oleh: Asmadi Kurniawan
Saya ingin menjelaskan sebuah kata atau istilah yang terdapat di dalam kitab Nabi Yesaya pasal 37 ayat 31. "Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yehuda, yaitu orang-orang yang masih tertinggal, akan berakar pula ke bawah dan menghasilkan buah ke atas." Istilah itu ialah "orang yang masih tertinggal" atau "sisa Yehuda". Kata ini sangat penting baik dalam sejarah Israel maupun dalam sejarah gereja.
Saya ingin menjelaskan sebuah kata atau istilah yang terdapat di dalam kitab Nabi Yesaya pasal 37 ayat 31. "Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yehuda, yaitu orang-orang yang masih tertinggal, akan berakar pula ke bawah dan menghasilkan buah ke atas." Istilah itu ialah "orang yang masih tertinggal" atau "sisa Yehuda". Kata ini sangat penting baik dalam sejarah Israel maupun dalam sejarah gereja.
Di dalam sejarah Israel Tuhan bekerja terus menerus dengan "sisa-sisa". Pada ayat di atas dikatakan bahwa sisa Yehuda itulah yang akan berakar ke bawah dan berbuah ke atas. Ini suatu hal yang aneh.
Sisa Israel
Bagi kita dalam kehidupan sehari-hari, sisa merupakan istilah yang tak begitu menyenangkan. Kalau kita makan, sisa makanan kita adalah kurang baik. Sisa itu dikumpulkan lalu diberikan kepada anjing atau binatang yang lain. Tetapi dalam Alkitab sisa Israel senantiasa berarti suatu umat yang meneruskan janji Allah, meneruskan karya penyelamatan Allah. Oleh karena itu istilah "sisa" dalam ayat 31 di atas mempunyai sangkut paut yang luas.
Kita tahu bahwa istilah "sisa" dalam Yesaya pasal 37 tersebut adalah istilah yang penting. Marilah saya akan memberikan gambaran sedikit mengenai istilah sisa di atas. Di dalam panggilan Tuhan bagi bangsa Israel, di bawah pimpinan Musa mereka menuju ke tanah perjanjian. Nampak bahwa Tuhan sudah terus menerus mengantar bangsa ini ke tempat tujuannya. Tetapi kemudian kita melihat istilah "sisa" atau pengertian sisa yang positif ketika mereka berada di ambang pintu masuk Tanah Kanaan. Di dalam Kitab Ulangan pasal 1 ayat 21 Tuhan berkata kepada Musa: "Ketahuilah, Tuhan, Allahmu, telah menyerahkan negeri itu kepadamu. Majulah, dudukilah, seperti yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu. Janganlah takut dan janganlah patah hati." Tetapi kita membaca di dalam ayat-ayat selanjutnya bahwa Musa tidak mengikuti persis perintah Tuhan itu.
Kegagalan Musa
Tuhan berfirman, Aku karuniakan, masuk dan ambil! Namun Musa tidak langsung masuk ke tanah itu, melainkan ia mengadakan konperensi lebih dahulu untuk menentukan cara masuk ke Tanah tersebut. Disinilah kegagalan Musa! Dengan kata lain Musa tidak taat 100% kepada apa yang dikatakan Allah.
Allah berfirman kepada Musa. tetapi Musa mau mempergunakan firman Allah ditambah otaknya sendiri bekerja. Musa mengirimkan orang-orang yang tidak beriman mengintai tanah itu. Tatkala mereka sudah kembali dari tanah yang berkelimpahan susu dan madu itu, mereka membawa berita yang menimbulkan kecil hati. Mereka mengatakan bahwa tentara musuh besar dan kuat. Mereka menjadi pesimis, merasa tidak mungkin bisa memasuki Tanah Perjanjian. Musa jatuh ke dalam kompromi. Ia sudah dijerat oleh dosa tidak atau kurang percaya, oleh dosa tidak menaati firman Tuhan 100%!
Akibat dari kesalahan Musa itu cerita selanjutnya adalah cerita yang menyedihkan. Musa dan orang-orang yangdipimpinnya tidak bisa segera masuk. Mereka terpaksa harus kembali ke padang belantara lagi. Dan, di sinilah istilah "sisa" itu mulai! Apa yang dikatakan di sana? Bahwa bangsa yang jahat ini tidak bisa masuk. Tetapi akan ada sisa yang masuk. Siapakah sisa itu? Sisa itulah Yusak (Yosua) dan Kaleb. Merekalah "sisa" itu, dan sisa inilah yang kemudian memasuki Tanah Kanaan.
Sebenarnya istilah "sisa" ini berlangsung terus menerus. Tuhan bekerja dengan sisa-sisa yang taat sepenuhnya kepada firmannya.
Pada ayat yang ketiga puluh satu tadi, yaitu Yesaya 37 ayat 31 kita membaca bahwa "orang-orang yang masih tertinggal" atau "sisah Yehuda" itu akan berakar pula ke bawah dan berbuah ke atas. Dengan kata lain, ibarat sebuah pohon, pohon ini akan berakar makin kuat, makin masuk ke dalam tanah, dan makin banyak buahnya di atas sana. Dua hal ini kita lihat sejajar. Yang satu makin lama makin ke bawah, yang lain makin lama makin banyak buahnya. Keduanya berjalan bersama-sama.
Berakar ke bawah: Iman
Di dalam Kitab Yosua pasal 1 ayat 11-17 dikemukakan bahwa Tuhan memberkati sisa Israel yang bersandar kepada Allah, yang mau hidup dengan iman kepada Allah, dan menghasilkan buah-buah rohani. Oleh sebab itu, berakar ke bawah adalah menunjukkan iman. Atau menunjukkan kehidupan yang bergantung, bersandar, dan sungguh-sungguh beralas kepada dasar yang kokoh, yaitu alas iman kepada Allah. Di luar akar iman yang tumbuh ke dalam ini, tidak ada buah-buah rohani yang keluar.
Pada ayat-ayat di atas terdapat prinsip rohani orang Kristen. Prinsip rohani itu ialah kita tidak dapat mengharapkan buah-buah itu datang, tanpa kita sungguh-sungguh masuk ke dalam persekutuan dengan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tetapi apa yang memungkinkan kita dapat bersekutu dengan Allah itulah yang penting, yaitu yang menjadi landasan persekutuan itu.
Kuasa Salib Kristus
Saya mau mengalihkan aplikasi dari Yesaya pasal 37 ini ke Perjanjian Baru. Atau lebih tepat dari Yesaya ini sekarang kita melihat kemuka kepada Salib Kristus. Salib Kristus yang telah beroperasi di masa yang lampau, yang beroperasi masa kini dan yang beroperasi ke masa depan. Saya masukkan tentang Salib Kristus ini karena ada bahaya yang bisa timbul bila kita berbicara mengenai buah Roh Kudus melulu tanpa kita masuk ke dalam pengalaman yang sederhana dari kuasa Salib Kristus!
Tuan Maxwell di dalam bukunya REVOLUSI ROHANI mengupas tentang satu segi yang sering dijumpai dalam kehidupan kita, yaitu segi kuasa Salib Kristus. Revolusi rohani oleh Salib Kristus. Berakar ke bawah di dalam Kitab Yesaya itu diarahkan ke depan, kepada suatu peristiwa yang terjadi di dalam sejarah dunia, yaitu kepada Salib Kristus! Di dalam Salib Kristus, tergantung kepada Salib itulah, kita akan makin lama makin berakar ke bawah!
Di dalam suratnya kepada sidang jemaat Korintus, jemaat yang penuh dengan orang-orang cerdik pandai dan pergolakan dunia, heran sekali bahwa Rasul Paulus menghadapkan mereka dengan satu perkara yang menakjubkan. Ia berkata bahwa tidak ada lain yang dia beritakan, yang dia sampaikan kepada orang-orang di Korintus melainkan Salib Yesus Kristus. Salib yang menjadi kebodohan bagi orang-orang pandai, yang dianggap remeh oleh dunia, itulah yang diberitakan oleh Paulus dan itulah pula yang merupakan kuasa Allah yang nyata! Orang-orang Korintus tercengang mendengar kata-kata Paulus itu.
Rahasia Kedalam Hidup Kristen
Tetapi hal itu memang benar. Kehidupan umat Kristen sesudah salib itu dipancangkan, bergantung kepada makin dalamnya pengalaman tiap-tiap orang dengan kuasa salib Kristus. Makin dalam pengalaman itu, makin ia berbuah. Selama pelayanan kami dalam bidang pastoral, harus saya katakan bahwa kebanyakan persoalan, perselisihan, dan problema dalam rumah tangga Kristen maupun dalam gereja terjadi karena mereka kurang memberi tempat kepada kuasa salib Kristus di dalam kehidupan Kristen mereka. Berita salib yang disampaikan Paulus kepada kaum filsuf di Korintus, di Areopagus bukit kaum filsafat, adalah berita terbesar dan terpenting sampai hari ini. Orang yang kurang mempunyai pengalaman dengan salib, hanya penuh pengalaman karunia rohani, dapat mengakibatkan bahwa buah-buah lebat tetapi pohonnya mudah runtuh sebab akarnya tidak tertanam dalam-dalam!
Sumber: dari buku "Buah Yang Tinggal Tetap" hal 1-6
Sumber: dari buku "Buah Yang Tinggal Tetap" hal 1-6
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar