Oleh: Asmadi Kurniawan
Memakai parfum itu ada seninya. Pakainya cuma sedikit, tetapi jangan juga terlalu sedikit sehingga tidak tercium sama sekali. Namun yang pasti, pakai parfum tidak boleh terlalu banyak, sebab nantinya orang yang menciumnya bisa kelenger atau semaput.
Seni berikutnya adalah tentang bagaimana dan di mana. Pakai parfum itu bukan dikecrot seperti kecap, tetapi dioles. Dimana diolesnya? Nah, ini seninya. Pilih titik yang strategis. Bukan di sekujur tubuh, tetapi hanya di bagian-bagian tertentu. Apa itu "bagian-bagian tertentu"? Eh, mau tau aje, itu 'kan rahasia perempuan.
Penyebab lain mengapa parfum dipakai cuma sedikit adalah karena harganya aduhai. Botol kecil yang isinya cuma beberapa tetes harganya bisa puluhan dollar. Itu sebabnya semua botol parfum berukuran kecil. Pokoknya, memakai parfum itu ada seninya.
Pernah Tuhan Yesus menghadapi seorang wanita yang tampak seperti tidak tahu seni parfum. Ceritanya terdapat di Markus 14:3-9. Wanita itu membawa parfum untuk Yesus, bukan dalam botol kecil melainkan dalam "suatu buli-buli pualam" (ay. 3). Menurut Yohanes 12 ukurannya "setengah kati", mungkin lebih dari setengah liter. Parfum itu berkualitas tinggi, yaitu "minyak narwastu murni yang mahal harganya" (ay. 3). Mungkin kalau zaman sekarang minyak itu setara dengan merek Amouge, Boucheron, Chanel, Davidoff, Ermenegildo, Fendi, Gianni, dstnya.
Persoalan timbul karena wanita itu menuangkan seluruh isi botol parfum itu di kepala Yesus (menurut Yohanes: kaki Yesus). Parfum itu bukan dioles, melainkan dikucurkan. Semua orang di ruangan itu langsung menoleh. Pasti hidung mereka tertusuk oleh harumnya (menurut Yohanes: "bau minyak semerbak di seluruh rumah itu"). Mereka juga menjadi gusar, "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin" (ay. 4-5). Reaksi itu sungguh bisa dimengerti. Sayang sekali parfum yang begitu mahal dituang sehingga tumpah di lantai.
Akan tetapi, ternyata reaksi Yesus sangat berbeda. Ia berkata, "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia?" (ay. 6; Alkitab Yunani: kopous parechete = membuat sedih).
Yesus bersikab demikian, karena yang dilihat-Nya bukan minyak wangi, melainkan motivasi dan intensi di baliknya. Ia menilai perbuatan wanita itu sebagai ungkapan cinta kasih. Yesus berkata, "Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku" (ay. 6). Memang di sini terjadi pemborosan, tetapi agaknya ini bisa disebut "pemborosan yang kudus". Bagi perempuan ini buli-buli parfum itu juga mahal sekali. Mungkin ini adalah hasil tabungannya selama beberapa tahun. Tetapi inilah cara yang dipilihnya untuk mewujudkan kedekatan, kemesraan dan cintanya kepada Yesus. Inilah baktinya bagi Yesus. Inilah ibadahnya bagi Tuhan. Ibadah adalah ungkapan rasa dekat, rasa mesra dan rasa cinta kepada Kristus.
Bahkan Yesus melihat sebuah simbol dalam perbuatan perempuan ini. Yesus berkata, "Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan penguburan-Ku" (ay. 8). Dalam adat Yahudi jenazah digosok dengan minyak wangi.
Mungkin perempuan ini juga berfirasat bahwa kematian Yesus sudah dekat. Karena itu, ia ingin mengungkapkan cinta justru selagi Yesus masih hidup. Ia berpikir, apa gunanya memberi minyak wangi pada jenazah. Orang mati tokh tidak bisa mencium apa-apa. Lebih baik sekarang, mumpung Yesus masih ada.
Maka diambilnya botol parfum kesayangannya. Berjalanlah ia ke rumah itu. Dihampirinya Yesus. Dipeluknya kaki Yesus dengan penuh perasaan. Kemudian dibukanya botol itu. Dituangnya parfum itu, "lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya" (Yoh 12:3).
Ia merasakan kedekatan itu. Ia merasakan kemesraan itu. Ia merasakan cinta itu. Ia menghirup dengan tarikan nafas yang sangat dalam. Uhhh, wanginya ...
SELAMAT BERBAKTI
Oleh: Dr. Andar Ismail
Diterbitkan oleh:
Diterbitkan oleh:
PT BPK Gunung Mulia.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar