Selasa, 31 Juli 2012

TIDAK AKAN DIPERMALUKAN


                                                      Oleh: Asmadi Kurniawan
                                                    
"Sebab, barang siapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:13).

Setiap orang yang mau mempercayai Dia dalam segala sesuatu, pasti tidak akan dipermalukan.

Dunia berprinsip banyak jalan untuk bisa mendapatkan jalan keselamatan, untuk bekal di hari esok setelah kematian. Namun Paulus berani mengatakan bahwa tidak ada jalan lain di bawah kolong langit ini untuk memiliki hidup kekal dan jalan keselamatan yang benar kecuali di dalam nama Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 4:12). Setiap orang yang mau mempercayai Dia dalam segala sesuatu, pasti tidak akan dipermalukan (ayat 11). Di dunia ini, memang banyak jalan keselamatan yang dapat dicapai oleh semua orang, baik kelompok Yahudi maupun non Yahudi. Baik orang yang berperilaku baik maupun jahat. Baik kelompok yang kaya' maupun yang miskin. Namun, bila direnungkan kembali dengan benar, mereka pasti tidak yakin apakah ada jaminan keselamatan khususnya setelah kematian. Namun bagi saudara yang mempercayai Yesus sebagai Tuhan, pasti ada jaminan keselamatan itu. FirmanNya mengingatkan, "Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja,yaitu Bapa. yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan  satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus ..." (1 Korintus 8:6).

Bagi saudara yang telah dipanggil oleh Tuhan. apabila saudara mau menjalani dengan sungguh-sungguh maupun dengan suam-suam kuku, masing-masing tetap akan mengandung resiko bagi saudara. Bagi setiap orang yang dipanggil Tuhan akan termasuk orang-orang yang terlepas. Terlepas dari ikatan kuasa dosa. Terlepas dari kuasa kutuk yang pernah dilontarkan kepada saudara. Terlepas dari kuasa intimidasi dari sang pendakwa, raja pembohong yaitu iblis. Terlepas dari kerajaan kegelapan dan diubahkan untuk turut menjadi ahli waris di kerajaan terang. Oleh karena itu apabila Saudara yang telah dipanggil, tetapi tidak merespon dengan baik dan benar, maka bersiap-siaplah untuk menerima resikonya. Bertanggung jawab sendiri atas nasib saudara. FirmanNya telah mengatakan, bila suam-suam kuku, tidak dingin atau panas, Tuhan akan memuntahkan. Seperti contoh kehidupan jemaat di Laodikia. Saat ini, belum terlambat bagi saudara untuk mengubah paradigma yang selama ini saudara tetapkan. Ambillah sikab dengan benar dan tepat agar saudara mendapat jaminan keselamatan yang tepat dan benar, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. AMIN.

Senin, 30 Juli 2012

Pelayan Tuhan

Oleh: Asmadi Kurniawan

"Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." Lukas 15:10.

Adalah sukacita besar jika saat ini kita dipercaya untuk terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Melayani Tuhan berarti memberikan yang terbaik bagi Tuhan: hidup, waktu, tenaga dan apa pun yang kita miliki kita persembahkan untuk Dia. Melayani Tuhan berarti melayani jiwa-jiwa, membawa jiwa-jiwa mendekat kepada Tuhan sehingga mereka memiliki pengenalan yang benar akan Dia. Sungguh, tidak ada sukacita yang lebih besar daripada sukacita dalam melayani jiwa-jiwa.
   
     Ayat nas di atas jelas menyatakan bahwa ada sukacita besar di surga bila ada satu orang berdosa bertobat dan diselamatkan. Alangkah berbahagianya jika kita menjadi bagian dari orang-orang yang dapat membawa jiwa-jiwa itu kepada Tuhan. Oleh karena itu kita yang sudah terlibat dalam pelayanan harus benar-benar memiliki kepedulian terhadap orang lain, terlebih lagi terhadap saudara seiman atau jemaat Tuhan. Apa itu jemaat Tuhan? Adalah kumpulan atau persekutuan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, atau disebut juga anggota gereja. Sebagaimana tubuh mempunyai banyak macam anggota seperti mata, hidung, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya. begitu pula gereja Tuhan memiliki banyak anggota. Dikatakan, "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. (1 Kor 12:27). Sebagai pelayan Tuhan kita memiliki tugas dan kewajiban untuk memperhatikan mereka; ada yang bertugas menabur, ada pula yang berkewajiban untuk menyiram. Apa yang kita tabur? Benih yang hidup, yaitu firman Tuhan. Namun, "...yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri." (1 Kor 3:7-8).
     

   Jadi, jika kita melihat anggota jemaat Tuhan dapat bertumbuh dan makin dewasa rohaninya, itu bukanlah hasil kepintaran atau jasa kita. Apa pun alasannya, kita tidak punya hak, untuk bermegah atau menyombongkan diri! Ingat! Kita ini hanyalah 'pelayanNya' saja, dan Tuhan sendirilah yang berkarya melalui pekerjaan Roh Kudus. Tugas kita adalah melayani jiwa-jiwa lebih giat dan semakin giat lagi!

  "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah   

   belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati. kelemahlembutan dan kesabaran." Kolose 3:12.

Kepada jemaat Tuhan di Kolose rasul Paulus menasehatkan agar dalam melayani jiwa-jiwa kita melakukannya dengan sukacita, bukan karena terpaksa; dan juga"...kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran." Jika kita melayani jiwa-jiwa dengan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, kita tidak akan pernah merasa lelah, kecewa, putus asa dan sakit hati ketika kita dikecewakan atau ditolak saat melayani. Sebaliknya kita akan tetap semangat dalam melayani, apa pun keadaannya; tidak akan menahan mulut kita untuk bersaksi dan memberitakan injil serta mengajar firman kepada orang lain.
   
     Timotius berkata demikian, "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (2 Tim 4:2). Mungkin kita berkata, "Apa saya mampu?" Perhatikan! "...Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita..." (2 Tim 1:7-8). Di dalam kita ada Roh Kudus; Dialah yang mendorong dan memampukan kita untuk menginjil. Setiap anggota jemaat sangat membutuhkan bimbingan dan pemeliharaan seperti anak-anak yang perlu mendapat pemeliharaan, mulai dari masa bayinya sampai kepada masa dewasa. Terhadap jemaat yang rohaninya masih bayi' kita harus memberi mereka 'susu', dan bilamana mereka sudah bertambah besar kita pun harus memberikan mereka 'makanan yang keras', Tertulis: "Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecietapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindra yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat." (Ibr 5:13-14).
   
   Itu adalah tanggung jawab kita para pelayan Tuhan: memelihara mereka dengan firmanNya dan menyatakan perbuatan kasih yang hangat sebagai pengikat kita satu sama lain.
 
   Kasih Kristus itulah yang mendorong kita dalam segala pelayanan dan pengorbanan kita, karena tiap-tiap jemaat berhak mendapatkan pemeliharaan rohani yang sama.

Sabtu, 28 Juli 2012

Allah mengutus, Allah membela

Oleh: Asmadi Kurniawan

JIKA Tuhan tidak mengadakan mujizat-mujizat dalam pelayanan ataupun dalam keluarga kami, maka aku kurang menyadari janji Tuhan yang pernah kuterima saat aku bertobat telah digenapi. 
     Kapankah penyertaan Allah dimulai?
     Aku hampir tak menyadari, namun selalu mengagumi, betapa kasih Tuhan dalam hidupku pribadi ataupun dalam keluargaku selalu hangat. Telah kuuraikan dalam buku kesaksian pertama, bagaimana Allah memanggil dan melimpahkan karunia-Nya dengan cara yang khusus.
     Karunia yang menyertai pelayananku ini bukan karena kebaikanku, bukan karena hasil pelayananku yang berkembang, atau juga karena tumpangan tangan seorang hamba Tuhan. Namun semata-mata hanya karena anugerah-Nya yang melengkapi pelayananku.
     Pelayanan pertama kepada keluargaku sendiri, Pelayanan kedua kepada sahabat-sahabat ayahku, kemudian sempat surut ketika aku kembali masuk kampus. Oleh karena saat itu, aku memang belum mengerti betul arti dari pengurapan Tuhan. Begitu juga saat aku memasuki pernikahanku, lalu mengikuti pelayanan suamiku di Madura, pulau yang cukup keras. memang aku sempat bingung, mengapa justru seolah-olah karunia itu tak berfungsi di pulau yang keras ini. Kendala-kendala itu baru kutemukan jawabannya saat apa yang kusangka hilang kuperoleh kembali.
     Sekarang aku lebih mengerti, Tuhan tak pernah mencabut apa yang telah dibagikan kepada anak-anak-Nya. Akan tetapi apabila ada dosa penghambat atau tidak dipergunakan dengan benar, karunia ini seolah-olah tak bekerja dengan baik. Dosa adalah halangan iman, juga halangan telepon ke surga. Namun Allah tak pernah membiarkan dosa berkembang ataupun manusia binasa. Suara Allah tetap jelas, dan kasih-Nya tetap membina sehingga orang yang hatinya terbuka akan segera mendapatkan pertolongan dari pada-Nya.
      Dalam pelayanan di Madura kami dapat melihat dan merasakan penyertaan Tuhan. meskipun mungkin kami masih sangat bodoh untuk mengerti kehendak Tuhan dalam pelayanan kami. 
     Dalam kesaksian ini, kami akan lanjutkan sedikit bagaimana Tuhan membela kami dari tangan-tangan jahat yang sengaja menyatroni kami.
      "Kubunuh kau!"
     Teriak Bapak yang telah kalap ini, sempat menggemparkan kampung yang kecil di belakang rumah kami. Ibu-ibu berlari menuju rumah kami, sambil berseru, "Pak Pendeta, keluar Pak ..., anak Bapak mau dibunuh!"
     Suamiku yang siang itu berbaring santai tiba-tiba meloncat bangun dengan kain sarungnya yang kedodoran.
      "Kenapa Bu...?" tanyanya gugup.
     "Tuh Pak, anak Bapak mau dibunuh!" ibu itu menunjuk ke belakang rumah kami. Dari arah yang tak jauh, tepatnya di belakang rumah tampak beberapa orang berkerumun seolah-olah melihat acara yang menarik.
     "Cepat Pak Pendeta!" desaknya.
     Suamiku yang tetap memakai kain sarung berjalan menuju kerumunan orang banyak. Kemenakan kami, Beth berdiri menyudut tak bergerak. Ia menggendong anakku yang kedua, Enos yang baru berusia 7 bulan.
     "Kubunuh kau, kaupikir aku tak bisa membunuhmu!" gertak bapak itu dengan mengayunkan cluritnya dekat wajah kemenakanku. Kami berdebar melihatnya, dan tak ada seorang pun berani mendekati bapak ini. Suamiku menyuruhku berdoa, lalu ia maju selangkah demi selangkah mendekati bapak itu. Begitu melihat suamiku mendekat, matanya semakin melotot dan memerah sangat garang.
     "Anak Bapak ini kurang ajar, dia berani menempeleng anakku," katanya sambil terus mengayun-ayunkan cluritnya.
     Suamiku sambil melipat tangannya seperti adat orang Madura bila mau merendah, membungkuk minta ampun kepada bapak itu.
     "Ngapora Pak, bila anakku kurang ajar, biarlah akan kuhajar dia nanti. Tapi jangan Bapak buat apa-apa terhadap dia."
     "Kalau sampaian nggak cepet ke sini habis anak ini."
     "Ya...ya Pak, ngapora, untuk kelakuannya yang tak baik."
     Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib, hati bapak itu segera dingin. Ia tidak lagi mengayunkan cluritnya, dan dengan aman kemenakan kami dapat kami bawa pulang. Sampai di rumah, kami menegur dan menasehati dia, meskipun ia kurang terima, karena adiknya mau diberi kotoran mata dari anak bapak yang matanya sakit itu.
     Tiga hari setelah peristiwa itu, kampung heboh kembali. Si Bapak, tiba-tiba demam tinggi, tak ada obat yang dapat menurunkan demamnya meskipun ia telah memanggil mantri rumah sakit. Lalu perutnya mengembang besar dan mengeras dan tiga hari kemudian ia putus nyawa. Para tetangga menyangka kami membalas kekejamannya dengan ilmu kami, sehingga perut bapak tersebut membesar dan tewas. Ada beberapa orang yang memberanikan diri bertanya, ilmu apakah yang kami pergunakan untuk membalas sakit hati kami pada bapak ini?
     Pertanyaan ini kami manfaatkan untuk menginjili mereka. Kami menjelaskan kasih Yesus yang tak pernah membalas kekejaman dengan kekejaman, dan kami tak pernah punya ilmu. Namun kami punya Allah yang selalu membela apabila kami mengalami hal-hal tertentu. Ada juga yang merasa takut kepada kami, namun ada yang malah membenci kami, karena kami selalu menceritakan kasih Yesus kepada mereka.
     Tampaknya kebencian makin memuncak, sehingga ada orang-orang yang nekad bertindak di luar batas hukum, mengatur rencana gila hendak membakar rumah kami. Saat itu kami tidur lelap dan tak pernah bermimpi buruk sehingga tak mengerti bahwa di luar ada orang-orang yang tengah menyatroni rumah kami. Namun niat mereka menjadi buyar berantakan ketika di luar dugaan mereka muncul seseorang yang asalnya berwujud dari cahaya sebesar telor ayam yang mulai muncul di puncak pohon kayu putih yang tertanam di muka rumah kami. Lalu cahaya itu berpindah ke atap rumah dan berubah wujud menjadi manusia berpedang berdiri tegak penuh dengan cahaya di seluruh tubuhnya. Ketiga orang yang berniat tak baik itu gemetar ketakutan, dan lari mengetuk pintu rumah kami dengan gugup.
     Suamiku yang bangun terlebih dahulu, melihat dari balik gorden, siapakah yang tengah malam mengetuk pintu rumah. Ia melihat jam weker sudah jam 1.00 malam. Ketika ia melihat orang-orang yang telah dikenalnya, tanpa ragu suamiku membukakan pintu. Ketiga orang itu dengan malu meminta ampun kepada suamiku, dan mengaku akan berniat jahat. Semua rencana diceritakan dengan jujur. Malam itu kami sungguh mengucap syukur untuk kasih sayang Tuhan yang telah melindungi dan membela kami dari musuh-musuh kami.
     Allah kami hebat luar biasa. Tangan-Nya tetap melindungi kami. Ia berkenan mencelikkan mata musuh-musuh kami, agar mereka tahu Allah kami Allah Yang Kuasa melakukan segala perkara bagi anak-anak-Nya yang berlindung dalam kepak sayap-Nya.
     Setelah kejadian itu, hampir semua tetangga mulai baik terhadap kami, apalagi sedikit pun tak ada niat kami untuk membalas kejahatan mereka. Kami tetap mencoba berhubungan dengan mereka tanpa jera, menolong mereka dalam berbagai kesulitan yang mereka hadapi. Bahkan tetangga yang paling anti kepada kami, akhirnya juga menyerah, sehingga pagar pembatas rumah dijebol agar kami bisa saling membagi kasih. Peristiwa ini pun dimulai ketika ia sangat membutuhkan pertolongan oleh karena mengawinkan anaknya. Kami dengan tulus memberikan sebuah kamar untuk dipakai keluarganya yang harus menginap saat pesta itu. Lalu ia pun mulai takut melihat kuasa Tuhan yang luar biasa itu.
     Waktu memang sudah terlalu singkat, namun kami cukup dihiburkan, karena tuaian bakal tampak, meskipun bukan kami nanti yang akan menuai. Orang Madura telah menyaksikan sendiri hebatnya kuasa Allah kami, yang tidak sama dengan kepercayaan mereka.
     Ketika kami pindah rumah, kami sungguh-sungguh malu, karena mereka memberikan ucapan selamat jalan dengan berbagai kado yang lebih baik daripada kado waktu pernikahan kami, yang hampir sebagian besar tidak kami bawa ke Madura. Sedang yang kami bawa juga hampir habis. Allah telah menggantikan semua yang hilang dengan yang baru melalui cara-Nya yang unik. Puji Tuhan!

     Pindah ke kota lain, punya masalah tersendiri. Kota ini tidak kolot seperti kota sebelumnya. Kami lebih dapat bergaul rapat dengan penduduk setempat. Rumah yang kami sewa, tepat di pinggir jalan raya. Jalan Bangkalan Sumenep. Masyarakat di kota Bangkalan lebih terbuka dalam pergaulan. Kami melihat pelajar-pelajarnya yang sebagian anak-anak Tionghoa merupakan ladang yang terbuka. Oleh karena itu kami mencoba mencari kemungkinan menginjili lewat pendidikan agama. Usaha kami nampak macet, meskipun kami telah berusaha menghubungi departemen agama Bimas Kristen. Usaha penginjilan kepada anak pelajar, kami mulai di rumah, dengan mengundang seorang pemudi anak Tuhan ahli jahit-menjahit dari kota Surabaya. Tuhan membuka jalan sehingga ada anak-anak Madura turunan Arab mau mendengar Injil, bahkan senang menyanyikan lagu-lagu Natal yang terus kami kumandangkan lewat tape recorder kami. Mereka bahkan bisa menghafal beberapa lagu, juga mau berdoa dalam nama Yesus. Namun untuk menjadi orang Kristen, mereka tidak berani ambil resiko.
     Melalui pelayanan ini, akhirnya kami mendapat informasi, bahwa sebenarnya SMA Negeri I tengah membutuhkan guru agama, yang lama meninggalkan ladangnya begitu saja. Dengan segera kami menghubungi kepala sekolah untuk mencari informasi lebih lanjut, dan benar juga tenaga kami tengah dinantikan, tanpa honor. Kami menyetujui, ladang terbuka siap kami bajak. 
     Hari-hari pertama kami lewati sedikit sepi, karena permintaannya tak lebih dari 15 orang. Padahal menurut data, hampir separuh dari sekolah itu anak-anak Tionghoa yang diwajibkan memilih kelas agama. Namun sesudah satu bulan, kami mulai sibuk, dari satu kelas yang berjumlah 30 anak menjadi dua kelas, karena tak bisa menampung jumlah siswa.
     Tak ada teman sekerja lain yang diharapkan bisa menolong, kecuali suamiku sendiri. Apalagi dalam waktu yang sama SD Negeri meminta tenaga kami. Untuk mengatasi kesulitan, kami melibatkan teman sekerja kami yang telah membuka les jahit di rumah agar ia mau melayani kelas agama di SD Negeri itu. Setiap kali kami mengajar, selalu ada anak-anak yang menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka yang menerima Kristus secara pribadi, kami salurkan kepada Gereja Injili. Akhirnya gereja-gereja itu juga secara rutin meminta kami mengisi pelayanan, baik di jemaat, pemuda, remaja ataupun sekolah minggu.
     Kesibukan, seringkali membuat anak-anak kami terlantar. Pembantu tidak selamanya sungguh-sungguh memperhatikan mereka. Suatu kali kami dikagetkan dengan bunyi mobil yang berderit keras di depan rumah kami. Orang-orang berteriak dan kami kami tahu bahwa ada kecelakaan di jalan. Oleh karena itu kami juga ikut-ikutan melihat apa yang terjadi. Namun betapa terkejut dan ciut hati kami melihat anak kecil yang didukung bapak itu, ternyata anak kami yang kedua, sedang abangnya ikut di samping bapak itu.
     Yehuda anak pertama kami baru berusia empat tahun sedang adiknya berusia dua tahun lebih. Suamiku berlari menyongsongnya dengan setengah berteriak.
     "Selamat Pak ... selamat," begitu ucapan bapak yang membopong anakku itu. Memang benar, tak ada luka di tubuhnya, juga abangnya. Kami melihat dua mobil yang tengah berhadapan yang begitu dekat, banyak orang mengerumuni kami dan ingin menyatakan simpati mereka. Allah melindungi kami, meskipun kami merasa ditegur karena kami teledor.
     Panggilan pelayanan di antara gereja membuka kesempatan untuk menyatakan terang Tuhan di antara mereka. Kebanyakan mereka yang sudah bernaung dalam satu gereja masih juga mendua hati. Sasaran pelayanan kami menerapkan iman percaya mereka agar tidak bercabang dengan kepercayaan adat dan dunia modern.
     Untuk pelayanan ini kami sendiri masih belajar, seperti anak TK yang baru memasuki tingkat sekolah dasar.
     Peristiwa yang tidak kami lupakan dan merupakan pelajaran yang berarti untuk melatih diri, ialah ketika suatu sore seperti biasa kami diminta melayani acara pemuda di salah satu gereja. Saat doa penutup tiba-tiba anak kami yang pertama agak jauh dari tempat dudukku, oleh karena itu aku harus mengejarnya agar tidak mengganggu. Tetapi tanpa diduga seorang anak muda gila masuk lewat pintu depan terus maju ke belakang mimbar. Lalu ia mulai bertingkah. Semua masih tertunduk mengikuti doa suamiku. Pemuda yang matanya liar itu melihat ke arah kami, khususnya ke tempat dudukku yang terpisah. Hatiku pun berdebar keras. Belum pernah aku berhadapan dengan seorang pemuda kurang waras yang lagi kumat seperti ini. Aku mulai berdoa dalam hati menengking iblis dari jarak jauh. Meskipun dengan ketakutan aku mulai memerintah agar ia tidak bertingkah lebih jauh. Pemuda itu melangkah menuju belakang suamiku dan terus berdiri di belakang suamiku. Sekali lagi aku perintahkan iblis agar tidak bertingkah.
     Pelayanan ini sangat baru bagiku, aku merasa sangat kecil, imanku lemah. namun meskipun berdebar keras dan sangat takut, aku terus berdoa. Selesai doa suamiku, pemuda ini mundur. Ia memang tidak berbuat apa-apa. Ketua pemuda meminta aku menutup doa kebaktian. Namun betapa aku sangat terkejut, tiba-tiba saja pemuda itu melangkah ke tempatku. Melihat itu suamiku yang mendapat bisikan dari ketua pemuda segera juga melangkah mendekatiku. Aku tepat berhadapan dengan pemuda ini. Ia sepeti patung menghadap tepat di depanku. Aku sendiri gugup dalam doaku, namun ketika aku memohon kekuatan khusus, tiba-tiba saja terlontar doa yang khusus kutujukan pada si pemuda.
     
     Aku belum mahir menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Ef 6:13). Doaku hanya memohon agar pemuda ini tidak mengganggu kebaktian lagi.

     Sampai kalimat terakhir ia tetap diam dan begitu selesai doa, dia pergi tanpa kata. Semua yang hadir lega. Dan mereka bersaksi, baru kali ini ia tidak memukul. Minggu-minggu lalu hamba Tuhan yang memimpin di sini dipukulnya dari belakang dan kebaktian selalu diganggu oleh kehadirannya.

     Sejak itu, pemuda tersebut tak pernah lagi muncul. Menurut berita, ia sudah diamankan yang berwajib. Dalam hati aku menyesali diri, mengapa aku tidak berani menengking iblis agar keluar dari pemuda tersebut, dan ia terbebas. Yah, kami baru belajar masuk sekolah dasar. Maka kami tahu iman kami harus dilatih. Namun dalam pelajaran ini, yang jelas, Allah bertindak meskipun kami masih sangat bodoh.
     Setelah hampir 9 tahun kami melayani di pulau Madura, suamiku mendapat panggilan kembali ke Batu, Malang untuk memimpin studio Sentosa, studio siaran dan rekaman untuk penginjilan.
     Kami bergumul dalam doa, mengapa secepat ini kami harus meninggalkan Madura. Tepat pula saat itu ada sekolah-sekolah negeri yang dahulu sulit diterobos kini minta dilayani. Namun akhirnya kami menaati panggilan pulang ke Batu. Kemudian, kami memulai satu pelayanan baru. 
     "Menyambut tamu adalah menyambut malaikat Tuhan, inilah Firman Tuhan. Karena tamu-tamu itu adalah malaikat Tuhan," demikian kata suamiku suatu hari.
     Mengapa kalimat ini diucapkan? Saat itu Studio Sentosa kedatangan tamu-tamu yang akan rekaman di Studio kami. Mereka adalah anak-anak muda berpotensi suara bagus. Tetapi untuk menjamin tamu-tamu yang menginap ini, hampir semua kami merasa berat. Karena keuangan kami memang tidak memenuhi target bulan itu.
     Sebagai pimpinan suamiku mendesakku agar rela menampung 7 anak muda ini. Aku merasa berat, namun aku menaatinya. Aku berdoa di kamarku memohon agar Tuhan campur tangan dalam masalah ini. Aku tak malu membuka hati dan keberatanku kepada Allahku. tamu-tamu kami sambut dengan wajar, mereka makan dan minum di rumah kami. Lepas tamu yang 7 orang ini, tiba-tiba tawaran datang lagi untuk 7 orang berikutnya sampai terakhir tamu yang tidak kami duga seorang pemuda yang mencari adiknya. Tanpa terasa kami mengambil kesempatan juga melayani tamu-tamu yang datang yang belum sungguh-sungguh dalam Kristus. Dan memang Tuhan menghendaki demikian. Ada beberapa diantara mereka menerima Tuhan Yesus. Mereka dibebaskan dari ikatan dosa, termasuk pemuda terakhir seorang insinyur yang mencari adiknya yang sedang kami bina.
     Setelah tamu-tamu pergi, aku mencoba melihat persediaan beras yang tentu sudah ludes. Namun betapa terkejutnya aku ketika Ani, anak yang membantu kami membuka lemari tempat beras, hampir aku tak percaya pada mujizat ini. Beras dalam karung masih penuh tak berkurang. sedang dalam waskom tetap ada seperti semula.
     Aku menceritakan ini kepada suamiku, dan dengan rasa haru kami mengucapkan syukur kepada-Nya, untuk keajaiban yang Tuhan tampakkan. Aku sungguh meminta ampun kepada-Nya, karena kurang percaya akan kuasa-Nya yang tak pernah berakhir hingga masa kini. Terpujilah nama-Nya dan besarlah kuasNya, Ia telah menjamin tamu-tamu yang dikehendaki-Nya.
     "... setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah" (Yoh 15:2). Firman Tuhan ini rupanya dikhususkan bagi hamba Tuhan yang tengah dibentuk. Barang kali ada banyak orang kurang mengerti ataupun kurang setuju, kalau kami selalu menerima siapa saja yang mau menginap di rumah kami, tanpa terlebih dahulu menyelidikinya. Kami pun tak mengerti, mengapa kami tidak dapat menolaknya. Siapa pun orangnya, tanpa terkecuali.
     Kali ini seorang ibu dengan empat anak tanggung dan satu anak kecil. Oleh karena problema ibu ini menggugah hati kami, tanpa curiga kami menampungnya dan berusaha ikut memikirkan masalahnya.
     Ibu ini sering meninggalkan anak-anaknya dan pergi ke Jakarta karena urusannya dengan suami tak terselesaikan. Kami sungguh-sungguh berusaha menjernihkan hubungan suami istri yang terpisah ini. Akan tetapi rupanya masalah menjadi berkepanjangan, terjadi hal yang sama sekali tidak kami duga. ketika seorang kememakannya yang lari dan berlindung pada kami, terjadilah keburukan yang paling parah dalam sejarah hidupku sebagai ibu rumah tangga dan sebagai hamba Tuhan. Ibu ini tanpa belas kasihan, menuduhku dengan kata-kata yang sangat tajam, beberapa teman hamba Tuhan diminta menjadi saksi bagaimana ia tengah menghakimiku. Ia menudingku di depan orang banyak menyatakan aku telah menghabiskan uang kiriman untuk anak-anaknya dan bersekongkol dengan kemenakannya itu. Secara manusia aku hampir menjerit histeris. Di mana perasaan wanita ini, mengapa ia memutarbalikan semuanya untuk membuatku tolol seperti ini. Aku juga setengah menyalahkan suamiku yang berusaha mengajakku berdamai, namun bukan berdamai malah bertengkar. Dalam hati aku memohon, Tuhan, Engkau yang paling tahu masalahku, tolonglah aku ..., desisku dalam hati. Malam itu seperti malam gelap yang sangat mencekam, Allah memimpin hatiku yang terluka dan pasrah.
     "Ibu, semua tuduhan ... biar kuterima, namun mata Allah melihat kita masing-masing. Aku hamba Tuhan, aku tidak akan melayani pertengkaran. Ijinkan aku pulang."
     Wanita ini menjadi ganas dan hampir melempar gelas ke arah suaminya, ketika suaminya membelaku dan membenarkan kata-kataku serta minta maaf untuk perlakuan istrinya yang kurang baik ini.
     Kami pulang dengan hati yang sangat sedih, kami gagal dalam pelayanan. Kami juga sangat kecewa, mengapa hamba-hamba Tuhan rekanku mau menjadi saksi untuk perkara yang kurang baik ini.
     Aku tidak mencari pembela agar aku dibenarkan. Karena semua perkara hanya Tuhan yang mengetahuinya. Beberapa hari kemudian setelah berulang-ulang suamiku mencari daya agar jalan damai, ibu ini kembali minta diadakan pertemuan denganku. Suamiku mengira ia benar-benar mau berdamai. Karena inilah yang ia ucapkan.
      Saat itu ada perasaan lain dalam hatiku, aku merasa ibu ini tak jujur, ia akan kembali menyerangku. Perasaan ini kuceritakan kepada suamiku. Namun ia percaya kali ini, ibu itu serius mau menyelesaikan dengan cara damai. Baru beberapa ucapan sebagai permulaan, tiba-tiba ucapan ibu ini meluncur lagi menyerangku, ia menuduhku lagi mengambil uangnya. Aku benar-benar tak mengerti arah pembicaraan ibu ini. Semua pengeluaran telah dicatat dan dengan bukti pembayaran kwitansi. Uangnya memang tidak banyak, namun celakanya semua kwitansi dikatakan hilang, ini yang menyudutkan aku, yang tentu menjadi sedikit panik.
     "Duh Tuhan, apa yang harus kukatakan lagi, tolonglah hambamu ini, jangan terjerat oleh pertengkaran yang bodoh ini, Tuhan," inilah doaku dalam hati.
     Air mataku telah menggenang di sudut mataku, hatiku sangat sedih. Aku tak pernah ingin mendapat balasan apa pun dari ibu ini ketika anak-anaknya dititipkan kepada kami, ketika mereka tidak punya makanan, ketika mereka kesepian, kami sangat mengasihi mereka. Kami juga tidak menegur keras, ketika ia berbuat tidak baik, mengambil uang atau makanan kami. Namun ibu ini menutupi semuanya dengan alasan yang masuk akal.
     Tiba-tiba aku merasa Tuhan memenuhi aku dengan Roh-Nya.
     "Masuk ke kamarmu dan berdoalah!" demikian bisikan dalam hatiku.
     Aku bangkit dan meminta maaf, tidak akan mendengarkan lagi kata-katanya dan masuk ke kamar untuk berdoa.
     Sedangkan suamiku mengajaknya untuk menertibkan dia agar tidak lagi bicara banyak, tetapi mendengarkan Firman Tuhan.
     "Ranting yang berbuah, dibersihkannya." Inilah cara Tuhan mempersiapkan kami. Pembersihan ini sakit, namun besar faedahnya bagi kami.
     Tuhan membentukku secara khusus, agar aku rendah hati dan dapat mengekang diri. Namun pembentukkan ini belum cukup, Ia masih harus memprosesku lebih dalam untuk mempersiapkan aku benar-benar matang secara pribadi tidak bergantung kepada suamiku.
     Suatu hari Dewan Eksekutif memutuskan kami berangkat ke Kalimantan. Ini membuatku terkejut, benarkah demikian?
     Aku yang punya keluarga besar ini, harus ke Kalimantan Barat?
     Seperti domba kelu aku terdiam, saat itu aku memang dalam keadaan sakit. Ada bisul liar di bagian tubuhku. Bisul ini meradang dan menyakitkan, apakah dalam keadaan semacam ini aku sanggup sampai di sana. Namun tiba-tiba bisul liar kujadikan tanda, apakah benar ini Tuhan yang mengutus kami, ataukah keputusan hanya secara kebetulan.
     Tuhan membuktikan penyertaan-Nya lepas dari pertanyaanku yang tolol. Dengan pemeriksaan yang intensif pada dokter ahli kanker, aku pasrah pada kehendak Tuhan. Doaku hanyalah mohon kekuatan khusus dari Tuhan.
     Sepanjang perjalanan, aku merasa dihibur Tuhan. Yah, dulu aku belum dibebani anak-anak, aku ingin berkeliling dunia. Namun sekarang setelah anakku enam orang, Allah membuka jalan bagiku. Dengan diutus, kami dapat melihat Kalimantan bersama. Bahkan anak-anakku yang cuma tahu Kalimantan dari peta, sekarang mereka boleh merasakan piknik ke Kalimantan. Tak ada yang tak bersorak. Bibir anak-anakku memekik kegirangan.
     "Hore... kita dapat naik pesawat...!" sorak mereka.
     Aku tersenyum, "Inilah Tuhan sorakan anak-anakku, mereka punya kesempatan melihat bumi khatulistiwa dari dekat, dan aku, aku dapat mengaminkan sekarang arti panggilan-Mu dalam Kis 1:8, "Kamu akan menjadi saksiku di  Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
     Dan aku memang belum sampai ke ujung bumi, mungkin baru sampai di Yudea atau Samaria.
     Ada perasaan heran tak menentu atas pimpinan-Nya, kami belum tahu apa yang akan kami hadapi di sana.



Penulis: Ny. Es. E. Maukary.

Diterbitkan oleh: PT BPK GUNUNG MULIA

Sabtu, 21 Juli 2012

Seni Memakai Parfum



                                                                                  Oleh: Asmadi Kurniawan




Memakai parfum itu ada seninya. Pakainya cuma sedikit, tetapi jangan juga terlalu sedikit sehingga tidak tercium sama sekali. Namun yang pasti, pakai parfum tidak boleh terlalu banyak, sebab nantinya orang yang menciumnya bisa kelenger atau semaput.
     Seni berikutnya adalah tentang bagaimana dan di mana. Pakai parfum itu bukan dikecrot seperti kecap, tetapi dioles. Dimana diolesnya? Nah, ini seninya. Pilih titik yang strategis. Bukan di sekujur tubuh, tetapi hanya di bagian-bagian tertentu. Apa itu "bagian-bagian tertentu"? Eh, mau tau aje, itu 'kan rahasia perempuan.
     Penyebab lain mengapa parfum dipakai cuma sedikit adalah karena harganya aduhai. Botol kecil yang isinya cuma beberapa tetes harganya bisa puluhan dollar. Itu sebabnya semua botol parfum berukuran kecil. Pokoknya, memakai parfum itu ada seninya.
     Pernah Tuhan Yesus menghadapi seorang wanita yang tampak seperti tidak tahu seni parfum. Ceritanya terdapat di Markus 14:3-9. Wanita itu membawa parfum untuk Yesus, bukan dalam botol kecil melainkan dalam "suatu buli-buli pualam" (ay. 3). Menurut Yohanes 12 ukurannya "setengah kati", mungkin lebih dari setengah liter. Parfum itu berkualitas tinggi, yaitu "minyak narwastu murni yang mahal harganya" (ay. 3). Mungkin kalau zaman sekarang minyak itu setara dengan merek Amouge, Boucheron, Chanel, Davidoff, Ermenegildo, Fendi, Gianni, dstnya.
     Persoalan timbul karena wanita itu menuangkan seluruh isi botol parfum itu di kepala Yesus (menurut Yohanes: kaki Yesus). Parfum itu bukan dioles, melainkan dikucurkan. Semua orang di ruangan itu langsung menoleh. Pasti hidung mereka tertusuk oleh harumnya (menurut Yohanes: "bau minyak semerbak di seluruh rumah itu"). Mereka juga menjadi gusar, "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin" (ay. 4-5). Reaksi itu sungguh bisa dimengerti. Sayang sekali parfum yang begitu mahal dituang sehingga tumpah di lantai.
     Akan tetapi, ternyata reaksi Yesus sangat berbeda. Ia berkata, "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia?" (ay. 6; Alkitab Yunani: kopous parechete = membuat sedih).
     Yesus bersikab demikian, karena yang dilihat-Nya bukan minyak wangi, melainkan motivasi dan intensi di  baliknya. Ia menilai perbuatan wanita itu sebagai ungkapan cinta kasih. Yesus berkata, "Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku" (ay. 6). Memang di sini terjadi pemborosan, tetapi agaknya ini bisa disebut "pemborosan yang kudus". Bagi perempuan ini buli-buli parfum itu juga mahal sekali. Mungkin ini adalah hasil tabungannya selama beberapa tahun. Tetapi inilah cara yang dipilihnya untuk mewujudkan kedekatan, kemesraan dan cintanya kepada Yesus. Inilah baktinya bagi Yesus. Inilah ibadahnya bagi Tuhan. Ibadah adalah ungkapan rasa dekat, rasa mesra dan rasa cinta kepada Kristus.
     Bahkan Yesus melihat sebuah simbol dalam perbuatan perempuan ini. Yesus berkata, "Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan penguburan-Ku" (ay. 8). Dalam adat Yahudi jenazah digosok dengan minyak wangi.
     Mungkin perempuan ini juga berfirasat bahwa kematian Yesus sudah dekat. Karena itu, ia ingin mengungkapkan cinta justru selagi Yesus masih hidup. Ia berpikir, apa gunanya memberi minyak wangi pada jenazah. Orang mati tokh tidak bisa mencium apa-apa. Lebih baik sekarang, mumpung Yesus masih ada.
     Maka diambilnya botol parfum kesayangannya. Berjalanlah ia ke rumah itu. Dihampirinya Yesus. Dipeluknya kaki Yesus dengan penuh perasaan. Kemudian dibukanya botol itu. Dituangnya parfum itu, "lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya" (Yoh 12:3).
     Ia merasakan kedekatan itu. Ia merasakan kemesraan itu. Ia merasakan cinta itu. Ia menghirup dengan tarikan nafas yang sangat dalam. Uhhh, wanginya ...




SELAMAT BERBAKTI

Oleh: Dr. Andar Ismail


Diterbitkan oleh:
PT BPK Gunung Mulia.

Kamis, 19 Juli 2012

BERAKAR KE BAWAH BERBUAH KE ATAS

oleh: Asmadi Kurniawan


Saya ingin menjelaskan sebuah kata atau istilah yang terdapat di dalam kitab Nabi Yesaya pasal 37 ayat 31. "Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yehuda, yaitu orang-orang yang masih tertinggal, akan berakar pula ke bawah dan menghasilkan buah ke atas." Istilah itu ialah "orang yang masih tertinggal" atau "sisa Yehuda". Kata ini sangat penting baik dalam sejarah Israel maupun dalam sejarah gereja.
     Di dalam sejarah Israel Tuhan bekerja terus menerus dengan "sisa-sisa". Pada ayat di atas dikatakan bahwa sisa Yehuda itulah yang akan berakar ke bawah dan berbuah ke atas. Ini suatu hal yang aneh.

Sisa Israel

     Bagi kita dalam kehidupan sehari-hari, sisa merupakan istilah yang tak begitu menyenangkan. Kalau kita makan, sisa makanan kita adalah kurang baik. Sisa itu dikumpulkan lalu diberikan kepada anjing atau binatang yang lain. Tetapi dalam Alkitab sisa Israel senantiasa berarti suatu umat yang meneruskan janji Allah, meneruskan karya penyelamatan Allah. Oleh karena itu istilah "sisa" dalam ayat 31 di atas mempunyai sangkut paut yang luas.
     Kita tahu bahwa istilah "sisa" dalam Yesaya pasal 37 tersebut adalah istilah yang penting. Marilah saya akan memberikan gambaran sedikit mengenai istilah sisa di atas. Di dalam panggilan Tuhan bagi bangsa Israel, di bawah pimpinan Musa mereka menuju ke tanah perjanjian. Nampak bahwa Tuhan sudah terus menerus mengantar bangsa ini ke tempat tujuannya. Tetapi kemudian kita melihat istilah "sisa" atau pengertian    sisa yang positif ketika mereka berada di ambang pintu masuk Tanah Kanaan. Di dalam Kitab Ulangan pasal 1 ayat 21 Tuhan berkata kepada Musa: "Ketahuilah, Tuhan, Allahmu, telah menyerahkan negeri itu kepadamu. Majulah, dudukilah, seperti yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu. Janganlah takut dan janganlah patah hati." Tetapi kita membaca di dalam ayat-ayat selanjutnya bahwa Musa tidak mengikuti persis perintah Tuhan itu.

Kegagalan Musa 

     Tuhan berfirman, Aku karuniakan, masuk dan ambil! Namun Musa tidak langsung masuk ke tanah itu, melainkan ia mengadakan konperensi lebih dahulu untuk menentukan cara masuk ke Tanah tersebut. Disinilah kegagalan Musa! Dengan kata lain Musa tidak taat 100% kepada apa yang dikatakan Allah.
     Allah berfirman kepada Musa. tetapi Musa mau mempergunakan firman Allah ditambah otaknya sendiri bekerja. Musa mengirimkan orang-orang yang tidak beriman mengintai tanah itu. Tatkala mereka sudah kembali dari tanah yang berkelimpahan susu dan madu itu, mereka membawa berita yang menimbulkan kecil hati. Mereka mengatakan bahwa tentara musuh besar dan kuat. Mereka menjadi pesimis, merasa tidak mungkin bisa memasuki Tanah Perjanjian. Musa jatuh ke dalam kompromi. Ia sudah dijerat oleh dosa tidak atau kurang percaya, oleh dosa tidak menaati firman Tuhan 100%!
     Akibat dari kesalahan Musa itu cerita selanjutnya adalah cerita yang menyedihkan. Musa dan orang-orang yangdipimpinnya tidak bisa segera masuk. Mereka terpaksa harus kembali ke padang belantara lagi. Dan, di sinilah istilah "sisa" itu mulai! Apa yang dikatakan di sana? Bahwa bangsa yang jahat ini tidak bisa masuk. Tetapi akan ada sisa yang masuk. Siapakah sisa itu? Sisa itulah Yusak (Yosua) dan Kaleb. Merekalah "sisa" itu, dan sisa inilah yang kemudian memasuki Tanah Kanaan.
     Sebenarnya istilah "sisa" ini berlangsung terus menerus. Tuhan bekerja dengan sisa-sisa yang taat sepenuhnya kepada firmannya.
     Pada ayat yang ketiga puluh satu tadi, yaitu Yesaya 37 ayat 31 kita membaca bahwa "orang-orang yang masih tertinggal" atau "sisah Yehuda" itu akan berakar pula ke bawah dan berbuah ke atas. Dengan kata lain, ibarat sebuah pohon, pohon ini akan berakar makin kuat, makin masuk ke dalam tanah, dan makin banyak buahnya di atas sana. Dua hal ini kita lihat sejajar. Yang satu makin lama makin ke bawah, yang lain makin lama makin banyak buahnya. Keduanya berjalan bersama-sama.

Berakar ke bawah: Iman

     Di dalam Kitab Yosua pasal 1 ayat 11-17 dikemukakan bahwa Tuhan memberkati sisa Israel yang bersandar kepada Allah, yang mau hidup dengan iman kepada Allah, dan menghasilkan buah-buah rohani. Oleh sebab itu, berakar ke bawah adalah menunjukkan iman. Atau menunjukkan kehidupan yang bergantung, bersandar, dan sungguh-sungguh beralas kepada dasar yang kokoh, yaitu alas iman kepada Allah. Di luar akar iman yang tumbuh ke dalam ini, tidak ada buah-buah rohani yang keluar.
     Pada ayat-ayat di atas terdapat prinsip rohani orang Kristen. Prinsip rohani itu ialah kita tidak dapat mengharapkan buah-buah itu datang, tanpa kita sungguh-sungguh masuk ke dalam persekutuan dengan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tetapi apa yang memungkinkan kita dapat bersekutu dengan Allah itulah yang penting, yaitu yang menjadi landasan persekutuan itu.

Kuasa Salib Kristus

     Saya mau mengalihkan aplikasi dari Yesaya pasal 37 ini ke Perjanjian Baru. Atau lebih tepat dari Yesaya ini sekarang kita melihat kemuka kepada Salib Kristus. Salib Kristus yang telah beroperasi di masa yang lampau, yang beroperasi masa kini dan yang beroperasi ke masa depan. Saya masukkan tentang Salib Kristus ini karena ada bahaya yang bisa timbul bila kita berbicara mengenai buah Roh Kudus melulu tanpa kita masuk ke dalam pengalaman yang sederhana dari kuasa Salib Kristus!
     Tuan Maxwell di dalam bukunya REVOLUSI ROHANI mengupas tentang satu segi yang sering dijumpai dalam kehidupan kita, yaitu segi kuasa Salib Kristus. Revolusi rohani oleh Salib Kristus. Berakar ke bawah di dalam Kitab Yesaya itu diarahkan ke depan, kepada suatu peristiwa yang terjadi di dalam sejarah dunia, yaitu kepada Salib Kristus! Di dalam Salib Kristus, tergantung kepada Salib itulah, kita akan makin lama makin berakar ke bawah!
     Di dalam suratnya kepada sidang jemaat Korintus, jemaat yang penuh dengan orang-orang cerdik pandai dan pergolakan dunia, heran sekali bahwa Rasul Paulus menghadapkan mereka dengan satu perkara yang menakjubkan. Ia berkata bahwa tidak ada lain yang dia beritakan, yang dia sampaikan kepada orang-orang di Korintus melainkan Salib Yesus Kristus. Salib yang menjadi kebodohan bagi orang-orang pandai, yang dianggap remeh oleh dunia, itulah yang diberitakan oleh Paulus dan itulah pula yang merupakan kuasa Allah yang nyata! Orang-orang Korintus tercengang mendengar kata-kata Paulus itu.

Rahasia Kedalam Hidup Kristen

     Tetapi hal itu memang benar. Kehidupan umat Kristen sesudah salib itu dipancangkan, bergantung kepada makin dalamnya pengalaman tiap-tiap orang dengan kuasa salib Kristus. Makin dalam pengalaman itu, makin ia berbuah. Selama pelayanan kami dalam bidang pastoral, harus saya katakan bahwa kebanyakan persoalan, perselisihan, dan problema dalam rumah tangga Kristen maupun dalam gereja terjadi karena mereka kurang memberi tempat kepada kuasa salib Kristus di dalam kehidupan Kristen mereka. Berita salib yang disampaikan Paulus kepada kaum filsuf di Korintus, di Areopagus bukit kaum filsafat, adalah berita terbesar dan terpenting sampai hari ini. Orang yang kurang mempunyai pengalaman dengan salib, hanya penuh pengalaman karunia rohani, dapat mengakibatkan bahwa buah-buah lebat tetapi pohonnya mudah runtuh sebab akarnya tidak tertanam dalam-dalam!


Sumber: dari buku "Buah Yang Tinggal Tetap" hal 1-6

Menghadap sang khalik.

oleh: Asmadi Kurniawan

Ibu kami telah kembali kepada Bapa di sorga. Segala acara berkaitan dengan masa duka telah kami selesaikan. Beberapa teman & sahabat almarhumah ibu kami bercerita kepada kami tentang kenangan mereka. Ternyata sekalipun kelihatannya ibu kami "angker" & "tdk ramah", teman-teman & para sahabatnya merasa "sangat kehilangan". Ada banyak cerita kebaikan yg sebelumnya tdk pernah kami dengar. Kami mendengar cerita-cerita itu dari ibu George sahabat almarhumah ibu kami, mbak Rasmen mantan pembantu rumah tangga kami, dll. Kini kami tahu & masih tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Kami bangga & terharu.

Paulus memberi nasihat kepada jemaat Flp utk senantiasa melakukan kebaikan. Di mana & kepada siapa? Paulus berkata, "Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang, Tuhan sudah dekat!" Usia qta terbatas. Kapan qta dipanggil Bapa di sorga, tak ada yg tahu. Inilah saatnya berbuat baik, kepada siapapun sesuai anjuran Paulus, karena Tuhan sudah dekat. Apakah qta sudah mempergunakan kesempatan qta dengan sebaik-baiknya utk selalu berbuat baik?

Selasa, 17 Juli 2012

PEREBUTAN KEKUASAAN

SEORANG pengusaha terlibat kasus perebutan perusahaan dengan koleganya di pengadilan. Ia pun bertanya ke pendetanya, "Saya bertekad memenangkan perkara ini. Menurut Bpk, kalau saya memberi hadiah kepada hakim, apakah hakimnya akan bersimpati & memihak saya?" Pak Pendeta menjawab, "Jangan sekali-kali melakukannya. Itu tdk terpuji. Menyogok itu dosa. Apalagi, setahu saya, hakim yg menangani perkara Anda sangat jujur & antisuap. Ia akan sangat marah kalau Anda melakukannya. Dan, itu berdampak buruk bagi perkara Anda." Pengusaha itu pulang. Beberapa bln kemudian, ia bertemu Pak Pendeta & berkata, "Pak, trim,s. Saya menang! Saya ikut saran Bpk dengan sedikit modifikasi." Pak Pendeta bingung, "Modifikasi? Maksudnya?" Pengusaha itu menjawab, "Saya tetap mengirim mobil kepada Pak Hakim. Namun pada nama pengirim, saya menuliskan nama kolega saya."

Sabtu, 14 Juli 2012

PENTINGNYA PERTOBATAN SECARA PRIBADI

Oleh: Asmadi Kurniawan


Apakah Anda mengeluh, "Aku tahu seharusnya aku bertobat, tetapi aku begitu bebal sehingga aku tidak dapat mencapai taraf kepekaan yang tepat?" Ini memang benar; karena itu, Tuhan Yesus dimuliakan dan ditinggikan untuk memberikan kepada Anda pertobatan. Anda tidak akan mampu bertobat dengan kekuatan Anda sendiri, sama seperti Anda tidak akan masuk surga karena hasil pencapaian Anda sendiri. Tetapi Tuhan akan menganugerahkan kepada Anda "pertobatan yang memimpin kepada hidup" (Kis 11:18). Karena pertobatan juga adalah buah dari Roh.