Sabtu, 28 Juli 2012

Allah mengutus, Allah membela

Oleh: Asmadi Kurniawan

JIKA Tuhan tidak mengadakan mujizat-mujizat dalam pelayanan ataupun dalam keluarga kami, maka aku kurang menyadari janji Tuhan yang pernah kuterima saat aku bertobat telah digenapi. 
     Kapankah penyertaan Allah dimulai?
     Aku hampir tak menyadari, namun selalu mengagumi, betapa kasih Tuhan dalam hidupku pribadi ataupun dalam keluargaku selalu hangat. Telah kuuraikan dalam buku kesaksian pertama, bagaimana Allah memanggil dan melimpahkan karunia-Nya dengan cara yang khusus.
     Karunia yang menyertai pelayananku ini bukan karena kebaikanku, bukan karena hasil pelayananku yang berkembang, atau juga karena tumpangan tangan seorang hamba Tuhan. Namun semata-mata hanya karena anugerah-Nya yang melengkapi pelayananku.
     Pelayanan pertama kepada keluargaku sendiri, Pelayanan kedua kepada sahabat-sahabat ayahku, kemudian sempat surut ketika aku kembali masuk kampus. Oleh karena saat itu, aku memang belum mengerti betul arti dari pengurapan Tuhan. Begitu juga saat aku memasuki pernikahanku, lalu mengikuti pelayanan suamiku di Madura, pulau yang cukup keras. memang aku sempat bingung, mengapa justru seolah-olah karunia itu tak berfungsi di pulau yang keras ini. Kendala-kendala itu baru kutemukan jawabannya saat apa yang kusangka hilang kuperoleh kembali.
     Sekarang aku lebih mengerti, Tuhan tak pernah mencabut apa yang telah dibagikan kepada anak-anak-Nya. Akan tetapi apabila ada dosa penghambat atau tidak dipergunakan dengan benar, karunia ini seolah-olah tak bekerja dengan baik. Dosa adalah halangan iman, juga halangan telepon ke surga. Namun Allah tak pernah membiarkan dosa berkembang ataupun manusia binasa. Suara Allah tetap jelas, dan kasih-Nya tetap membina sehingga orang yang hatinya terbuka akan segera mendapatkan pertolongan dari pada-Nya.
      Dalam pelayanan di Madura kami dapat melihat dan merasakan penyertaan Tuhan. meskipun mungkin kami masih sangat bodoh untuk mengerti kehendak Tuhan dalam pelayanan kami. 
     Dalam kesaksian ini, kami akan lanjutkan sedikit bagaimana Tuhan membela kami dari tangan-tangan jahat yang sengaja menyatroni kami.
      "Kubunuh kau!"
     Teriak Bapak yang telah kalap ini, sempat menggemparkan kampung yang kecil di belakang rumah kami. Ibu-ibu berlari menuju rumah kami, sambil berseru, "Pak Pendeta, keluar Pak ..., anak Bapak mau dibunuh!"
     Suamiku yang siang itu berbaring santai tiba-tiba meloncat bangun dengan kain sarungnya yang kedodoran.
      "Kenapa Bu...?" tanyanya gugup.
     "Tuh Pak, anak Bapak mau dibunuh!" ibu itu menunjuk ke belakang rumah kami. Dari arah yang tak jauh, tepatnya di belakang rumah tampak beberapa orang berkerumun seolah-olah melihat acara yang menarik.
     "Cepat Pak Pendeta!" desaknya.
     Suamiku yang tetap memakai kain sarung berjalan menuju kerumunan orang banyak. Kemenakan kami, Beth berdiri menyudut tak bergerak. Ia menggendong anakku yang kedua, Enos yang baru berusia 7 bulan.
     "Kubunuh kau, kaupikir aku tak bisa membunuhmu!" gertak bapak itu dengan mengayunkan cluritnya dekat wajah kemenakanku. Kami berdebar melihatnya, dan tak ada seorang pun berani mendekati bapak ini. Suamiku menyuruhku berdoa, lalu ia maju selangkah demi selangkah mendekati bapak itu. Begitu melihat suamiku mendekat, matanya semakin melotot dan memerah sangat garang.
     "Anak Bapak ini kurang ajar, dia berani menempeleng anakku," katanya sambil terus mengayun-ayunkan cluritnya.
     Suamiku sambil melipat tangannya seperti adat orang Madura bila mau merendah, membungkuk minta ampun kepada bapak itu.
     "Ngapora Pak, bila anakku kurang ajar, biarlah akan kuhajar dia nanti. Tapi jangan Bapak buat apa-apa terhadap dia."
     "Kalau sampaian nggak cepet ke sini habis anak ini."
     "Ya...ya Pak, ngapora, untuk kelakuannya yang tak baik."
     Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib, hati bapak itu segera dingin. Ia tidak lagi mengayunkan cluritnya, dan dengan aman kemenakan kami dapat kami bawa pulang. Sampai di rumah, kami menegur dan menasehati dia, meskipun ia kurang terima, karena adiknya mau diberi kotoran mata dari anak bapak yang matanya sakit itu.
     Tiga hari setelah peristiwa itu, kampung heboh kembali. Si Bapak, tiba-tiba demam tinggi, tak ada obat yang dapat menurunkan demamnya meskipun ia telah memanggil mantri rumah sakit. Lalu perutnya mengembang besar dan mengeras dan tiga hari kemudian ia putus nyawa. Para tetangga menyangka kami membalas kekejamannya dengan ilmu kami, sehingga perut bapak tersebut membesar dan tewas. Ada beberapa orang yang memberanikan diri bertanya, ilmu apakah yang kami pergunakan untuk membalas sakit hati kami pada bapak ini?
     Pertanyaan ini kami manfaatkan untuk menginjili mereka. Kami menjelaskan kasih Yesus yang tak pernah membalas kekejaman dengan kekejaman, dan kami tak pernah punya ilmu. Namun kami punya Allah yang selalu membela apabila kami mengalami hal-hal tertentu. Ada juga yang merasa takut kepada kami, namun ada yang malah membenci kami, karena kami selalu menceritakan kasih Yesus kepada mereka.
     Tampaknya kebencian makin memuncak, sehingga ada orang-orang yang nekad bertindak di luar batas hukum, mengatur rencana gila hendak membakar rumah kami. Saat itu kami tidur lelap dan tak pernah bermimpi buruk sehingga tak mengerti bahwa di luar ada orang-orang yang tengah menyatroni rumah kami. Namun niat mereka menjadi buyar berantakan ketika di luar dugaan mereka muncul seseorang yang asalnya berwujud dari cahaya sebesar telor ayam yang mulai muncul di puncak pohon kayu putih yang tertanam di muka rumah kami. Lalu cahaya itu berpindah ke atap rumah dan berubah wujud menjadi manusia berpedang berdiri tegak penuh dengan cahaya di seluruh tubuhnya. Ketiga orang yang berniat tak baik itu gemetar ketakutan, dan lari mengetuk pintu rumah kami dengan gugup.
     Suamiku yang bangun terlebih dahulu, melihat dari balik gorden, siapakah yang tengah malam mengetuk pintu rumah. Ia melihat jam weker sudah jam 1.00 malam. Ketika ia melihat orang-orang yang telah dikenalnya, tanpa ragu suamiku membukakan pintu. Ketiga orang itu dengan malu meminta ampun kepada suamiku, dan mengaku akan berniat jahat. Semua rencana diceritakan dengan jujur. Malam itu kami sungguh mengucap syukur untuk kasih sayang Tuhan yang telah melindungi dan membela kami dari musuh-musuh kami.
     Allah kami hebat luar biasa. Tangan-Nya tetap melindungi kami. Ia berkenan mencelikkan mata musuh-musuh kami, agar mereka tahu Allah kami Allah Yang Kuasa melakukan segala perkara bagi anak-anak-Nya yang berlindung dalam kepak sayap-Nya.
     Setelah kejadian itu, hampir semua tetangga mulai baik terhadap kami, apalagi sedikit pun tak ada niat kami untuk membalas kejahatan mereka. Kami tetap mencoba berhubungan dengan mereka tanpa jera, menolong mereka dalam berbagai kesulitan yang mereka hadapi. Bahkan tetangga yang paling anti kepada kami, akhirnya juga menyerah, sehingga pagar pembatas rumah dijebol agar kami bisa saling membagi kasih. Peristiwa ini pun dimulai ketika ia sangat membutuhkan pertolongan oleh karena mengawinkan anaknya. Kami dengan tulus memberikan sebuah kamar untuk dipakai keluarganya yang harus menginap saat pesta itu. Lalu ia pun mulai takut melihat kuasa Tuhan yang luar biasa itu.
     Waktu memang sudah terlalu singkat, namun kami cukup dihiburkan, karena tuaian bakal tampak, meskipun bukan kami nanti yang akan menuai. Orang Madura telah menyaksikan sendiri hebatnya kuasa Allah kami, yang tidak sama dengan kepercayaan mereka.
     Ketika kami pindah rumah, kami sungguh-sungguh malu, karena mereka memberikan ucapan selamat jalan dengan berbagai kado yang lebih baik daripada kado waktu pernikahan kami, yang hampir sebagian besar tidak kami bawa ke Madura. Sedang yang kami bawa juga hampir habis. Allah telah menggantikan semua yang hilang dengan yang baru melalui cara-Nya yang unik. Puji Tuhan!

     Pindah ke kota lain, punya masalah tersendiri. Kota ini tidak kolot seperti kota sebelumnya. Kami lebih dapat bergaul rapat dengan penduduk setempat. Rumah yang kami sewa, tepat di pinggir jalan raya. Jalan Bangkalan Sumenep. Masyarakat di kota Bangkalan lebih terbuka dalam pergaulan. Kami melihat pelajar-pelajarnya yang sebagian anak-anak Tionghoa merupakan ladang yang terbuka. Oleh karena itu kami mencoba mencari kemungkinan menginjili lewat pendidikan agama. Usaha kami nampak macet, meskipun kami telah berusaha menghubungi departemen agama Bimas Kristen. Usaha penginjilan kepada anak pelajar, kami mulai di rumah, dengan mengundang seorang pemudi anak Tuhan ahli jahit-menjahit dari kota Surabaya. Tuhan membuka jalan sehingga ada anak-anak Madura turunan Arab mau mendengar Injil, bahkan senang menyanyikan lagu-lagu Natal yang terus kami kumandangkan lewat tape recorder kami. Mereka bahkan bisa menghafal beberapa lagu, juga mau berdoa dalam nama Yesus. Namun untuk menjadi orang Kristen, mereka tidak berani ambil resiko.
     Melalui pelayanan ini, akhirnya kami mendapat informasi, bahwa sebenarnya SMA Negeri I tengah membutuhkan guru agama, yang lama meninggalkan ladangnya begitu saja. Dengan segera kami menghubungi kepala sekolah untuk mencari informasi lebih lanjut, dan benar juga tenaga kami tengah dinantikan, tanpa honor. Kami menyetujui, ladang terbuka siap kami bajak. 
     Hari-hari pertama kami lewati sedikit sepi, karena permintaannya tak lebih dari 15 orang. Padahal menurut data, hampir separuh dari sekolah itu anak-anak Tionghoa yang diwajibkan memilih kelas agama. Namun sesudah satu bulan, kami mulai sibuk, dari satu kelas yang berjumlah 30 anak menjadi dua kelas, karena tak bisa menampung jumlah siswa.
     Tak ada teman sekerja lain yang diharapkan bisa menolong, kecuali suamiku sendiri. Apalagi dalam waktu yang sama SD Negeri meminta tenaga kami. Untuk mengatasi kesulitan, kami melibatkan teman sekerja kami yang telah membuka les jahit di rumah agar ia mau melayani kelas agama di SD Negeri itu. Setiap kali kami mengajar, selalu ada anak-anak yang menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka yang menerima Kristus secara pribadi, kami salurkan kepada Gereja Injili. Akhirnya gereja-gereja itu juga secara rutin meminta kami mengisi pelayanan, baik di jemaat, pemuda, remaja ataupun sekolah minggu.
     Kesibukan, seringkali membuat anak-anak kami terlantar. Pembantu tidak selamanya sungguh-sungguh memperhatikan mereka. Suatu kali kami dikagetkan dengan bunyi mobil yang berderit keras di depan rumah kami. Orang-orang berteriak dan kami kami tahu bahwa ada kecelakaan di jalan. Oleh karena itu kami juga ikut-ikutan melihat apa yang terjadi. Namun betapa terkejut dan ciut hati kami melihat anak kecil yang didukung bapak itu, ternyata anak kami yang kedua, sedang abangnya ikut di samping bapak itu.
     Yehuda anak pertama kami baru berusia empat tahun sedang adiknya berusia dua tahun lebih. Suamiku berlari menyongsongnya dengan setengah berteriak.
     "Selamat Pak ... selamat," begitu ucapan bapak yang membopong anakku itu. Memang benar, tak ada luka di tubuhnya, juga abangnya. Kami melihat dua mobil yang tengah berhadapan yang begitu dekat, banyak orang mengerumuni kami dan ingin menyatakan simpati mereka. Allah melindungi kami, meskipun kami merasa ditegur karena kami teledor.
     Panggilan pelayanan di antara gereja membuka kesempatan untuk menyatakan terang Tuhan di antara mereka. Kebanyakan mereka yang sudah bernaung dalam satu gereja masih juga mendua hati. Sasaran pelayanan kami menerapkan iman percaya mereka agar tidak bercabang dengan kepercayaan adat dan dunia modern.
     Untuk pelayanan ini kami sendiri masih belajar, seperti anak TK yang baru memasuki tingkat sekolah dasar.
     Peristiwa yang tidak kami lupakan dan merupakan pelajaran yang berarti untuk melatih diri, ialah ketika suatu sore seperti biasa kami diminta melayani acara pemuda di salah satu gereja. Saat doa penutup tiba-tiba anak kami yang pertama agak jauh dari tempat dudukku, oleh karena itu aku harus mengejarnya agar tidak mengganggu. Tetapi tanpa diduga seorang anak muda gila masuk lewat pintu depan terus maju ke belakang mimbar. Lalu ia mulai bertingkah. Semua masih tertunduk mengikuti doa suamiku. Pemuda yang matanya liar itu melihat ke arah kami, khususnya ke tempat dudukku yang terpisah. Hatiku pun berdebar keras. Belum pernah aku berhadapan dengan seorang pemuda kurang waras yang lagi kumat seperti ini. Aku mulai berdoa dalam hati menengking iblis dari jarak jauh. Meskipun dengan ketakutan aku mulai memerintah agar ia tidak bertingkah lebih jauh. Pemuda itu melangkah menuju belakang suamiku dan terus berdiri di belakang suamiku. Sekali lagi aku perintahkan iblis agar tidak bertingkah.
     Pelayanan ini sangat baru bagiku, aku merasa sangat kecil, imanku lemah. namun meskipun berdebar keras dan sangat takut, aku terus berdoa. Selesai doa suamiku, pemuda ini mundur. Ia memang tidak berbuat apa-apa. Ketua pemuda meminta aku menutup doa kebaktian. Namun betapa aku sangat terkejut, tiba-tiba saja pemuda itu melangkah ke tempatku. Melihat itu suamiku yang mendapat bisikan dari ketua pemuda segera juga melangkah mendekatiku. Aku tepat berhadapan dengan pemuda ini. Ia sepeti patung menghadap tepat di depanku. Aku sendiri gugup dalam doaku, namun ketika aku memohon kekuatan khusus, tiba-tiba saja terlontar doa yang khusus kutujukan pada si pemuda.
     
     Aku belum mahir menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Ef 6:13). Doaku hanya memohon agar pemuda ini tidak mengganggu kebaktian lagi.

     Sampai kalimat terakhir ia tetap diam dan begitu selesai doa, dia pergi tanpa kata. Semua yang hadir lega. Dan mereka bersaksi, baru kali ini ia tidak memukul. Minggu-minggu lalu hamba Tuhan yang memimpin di sini dipukulnya dari belakang dan kebaktian selalu diganggu oleh kehadirannya.

     Sejak itu, pemuda tersebut tak pernah lagi muncul. Menurut berita, ia sudah diamankan yang berwajib. Dalam hati aku menyesali diri, mengapa aku tidak berani menengking iblis agar keluar dari pemuda tersebut, dan ia terbebas. Yah, kami baru belajar masuk sekolah dasar. Maka kami tahu iman kami harus dilatih. Namun dalam pelajaran ini, yang jelas, Allah bertindak meskipun kami masih sangat bodoh.
     Setelah hampir 9 tahun kami melayani di pulau Madura, suamiku mendapat panggilan kembali ke Batu, Malang untuk memimpin studio Sentosa, studio siaran dan rekaman untuk penginjilan.
     Kami bergumul dalam doa, mengapa secepat ini kami harus meninggalkan Madura. Tepat pula saat itu ada sekolah-sekolah negeri yang dahulu sulit diterobos kini minta dilayani. Namun akhirnya kami menaati panggilan pulang ke Batu. Kemudian, kami memulai satu pelayanan baru. 
     "Menyambut tamu adalah menyambut malaikat Tuhan, inilah Firman Tuhan. Karena tamu-tamu itu adalah malaikat Tuhan," demikian kata suamiku suatu hari.
     Mengapa kalimat ini diucapkan? Saat itu Studio Sentosa kedatangan tamu-tamu yang akan rekaman di Studio kami. Mereka adalah anak-anak muda berpotensi suara bagus. Tetapi untuk menjamin tamu-tamu yang menginap ini, hampir semua kami merasa berat. Karena keuangan kami memang tidak memenuhi target bulan itu.
     Sebagai pimpinan suamiku mendesakku agar rela menampung 7 anak muda ini. Aku merasa berat, namun aku menaatinya. Aku berdoa di kamarku memohon agar Tuhan campur tangan dalam masalah ini. Aku tak malu membuka hati dan keberatanku kepada Allahku. tamu-tamu kami sambut dengan wajar, mereka makan dan minum di rumah kami. Lepas tamu yang 7 orang ini, tiba-tiba tawaran datang lagi untuk 7 orang berikutnya sampai terakhir tamu yang tidak kami duga seorang pemuda yang mencari adiknya. Tanpa terasa kami mengambil kesempatan juga melayani tamu-tamu yang datang yang belum sungguh-sungguh dalam Kristus. Dan memang Tuhan menghendaki demikian. Ada beberapa diantara mereka menerima Tuhan Yesus. Mereka dibebaskan dari ikatan dosa, termasuk pemuda terakhir seorang insinyur yang mencari adiknya yang sedang kami bina.
     Setelah tamu-tamu pergi, aku mencoba melihat persediaan beras yang tentu sudah ludes. Namun betapa terkejutnya aku ketika Ani, anak yang membantu kami membuka lemari tempat beras, hampir aku tak percaya pada mujizat ini. Beras dalam karung masih penuh tak berkurang. sedang dalam waskom tetap ada seperti semula.
     Aku menceritakan ini kepada suamiku, dan dengan rasa haru kami mengucapkan syukur kepada-Nya, untuk keajaiban yang Tuhan tampakkan. Aku sungguh meminta ampun kepada-Nya, karena kurang percaya akan kuasa-Nya yang tak pernah berakhir hingga masa kini. Terpujilah nama-Nya dan besarlah kuasNya, Ia telah menjamin tamu-tamu yang dikehendaki-Nya.
     "... setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah" (Yoh 15:2). Firman Tuhan ini rupanya dikhususkan bagi hamba Tuhan yang tengah dibentuk. Barang kali ada banyak orang kurang mengerti ataupun kurang setuju, kalau kami selalu menerima siapa saja yang mau menginap di rumah kami, tanpa terlebih dahulu menyelidikinya. Kami pun tak mengerti, mengapa kami tidak dapat menolaknya. Siapa pun orangnya, tanpa terkecuali.
     Kali ini seorang ibu dengan empat anak tanggung dan satu anak kecil. Oleh karena problema ibu ini menggugah hati kami, tanpa curiga kami menampungnya dan berusaha ikut memikirkan masalahnya.
     Ibu ini sering meninggalkan anak-anaknya dan pergi ke Jakarta karena urusannya dengan suami tak terselesaikan. Kami sungguh-sungguh berusaha menjernihkan hubungan suami istri yang terpisah ini. Akan tetapi rupanya masalah menjadi berkepanjangan, terjadi hal yang sama sekali tidak kami duga. ketika seorang kememakannya yang lari dan berlindung pada kami, terjadilah keburukan yang paling parah dalam sejarah hidupku sebagai ibu rumah tangga dan sebagai hamba Tuhan. Ibu ini tanpa belas kasihan, menuduhku dengan kata-kata yang sangat tajam, beberapa teman hamba Tuhan diminta menjadi saksi bagaimana ia tengah menghakimiku. Ia menudingku di depan orang banyak menyatakan aku telah menghabiskan uang kiriman untuk anak-anaknya dan bersekongkol dengan kemenakannya itu. Secara manusia aku hampir menjerit histeris. Di mana perasaan wanita ini, mengapa ia memutarbalikan semuanya untuk membuatku tolol seperti ini. Aku juga setengah menyalahkan suamiku yang berusaha mengajakku berdamai, namun bukan berdamai malah bertengkar. Dalam hati aku memohon, Tuhan, Engkau yang paling tahu masalahku, tolonglah aku ..., desisku dalam hati. Malam itu seperti malam gelap yang sangat mencekam, Allah memimpin hatiku yang terluka dan pasrah.
     "Ibu, semua tuduhan ... biar kuterima, namun mata Allah melihat kita masing-masing. Aku hamba Tuhan, aku tidak akan melayani pertengkaran. Ijinkan aku pulang."
     Wanita ini menjadi ganas dan hampir melempar gelas ke arah suaminya, ketika suaminya membelaku dan membenarkan kata-kataku serta minta maaf untuk perlakuan istrinya yang kurang baik ini.
     Kami pulang dengan hati yang sangat sedih, kami gagal dalam pelayanan. Kami juga sangat kecewa, mengapa hamba-hamba Tuhan rekanku mau menjadi saksi untuk perkara yang kurang baik ini.
     Aku tidak mencari pembela agar aku dibenarkan. Karena semua perkara hanya Tuhan yang mengetahuinya. Beberapa hari kemudian setelah berulang-ulang suamiku mencari daya agar jalan damai, ibu ini kembali minta diadakan pertemuan denganku. Suamiku mengira ia benar-benar mau berdamai. Karena inilah yang ia ucapkan.
      Saat itu ada perasaan lain dalam hatiku, aku merasa ibu ini tak jujur, ia akan kembali menyerangku. Perasaan ini kuceritakan kepada suamiku. Namun ia percaya kali ini, ibu itu serius mau menyelesaikan dengan cara damai. Baru beberapa ucapan sebagai permulaan, tiba-tiba ucapan ibu ini meluncur lagi menyerangku, ia menuduhku lagi mengambil uangnya. Aku benar-benar tak mengerti arah pembicaraan ibu ini. Semua pengeluaran telah dicatat dan dengan bukti pembayaran kwitansi. Uangnya memang tidak banyak, namun celakanya semua kwitansi dikatakan hilang, ini yang menyudutkan aku, yang tentu menjadi sedikit panik.
     "Duh Tuhan, apa yang harus kukatakan lagi, tolonglah hambamu ini, jangan terjerat oleh pertengkaran yang bodoh ini, Tuhan," inilah doaku dalam hati.
     Air mataku telah menggenang di sudut mataku, hatiku sangat sedih. Aku tak pernah ingin mendapat balasan apa pun dari ibu ini ketika anak-anaknya dititipkan kepada kami, ketika mereka tidak punya makanan, ketika mereka kesepian, kami sangat mengasihi mereka. Kami juga tidak menegur keras, ketika ia berbuat tidak baik, mengambil uang atau makanan kami. Namun ibu ini menutupi semuanya dengan alasan yang masuk akal.
     Tiba-tiba aku merasa Tuhan memenuhi aku dengan Roh-Nya.
     "Masuk ke kamarmu dan berdoalah!" demikian bisikan dalam hatiku.
     Aku bangkit dan meminta maaf, tidak akan mendengarkan lagi kata-katanya dan masuk ke kamar untuk berdoa.
     Sedangkan suamiku mengajaknya untuk menertibkan dia agar tidak lagi bicara banyak, tetapi mendengarkan Firman Tuhan.
     "Ranting yang berbuah, dibersihkannya." Inilah cara Tuhan mempersiapkan kami. Pembersihan ini sakit, namun besar faedahnya bagi kami.
     Tuhan membentukku secara khusus, agar aku rendah hati dan dapat mengekang diri. Namun pembentukkan ini belum cukup, Ia masih harus memprosesku lebih dalam untuk mempersiapkan aku benar-benar matang secara pribadi tidak bergantung kepada suamiku.
     Suatu hari Dewan Eksekutif memutuskan kami berangkat ke Kalimantan. Ini membuatku terkejut, benarkah demikian?
     Aku yang punya keluarga besar ini, harus ke Kalimantan Barat?
     Seperti domba kelu aku terdiam, saat itu aku memang dalam keadaan sakit. Ada bisul liar di bagian tubuhku. Bisul ini meradang dan menyakitkan, apakah dalam keadaan semacam ini aku sanggup sampai di sana. Namun tiba-tiba bisul liar kujadikan tanda, apakah benar ini Tuhan yang mengutus kami, ataukah keputusan hanya secara kebetulan.
     Tuhan membuktikan penyertaan-Nya lepas dari pertanyaanku yang tolol. Dengan pemeriksaan yang intensif pada dokter ahli kanker, aku pasrah pada kehendak Tuhan. Doaku hanyalah mohon kekuatan khusus dari Tuhan.
     Sepanjang perjalanan, aku merasa dihibur Tuhan. Yah, dulu aku belum dibebani anak-anak, aku ingin berkeliling dunia. Namun sekarang setelah anakku enam orang, Allah membuka jalan bagiku. Dengan diutus, kami dapat melihat Kalimantan bersama. Bahkan anak-anakku yang cuma tahu Kalimantan dari peta, sekarang mereka boleh merasakan piknik ke Kalimantan. Tak ada yang tak bersorak. Bibir anak-anakku memekik kegirangan.
     "Hore... kita dapat naik pesawat...!" sorak mereka.
     Aku tersenyum, "Inilah Tuhan sorakan anak-anakku, mereka punya kesempatan melihat bumi khatulistiwa dari dekat, dan aku, aku dapat mengaminkan sekarang arti panggilan-Mu dalam Kis 1:8, "Kamu akan menjadi saksiku di  Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
     Dan aku memang belum sampai ke ujung bumi, mungkin baru sampai di Yudea atau Samaria.
     Ada perasaan heran tak menentu atas pimpinan-Nya, kami belum tahu apa yang akan kami hadapi di sana.



Penulis: Ny. Es. E. Maukary.

Diterbitkan oleh: PT BPK GUNUNG MULIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar