatty, sehingga anak itu terpaksa menggendongnya.
"Anjing siapa itu?" tanya suami wanita yang masih marah-marah itu. "Belum pernah aku melihat anjing yang begitu tidak tahu adat! Menubruk istriku sampai terjatuh, sehingga mantelnya kotor. Nah - itu ada polisi datang! Coba kemari sebentar, Pak! Saya ingin melaporkan anjing ini. Ia tadi liar sekali - menyerang pudel istri saya, serta menyebabkan istri saya jatuh terguling!"
Anak-anak kaget sekali, karena tidak menyangka bahwa Pak Goon akan ada di situ! Polisi desa itu kebetulan mampir karena hendak membeli surat kabar. Ia masuk ke emperan, ketika mendengar suara ribut di situ. Ia langsung datang menghampiri. Matanya yang melotot berkilat-kilat. Nampak sekali bahwa ia merasa senang.
"Anjing ini tadi menyerang, kata Anda? Sebentar, akan kucatat! Ya - anjing ini memang sudah lama merupakan gangguan terhadap ketertibaban \ ya, ya, sudah sejak lama!"
Pak Goon mengeluarkan buku catatan, lalu menjilat ujung pensilnya. Ia benar-benar mujur saat itu - ada yang mengadukan anjing Fatty yang menyebalkan!
Kereta api berangkat lagi. Tapi tidak ada yang memperhatikan. Semua asyik menonton anak-anak, yang sedang dikerumuni orang dewasa. Buster langsung meronta dari pelukan Fatty begitu ia melihat Pak Goon datang menghampiri, lalu berlari sambil meloncat-loncat mengelilingi kaki polisi desa itu. Pak Goon mengibas-ngibaskan buku catatannya untuk mengusirnya.
"Panggil anjing ini - suruh dia pergi! He, suruh dia pergi, kataku! Ia benar-benar akan kulaporkan. Akan..."
Tahu-tahu wanita istri laki-laki yang bernama Bill itu terpekik dengan gembira,
"Ah - itu Poppet sudah kembali, dengan Larkin. Kusangka kau takkan bisa datang pada waktunya untuk membawa Poppet pulang, Larkin!"
Orang yang bernama Larkin itu berbadan gemuk. Jalannya membungkuk dan agak terpincang-pincang. Kakinya yang satu agak menyeret. Ia memakai mantel besar yang sudah usang. Lehernya terbungkus syal yang menutupi bagian bawah mukanya, sedang kepalanya tertutup topi pet yang juga sudah tua. Ia datang menghampiri, sambil menggendong Poppet.
"Siapa ini?" tanya Pak Goon. Ia tercengang melihat laki-laki berpotongan aneh, yang tahu-tahu muncul dengan seekor anjing kecil dalam gendongan.
"Oh, dia ini Larkin, yang tinggal di pondok yang ada di pekarangan Tally-Ho, rumah yang kami sewa di sini," kata wanita pemilik Poppet. "Ia tadi kami suruh menyusul untuk menjemput Poppet dan membawanya pulang ke rumah. Ia yang akan mengurus Poppet selama kami tidak ada - tapi aku ingin terus ditemani anjing manisku ini sampai saat terakhir - ya kan, Poppet sayang?"
Wanita itu mengambil anjing pudel mungil itu lalu mencumbunya sebentar. Setelah itu ia berbicara pada Larkin,
"Anda akan merawatnya dengan baik-baik, kan? Jangan lupa segala yang sudah kukatakan. Tak lama lagi aku akan kembali untuk menjenguknya. Nih - bawa dia, sebelum kereta kami masuk. Nanti ia ketakutan lagi."
Larkin pergi dengan langkah terpincang-pincang. Selama itu ia sama sekali tidak berbicara. Poppet tadi diserahkan padanya dengan hati-hati, seperti boneka. Kini anjing kecil penakut itu dibawa pergi, terselubung dalam mantel laki-laki gemuk itu.
Pak Goon mulai tidak sabar. Ia masih memegang buku catatannya. Anak-anak mencari-cari kesempatan lari meninggalkan tempat itu. Tapi kesempatan itu tidak ada, karena Pak Goon memperhatikan mereka terus dengan waspada.
"Mengenai anjing ini, Bu," kata polisi desa itu. "Bolehkah saya mengetahui nama dan alamat Anda, begitu pula..."
"Nah, itu dia kereta kita!" seru wanita yang diajaknya bicara. Seketika itu juga orang ramai bergerak maju ke tepi peron. Pak Goon terdorong-dorong, sementara orang-orang sibuk bersalaman mengucapkan selamat jalan, selamat tinggal, dan entah selamat apa lagi. Kemudian laki-laki yang bernama Bill mengajak istrinya naik ke kereta, yang sesaat kemudian berangkat ke luar dari stasiun, diiringi lambaian tangan orang-orang yang mengantar.
"Hahh!" dengus Pak Goon kesal. Ia menutup kembali buku catatannya, lalu menoleh ke arah Buster serta anak-anak tadi. Mata Pak Goon yang sudah melotot semakin terbelalak - karena yang dicari ternyata tidak ada lagi di situ!
THE MYSTERY OF TALLY-HO COTTAGE
by Enid Blyton
Copyright C Darrell Waters Ltd 1954
First published by Methuen Children's books
All rights reserved
MISTERI DI TALLY-HO
Alihbahasa: Agus Setiadi
GM 84.108
Hak cipta terjemahan Indonesia
PT Gramedia, Jakarta
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia, Jakarta 1984
Anggota IKAPI
Dicetak oleh
Percetakan PT Gramedia
Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar