Jumat, 10 Mei 2013

ZAMAN PARA BAPA BANGSA


                                       

                                  Oleh: Asmadi kurniawan
   Awal mula sejarah bangsa Israel menghilang ke dalam kabut yang kabur. Kenyataan dan dongeng bercampur baur tak terpisahkan. Namun demikian legenda itu itu sendiri menjadi unsur tak terhapus dalam kesadaran kita akan sejarah. Legenda itu mempunyai realitasnya sendiri. Apa yang berabad-abad lamanya umum dipercaya sebagai peristiwa yang pernah terjadi di bagian dunia yang disebut “Timur Tengah”, tidak kurang turut menentukan jalannya sejarah dunia dari pada apa yang sesungguhnya terjadi menurut penyelidikan yang akhir-akhir ini diadakan.
      Waktu Israel melintasi ambang pintu sejarah, maka wilayah Timur Tengah dikuasai oleh raja-raja yang berkediaman di pinggir sungai Nil dan di daerah Mesopotamia (wilayah antar sungai, yakni Efrat dan Tigris). Di tepi sungai Nil, di pinggir sungai Efrat dan Tigris yang airnya melimpah itu sudah berkembanglah dusun-dusun, yang penghidupannya tidak bergantung pada turunnya hujan yang tidak menentu. Maka para penghuni lembah sungai Nil dan daerah Mesopotamia tak perlu hidup sebagai suku-suku badui seperti suku-suku lain di daerah Timur Tengah yang setiap tahun terpaksa mengembara ke sana-sini untuk mencari tanah rumput bagi ternaknya.
     Di masa bangsa Israel terbentuk, maka negeri Mesir sudah berabad-abad lamanya merupakan sebuah negara yang terorganisasi dengan baik-baik. Para Firaun (bukan nama, melainkan gelar) tidak hanya menjadi kepala bangsanya, tetapi juga pelindung dan pemupuk peradaban yang mengesankan. Sampai hari ini piramide-piramide di negeri Mesir masih memberi kesaksian tentang aspirasi dan kebesaran para Firaun. Suratan-suratan yang dengan tulisan sakral yang disebut “hieroglifa” tersurat pada dinding kuil-kuil dan makam-makam masih juga menyatakan ambisi para Firaun yang gila hormat untuk menyimpan dan mewariskan pengalaman yang banyak mereka kumpulkan bagi angkatan-angkatan yang menyusul. Arca raksasa dan lukisan yang menurut patokan seni yang ketat dilukiskan pada dinding-dinding masih memperlihatkan bakat seni, kendati keterbatasannya akibat teknik seni yang sangat terikat pada pola-pola tradisional. Beberapa kali kekuasaan politik para Firaun melingkupi sebuah wilayah yang mulai pada sumber-sumber sungai Nil di negeri Nubia (sekarang Sudan) di bagian selatan sampai dengan gurun Sinai, negeri Kanaan dan Siria di bagian utara. Adakalanya tentara Firaun juga menyerbu ke negeri Libia di bagian barat. Hanya di sebelah timur laut pengluasan kekuasaan Firaun terbentur pada batas-batas yang dipasang oleh kerajaan-kerajaan yang susul-menyusul berkembang di daerah Mesopotamia, di antara kedua sungai besar, Efrat dan Tigris.
     Di daerah itu mulailah sejarah yang berawal orang-orang Sumer dan yang dapat kita ketahui berkat berbagai bahan yang masih tersedia. Di wilayah itu dan di bawah kekuasaan raja-raja yang berganti-ganti muncullah berbagai kerajaan, negara dan peradaban yang susul-menyusul, yang satu dihisap oleh yang lain. Sekitar tahun 2000 sebelum Masahi kerajaan orang-orang Sumer digulingkan oleh orang-orang Akkad. Adapun orang-orang Akkad yang suka berperang itu berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai jauh di luar daerah Mesopotamia. Bangsa Akkad mendirikan kerajaan yang paling berkuasa di dunia pada zaman itu. Gelombang invasi yang berikutnya datang dari bagian barat. Suku-suku Amori menjatuhkan kerajaan orang-orang Akkad. Dari bangsa Amori berpancarlah sejumlah wangsa kerajaan yang memuncak dalam wangsa kerajaan Babel.
     Ketika bangsa Ibrani tampil di panggung sejarah maka bangsa Sumer, bangsa Akkad dan Babel sudah berabad-abad lamanya mencapai tingkat kebudayaan yang tinggi. Desa-desa yang didiami kaum tani sudah berkembang menjadi negara-negara yang berupa kota dan yang menjalankan perdagangan yang mujur serta mengenal ketrampilan bermutu. Berkat penemuan system angka maka cara hidup dan pemikiran orang-orang Babel menjadi lebih teliti, saksama serta teratur dari pada seandainya tanpa sistem semacam itu. Tulisan Babel yang berupa paku jauh lebih baik dari pada tulisan Mesir yang berupa hieroglifa untuk melayani macam-macam keperluan. Para dewa, terutama dewata langit – udara, surya dan rembulan – dipuja dalam kuil-kuil yang berhias mengesankan. Dibangunlah sistem perairan saksama yang sangat memperluas wilayah pertanian, jauh di luar daerah yang digenangi oleh sungai Efrat dan Tigris. Tingkat tinggi kebudayaan Babel terutama tampak dalam kehidupan dan karya raja Hammurabi. Dalam abad 19 seb. Mas. raja itu dengan bangga menyebut dirinya: “Raja Babel, Sumer dan Akkad dan raja keempat benua”. Raja Hammurabi merebut banyak daerah lain dan masih memperluas perdagangan negerinya. Tetapi Hammurabi terutama mendapat nama karena “Kitab Hukumnya”. “Kitab Hukum” itu tersurat pada tiang batu yang dalam tahun 1901 diketemukan dan sekarang tersimpan di musium Louvre di kota Paris. Dengan bangga, seperti lazim pada negarawan, Hammurabi dengan singkat sekali (hal mana kurang lazim pada negarawan) memberitakan tentang pemerintahannya sebagai berikut: “Kepada negeri Sumer dan Akkad saya memberikan air yang tak kunjung habis. Kedua bangsa yang terpisah itu saya persatukan. Saya melimpahi mereka dengan berkah dan kesejahteraan. Saya membuat mereka diam di kediaman-kediaman yang aman-sentosa.”
     Menurut berita-berita yang tercantum baik dalam Alkitab maupun dalam sumber-sumber lainnya maka suku-suku Ibrani berasal dari wilayah Mesopotamia. Waktu suku-suku itu memasuki negeri Kanaan, mereka bukan suku-suku badui yang primitip lagi. Mereka bercirikan tempat kelahirannya, yakni Babel, sehingga mereka diresapi tradisi kebudayaan lama dari orang-orang Sumer, Akkad dan Babel. Kemudian mereka juga berkenalan dengan peradaban Mesir, sebab beberapa lamanya suku-suku Ibrani itu menetap di negeri di tepi sungai Nil itu. Namun demikian suku-suku itu memilih sebagai tanah airnya sebuah daerah yang terletak antara kedua kerajaan raksasa di bagian Timur Tengah itu. Di sana, di selajur tanah antara sungai Nil dan sungai Efrat, di tanah yang adakalanya menjadi jembatan dan adakalanya menjadi jurang antara dua kerajaan raksasa itu, orang-orang Ibrani memperjuangkan identitas kebangsaannya. Identitas itu terus-menerus terancam, namun dapat dipertahankan juga. Di negeri Kanaan, yang mendapat nama berkat suku-suku Ibrani itu, mereka tetap dibayangi oleh negeri Mesir atau negeri Mesopotamia. Tetapi akhirnya suku-suku itu hidup lebih lama dari pada negara raksasa itu, bahkan menjadi lebih penting.
      Daerah tersebut oleh para sejarawan kerap kali disebutkan sebagai “Bulan Sabit yang subur”. Namun demikian kata sifat “subur” itu bisa menipu. Sebab di samping tiap-tiap bidang tanah yang hijau bentanglah daerah luas yang hanya pasir dan batu belaka. Di zaman dahulu daerah ini menjadi tanah lalu lintas yang padat. Bangsa-bangsa, bala tentara, suku-suku badui, kaum dagang dan kafilah-kafilah melintasinya pulang-pergi. Di zaman dahulu dan kemudian daerah bulan Sabit yang subur itu menjadi tempat di mana orang tidak hanya tukar-menukar barang dagangan, tetapi juga pikiran. Pikiran itu sesudah dirubah dan dibentuk kembali lalu disebar-luaskan ke mana-mana.
     Di daerah orang-orang Ibrani menetap jarang sekali ada kemantapan dan keamanan, seperti Mesir dan Mesopotamia sering kali menikmatinya berabad-abad lamanya. Para penduduk daerah itu terus-menerus dalam perjalanan ke wilayah lain atau terancam kebinasaan. Kebanyakan suku-suku itu hanya kita kenal namanya saja. Nama-nama itu terdapat dalam daftar bangsa dan suku sebagaimana disajikan Alkitab dan sumber-sumber lain. Tetapi tiba-tiba muncullah dari daerah Mesopotamia sekelompok suku yang lalu berurat-berakar di bagian barat daya daerah Bulan Sabit yang Subur. Suku-suku itu mengembangkan identitas nasionalnya sendiri yang mewariskan dua hadiah, yakni: sejumlah hukum susila yang berdasarkan pemandangan unggul terhadap sejarah dan di samping itu sejumlah kitab yang memberikan kesaksian tentang keluhuran budi dan hawa napsu, dan yang sepanjang sekian banyak abad oleh lebih banyak orang dihormati dan dikagumi dari pada kitab lain manapun, sebelumnya atau sesudahnya.

Para moyang sebuah bangsa

    Pendapat bahwa mereka berasal dari seorang moyang saja memanglah sangat menolong mempertahankan kesatuan bangsa Ibrani. Namun demikian kisah tentang Abraham, Ishak dan Yakub, yang tercantum dalam Kitab Kejadian mempunyai beberapa ciri sebuah mythos nasional, yang cukup lazim. Kisah itu mengingatkan suatu zaman, waktu para dewa masih secara mesra bergaul dengan manusia dan turun tangan dalam hidup sehari-hari. Meskipun gaya bahasa kisah itu serupa dengan gaya bahasa legenda dan bahasanya mirip dengan bahasa dongeng, namun rangka dan latar belakang cerita-cerita itu bersesuaian dengan apa yang oleh ilmu sejarah ditampilkan sebagai hal yang dapat dipercaya. Misalnya cukup terbukti bahwa di masa raja Hammurabi di Babel dan juga kemudian dari itu banyak keluarga dan suku berkeliaran di bagian pinggir daerah Bulan Sabit yang Subur. Alkitab memberitakan bahwa Abraham sendiri meninggalkan kota Ur Kasdim di bagian barat daya Mesopotamia. Ia pindah ke kota (daerah) Haran, sebuah pusat orang-orang Amori di bagian barat laut Mesopotamia. Di Haran Abraham disuruh oleh Allah meninggalkan negeri dan sukunya sendiri untuk mendirikan sebuah bangsa baru di negeri lain. “Aku akan membuat engkau jadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau dan membesarkan namamu, sehingga engkau menjadi berkat” (Kej. 12:2).
     Taat kepada pesan ilahi itu Abraham menempuh perjalanan menuju ke bagian barat Palestina (nama itu baru diberi jauh di kemudian hari), yakni negeri orang-orang Kanaan. Kepada Abraham dijanjikan sebagai milik warisan negeri yang membentang dari “Dan sampai ke Bersyeba”. Kebanyakan penduduk negeri itu berbangsa Semit. Namun demikian negeri itu karena tanahnya yang berbeda-beda serta iklimnya yang berlain-lainan, dengan pegunungan dan tanah dataran, dengan penduduknya yang bermacam-macam kebangsaannya, merupakan daerah yang secara alamiah mesti menghasilkan berbagai negara kecil. Dalam kenyataan di daerah itu terdapat sejumlah kerajaan kerdil, yang dengan pesatnya muncul dan menghilang. “Raja” yang kepadanya Abraham menjual sebidang tanah dan yang dari padanya ia membeli sejumlah sumber air, kiranya hanya kepala suku, sama seperti Abraham sendiri. Bagaimanapun juga hanya beberapa bagian yang hijau sajalah yang dapat didiami secara tetap. Pada umumnya negeri Kanaan hanya dapat menjamin nafkah kepada suku-suku badui yang puas dengan apa yang mutlak perlu dan taraf hidup minimal. Adapun Abraham, Ishak dan Yakub tidak hidup seperti kaum tani yang menetap dan tidak pula seperti kaum badui. Cara hidupnya setengah-setengah. Mereka mengembara dari kota-kota – seperti Yerusalem, Hebron, Bersyeba dan Gerar – ke mata air dan sumber di padang gurun. Memanglah tanah Palestina bukan tanah yang menarik untuk menetap dan bertani. Suatu ikatan kuat mempertahankan kesatuan keluarga yang terus-menerus bepergian, bukanlah untuk mencari tanah di mana dapat mendirikan sebuah negara, melainkan hanya untuk mencari penghidupan saja. Kemudian, yakni di masa Yusuf, suku-suku Ibrani itu mulai ikut-serta dalam lalu lintas perdagangan internasional; mereka bergabung dengan kafilah-kafilah yang dengan membawa rempah-rempah, mur dan balsam bertolak dari daerah Gilead. Tetapi Abraham hanya menuju ke sebelah selatan, ke negeri Mesir, waktu di masa paceklik negeri Kanaan tertimpa kelaparan. Setelah padang rumput menghijau lagi, maka segera ia kembali ke Kanaan.
        Keluarga Abraham membeli di Hebron sebuah gua, yakni     Makpela, yang dijadikan makam keluarga. Setelah Abraham meninggal dunia, maka anaknya, Ishak, bertanggung jawab untuk meneruskan keluarga. Ia menghendaki bahwa anak bungsunya, Yakub, kawin dengan seorang puteri dari keluarga yang masih berkerabat, supaya ikatan keluarga jangan terputus. Namun demikian antara kedua saudara kembar, yakni Esau dan Yakub, terjadi percekcokan, baik karena alasan pribadi maupun alasan ekonomis. Esau disebut sebagai “orang yang pandai berburu, suka mengembara di padang-padang, sedang Yakub menjadi orang yang tenang, yang tinggal di kemah” (Kej. 25:27).
     Dengan kedua istrinya Lea dan Rakhel dan dengan kedua hamba sahaya istrinya Yakub memperanakkan duabelas putra: Ruben, Syimeon, Lewi, Yehuda, Issakar, Zabulon, Dan, Neftali, Gad, Asyer, Yusuf dan Benyamin. Keturunan ke duabelas anak Yakub itu, yakni “suku-suku Israel” atau Bani Israel” atau “orang-orang Israel” menjadi satu kelompok yang jelas dapat dikenal sebagai sebuah kesatuan sosial. Pada umumnya mereka tidak masuk persekutuan militer dengan suku di luar kelompoknya sendiri; negeri Kanaan mereka anggap sebgagai tanah dan warisannya. Manakala packlik memaksa mereka mengungsi di negeri Mesir, maka mereka merasa dirinya sebagai “orang asing” dan “perantau” di sana, sebagai “tamu” yang untuk sementara waktu tinggal di pembuangan. Ciri suku-suku itu yang khas dan yang membedakan mereka dengan suku-suku lain yang serumpun, ialah (menurut pendapat umum) agamanya yang kurang lebih monoteistis. Mereka yakin bahwa Allah mereka membimbing apa yang terjadi di dunia dan menentukan nasib manusia. Dalam hal ini mereka berbeda sekali dengan agama orang-orang Mesopotamia dan mesir, yang politeistis dan sangat samar-samar.

Cita-cita orang-orang Ibrani

     Jadi pertimbangan-pertimbangan rohaniah-keagamaanlah yang mendorong Abraham untuk pergi dan yang mempersatukan keturunannya. Memanglah baik bagi perginya Abraham maupun bagi persatuan suku-suku Israel tidak ada keterangan lain kecuali motip-motip keagamaan tersebut. Sebab negeri Mesopotamia, tempat kelahiran Abraham, merupakan pusat dan asal-mula kebudayaan di zaman itu. Kesenian di sana jauh lebih maju dan lebih halus dari pada yang di negeri Kanaan. Berkat tata-hukum dan perdagangan maka masyarakat di sana jauh lebih mantap dari pada di tempat manapun. Maka tidak dapat tidak Abraham mengungsi karena terdorong oleh keyakinannya dan karena memprotes masyarakat yang ada di Mesopotamia. Demikian pun dapat disimpulkan dari berita yang tercantum dalam Kitab Kejadian bahwa Abraham memprotes kekurangan logika yang melekat pada cara hidup dan cara berpikir di Mesopotamia; dan ia pun yakin bahwa di tempat lain dapat menemukan jawaban yang lebih memuaskan atas teka-teki yang terpancar dari nasib manusia.
     Adapun kisah mengenai para bapa bangsa dalam Kitab Kejadian ia menyusul kisah-kisah mengenai penciptaan dan air-bah. Di dalam kisah-kisah itu ditemukan banyak unsur yang juga dikenal oleh tradisi di Babel; kisah mengenai Yusuf memuat beberapa nama dan cerita-cerita yang aslinya berasal dari negeri Mesir. Namun demikian, apa yang membedakan para bapa bangsa dengan dunia sekitarnya jauh lebih penting dari pada apa yang mengkaitkan mereka dengan adat kebiasaan sezamannya. Awal-mula sejarah Israel yang menghilang ke dalam kabut mesti berupa sebuah revolusi, sebuah protes terhadap tradisi dan bukanlah kelanjutannya: tampil sebuah pandangan baru mengenai manusia dan mengenai dunia dan berbarengan dengan itu ditolaklah pandangan mitologis dan panteon yang berisikan dewa-dewa yang saling bertentangan. Gagasan bahwa hanya ada satu Allah yang esa dan transenden, secara dasari merubah pandangan yang lama dan menciptakan kategori-katagori pemikiran yang baru. Maka dari itu pengungsian Abraham dari negeri kelahirannya mesti diartikan sebagai pemutusan radikal dengan pandangan kafir. Sebagai penggantinya agama Israel menerima adanya Yang Esa yang menguasai segala sesuatu; Yang Berbudi yang mengarahkan segala-galanya kepada sebuah tujuan, Allah yang mengusahakan apa yang baik menurut tata-susila dan yang sifat utama-Nya ialah kebaikan hati.
     Adapun bangsa Israel menulis sejarahnya dengan disinari cita-cita yang baru. Sejarah Israel yang merangkum pengungsian Abraham ke negeri Kanaan sampai dengan tinggalnya Yakub serta anak-anaknya di negeri Mesir itu turut memberi ciri yang khas kepada alam pikiran bangsa Yahudi. Sejarah itu bukanlah sebuah tawarikh mengenai pahlawan-pahlawan yang mengatasi manusia di zaman awal-mula dahulu; bukan pulalah sejarah mengenai sebuah dunia para pahlawan, sebagaimana yang suka dibayangkan oleh bangsa Yunani dan bangsa-bangsa lain dari zaman dahulu sebagai awal-mula sejarahnya sendiri. Sudah barang tentu kisah-kisah tentang Abraham, Ishak dan Yakub berisikan keinsafan bahwa mereka terpilih oleh Allah. Tetapi di samping itu diceritakan tentang hal-hal biasa dan yang keduniaan; dikisahkan sebuah cara hidup sederhana di mana perjuangan dan tipu-daya bergiliran dengan perasaan manis dan halus. Baik dalam kesusastraan dari zaman kemudian maupun dalam tradisi bangsa Yahudi, Abraham, moyangnya, dianggap sebagai teladan dan penjelmaan dua sikap hati yang ulung, yakni: kebaikan hati dan kehalusan budi dalam pergaulan dengan sesama manusia, dan kepercayaan serta penyerahan kepada kehendak Allah, suatu penyerahan yang jauh lebih dari hanya kerendahan hati saja. Juga tradisi Kristen dan Islam menganggap Abraham sebagai tokoh historis benar dan menghormatinya sebagai moyang rohaninya. Tetapi untuk bangsa Israel Abraham menjadi moyang pertama yang tidak ada tara bandingnya; lambing keunggulan bangsa Ibrani. Dijiwai oleh perjanjian, yang diikat Allah dengan Abraham, dan dipersatukan oleh ingatan akan ketiga angkatan yang menyusul moyangnya itu bani Israel, yang di negeri Mesir mengalami nasib buruk, tampil di panggung sejarah resmi di pertengahan milenium ke-2 sebelum Masehi.


                                    Oleh:

                         ABBA    EBAN


                            alih    bahasa
            lembaga biblika Indonesia



Penerbit Nusa Indah – Percetakan Arnoldus
                        Ende – Flores 

Kamis, 20 Desember 2012

Yue-Yue bocah malang.


Video tragis dan menyesakkan muncul di internet dimana anak perempuan berusia 2 tahun tertabrak dua kali di Cina oleh mobil van yang berbeda tapi diacuhkan saja oleh orang-orang yang lewat di jalan. Kejadian ini berlangsung di kota Foshan Provinsi Guandong pada tanggal 13 Oktober lalu.
Hal yang membuat gusar dan marah adalah ketika pertama kali anak kecil tersebut tergilas ban depan mobil van, pengemudi van tidak berhenti malah sengaja melindasnya begitu saja. Kemudian anak yang bernama Yue yue (Wang Yue) ini tergeletak begitu saja tanpa ditolong padahal beberapa orang lewat di jalan tersebut. Pada akhirnya ia pun ditabrak oleh mobil van kedua, dan tetap saja orang yang lewat mengacuhkannya. Ada yang sempat berhenti, tapi kemudian pergi. Baru orang ke-19 yakni seorang wanita tua yang berprofesi sebagai pemulung, sebagaimana terekam kamera, yang memperhatikannya, tapi itu pun hanya menempatkannya di tepi jalan karena sepertinya bingung harus bagaimana menolongnya. Ibu kandungnya yang sedang berbelanja di toko sekitar baru datang histeris setelah itu, dan mengambil langsung anaknya. Ibunya sempat pingsan dan ditenangkan oleh orang-orang sekitar.
Video anak yang ditabrak dua kali ini di Cina ini, mengundang kecaman para pengguna internet, termasuk masyarakat Cina sendiri. Sikap acuh dan ketidakpedulian tersebut ada kaitan dengan sikap hidup materialistik yang makin berkembang disana yang sudah mulai menggantikan nilai-nilai moral seiring dengan perkembangan ekonomi China dan kesenjangan yang meninggi antara yang kaya dan miskin. Orang-orang juga takut menolong karena takut dianggap bersalah, sebagaimana dilansir berita dailymail ada kejadian pihak korban menuntut uang pada orang-orang yang dianggap salah padahal sebenarnya menolong. Media massa Cina juga mengangkat ini dan mengajak untuk perenungan bersama. Dan ada pejabat partai komunis setempat yang juga mengajak untuk evaluasi bersama agar bisa mengangkat kembali standar nilai-nilai moral di masyarakat.
Bocah malang Yueyeu ini sekarang berada dalam kondisi koma, istilah medisnya mengalami kematian otak. Harapan hidupnya nyaris tak ada, dan tinggal menunggu kematiannya saja. Kedua orang tuanya mendapat bantuan dana pengobatan dari orang-orang yang bersimpati di seluruh dunia yang totalnya mencapai lebih dari $42.000 (empat puluh dua ribu dolar). Sempat diberitakan Yue Yue agak membaik dan sudah bisa bernafas lemah dengan bantuan alat pernafasan setelah dirawat berhari-hari. Namun kemudian kondisinya makin memburuk. Ibunya berada dalam sebuah dilema, antara terus berharap anaknya membaik lalu sadarkan diri atau merelakan kepergian anaknya dengan melepas alat bantu pernafasan yang selalu melekat di tubuh anaknya. “Jangan menyerah ya anakku, karena ibu tak menyerah. Biarkan ibu dapat kesempatan untuk sekali lagi mencintai dan memanjakan dirimu,” begitu rintihan sang ibu sebagaimana dikutip media. Akan tetapi pada akhirnya setelah lebih dari seminggu berjuang antara hidup dan mati, Yueyue dinyatakan meninggal dunia.
Kedua pengemudi mobil van sudah ditahan pihak yang berwajib. Salah satu pengemudi yang melindas Yueyue sedang memakai HP, saat kejadian, dimana baru saja putus dengan pacarnya. Ia bahkan dilaporkan sempat menelpon ayah Yueyue untuk berdamai dengan tawaran uang darinya. Ia berkata memutuskan tetap melaju dan melindas Yueyue dengan ban belakang padahal sudah terlindas lebih dahulu oleh ban depan karena melihat Yueyue yang sudah berdarah-darah lalu memutuskan kabur karena tak ada orang lain yang melihat. Orang-orang yang belasan jumlahnya yang tak peduli dengan Yueyue yang tergeletak di jalan banyak yang mengaku tak melihat Yueyue karena suasana jalan yang relatif gelap. Sang ibu pemulung tua yang sempat memindahkan tubuh Yueyue dari tengah jalan mendapat penghargaan dan uang sekitar seribu lima ratus dollar dari pemerintah setempat.


Sumber: http://horizonwatcher.blogdetik.com/2011/10/18/video-anak-tertabrak-di-cina-dua-kali-diacuhkan-orang-sekitar/


Rabu, 19 September 2012

PERUBAHAN USIA

Oleh: Asmadi Kurniawan


Semua makhluk hidup pasti mengalami perubahan usia. Kita adalah makhluk yang fana. Kita menjadi tua dan akhirnya mati. Namun perubahan usia kadang disertai dengan suatu pergumulan yang tidak mudah diatasi.

     Setelah seseorang meninggalkan masa remaja dan memasuki usia dewasa, biasanya penuh dengan kesibukan: sibuk belajar, sibuk bekerja, sibuk mengurus rumah tangga, anak-anak, dsb. Namun, ketika seseorang memasuki masa tua, maka mulai menghadapi berbagai masalah baru. Memasuki masa tua, seseorang akan mengalami banyak sekali perubahan hidup. Seseorang akan mengalami kelemahan tubuh, datangnya beberapa penyakit yang biasanya dialami orang yang mulai tua.

     Semua itu sebenarnya wajar saja dan akan dialami oleh semua orang. Namun, perubahan-perubahan itu juga dapat menimbulkan rasa takut, cemas, kecewa, tidak bisa menerima keadaan, dan putus asa. Dalam penderitaan semacam itu, orang bisa merasa bahwa hanya ia sendiri yang mengalami penderitaan itu. Orang bisa merasa bahwa hidupnya sudah tidak lagi berarti. Berbagai sindrom, misalnya post-power syndrome dan sindrom-sindrom ketuaan lain sering menggejala di dalam memasuki masa tua.

     Ada beberapa hal yang perlu kita miliki agar kita sanggup mengatasi badai kehidupan di masa tua dan tetap tegar walau tubuh makin lemah.

1. Mengenal diri

Bila seseorang tidak mengenali apa yang sedang terjadi di dalam dirinya, maka ia akan terus menerus memberontak dan tidak dapat menerima apa yang sedang terjadi di dalam hidupnya. Orang yang memasuki masa tua, hendaklah menerima segala perubahan. Bukankah di dalam apa pun yang kita alami, ada Tuhan yang turut bekerja untuk kebaikan kita? (Rm. 8:28).

2. Penguasaan diri

Orang yang memasuki masa tua sering merasa serba tidak menyenangkan karena kehilangan kebanggaan masa lalu, kehilangan kekuatan, kehilangan kesehatan, dan harus bergantung pada orang lain. Namun, bukan berarti harus terus-menerus marah dan jengkel. Kita harus dapat mengendalikan perasaan dan diri kita. Roh Kudus akan menolong kita dalam menguasai perasaan, perkataan, dan tindakan kita (Gal. 5:22-23).

3. Hidup dalam kasih

Tentu kita semua telah merasakan kasih Tuhan yang kita alami setiap hari, bahkan setiap saat. Kasih Tuhan itulah yang dapat menguatkan kita dalam memasuki hari tua. Tuhan tidak akan meninggalkan kita sampai rambut kita putih (Yes. 46:4). Kasih Tuhan akan menolong kita untuk kuat dan tegar dalam menghadapi setiap penderitaan. Kasih Tuhan yang memenuhi hati kita akan menolong kita untuk mengasihi sesama kita, walau kita di dalam kelemahan.

4. Hidup beriman

Tubuh boleh rapuh, tetapi kita harus terus menjaga iman kita sampai akhir hidup kita. Iman kita akan tetap berpijar bila kita memelihara hubungan dengan Tuhan. Berdoa setiap saat dan belajar firman Tuhan harus tetap dilakukan pada masa tua. Justru orang-orang yang telah lanjut usia mempunyai lebih banyak waktu untuk berdoa dan belajar firman Tuhan. Iman akan menolong kita tegar menghadapi segala kelemahan kita.

5. Pengharapan

Orang yang tidak memiliki pengharapan bagaikan orang yang mati sebelum ajal. Pengharapan akan menolong kita untuk kuat dan tegar dalam hidup ini. Tuhan sumber pengharapan kita. Kita dapat mengharapkan penyertaan Tuhan, kekuatan Tuhan, pertolongan Tuhan dalam menghadapi penderitaan kita. Dengan pengharapan, kita akan tetap memiliki sukacita dalam menjalani kesulitan-kesulitan kita.

Rabu, 05 September 2012

Menghancurkan Persembunyian Iblis

Oleh: Asmadi Kurniawan


RUPANYA Tuhan Yesus melibatkan aku agar mengikuti pelayanan suamiku untuk melatih imanku yang belum berkembang. Tentu kami berdua yang dipersiapkan menjadi hamba-Nya tidak pernah membayangkan bahwa iblis akan berhasil masuk dalam rumah tangga kami.

     Kami sadari contoh nyata dari kehidupan Imam Eli yang gagal, karena anak-anaknya Hofni dan Pinehas tidak menaati firman Allah dan bahkan dengan sengaja menyangkali firman Allah serta hidup dalam dosa. Kami sadar hamba-hamba Tuhan yang sibuk selalu akan dihantui penyakit ini. Apakah ini merupakan penyakit yang menular bagi kami hamba-hamba Tuhan?

     Kami berusaha mendidik anak-anak kami agar mereka berpaut dengan firman Tuhan. Dan kami berusaha menegur keras apabila mereka tidak menghormati firman Allah. Namun kami tidak tahu persis apakah taburan kami mendarat dalam hati mereka? Apakah mereka benar-benar menaati firman Tuhan?

     Sebagai ibu, aku lebih cepat mencium bau busuk yang kebanyakan dibawa anak laki-laki. Setiap kali mereka memutar lagu-lagu duniawi atau melihat film-film video kasar, membuat aku bergumul. Kapan mereka sadar dan bertobat? Untuk itu, secara rutin, aku dan suamiku setiap hari mengambil waktu teduh khusus mendoakan putra-putri kami.

     Hari ini putraku pertama pulang agak awal, mengeluh pusing kepala. Ia minta obat pusing, tetapi pusing rupanya berkembang menjadi demam tinggi, sepertinya anakku terserang influensa. Oleh karena demamnya agak serius, kami konsul ke dokter kenalan kami. Dan ia memberikan obat untuk Yehuda. Empat hari ia meringkuk di kamar karena demam tersebut. Namun anehnya ia yang sudah kuanggap sebagai pemuda, karena tubuhnya yang tumbuh segar, walau usianya baru 18 tahun kurang, saat seperti  ini, ia malah minta ijin tidur di kamar kami. Suamiku mengijinkan putra kami bermanja-manja sedikit saat ia sakit. Dalam hatiku bertanya-tanya, anak ini tak pernah bermanja sebelumnya, tidak juga terlalu dekat dengan kami, seperti adik-adiknya. tetapi ia kini minta tidur bersama kami, sepertinya ada ketakutan yang tersembunyi di balik hatinya.

     Diam-diam aku terus memperhatikan tingkahnya. Tampak sekali ia cemas, baik dari tutur katanya, ataupun tingkah lakunya. Ada apa sebenarnya? Inilah pertanyaan yang menyelip dihatiku.

     Siang hari, sepulang kami dari kantor, Yehuda mengeluh, rahangnya tiba-tiba kaku. Aku mencoba melihat rahang yang tampak kaku itu. Aku menanyakan permulaannya bagaimana dapat seperti itu. Padahal demamnya sudah menurun. Kuperhatikan secara teliti rahang anakku, benar memang seperti kram saja. Anakku mengeluh sakit apabila kram mulai muncul.

      "Kapan mulai begini?" tanyaku ingin tahu.

     "Tadi ketika aku mau berdoa dan membaca firman Allah."

     Laporan ini sama sekali tidak membuat kesan lain, dugaanku mungkin ia kena angin, karena ia tidur di bawah. Aku minta agar suamiku membawa lagi ke dokter.

     "Kita berdoa dahulu," kata suamiku menenteramkan kami.

     Tetapi tiba-tiba Yehuda berteriak,

     "Ma...ma... kramnya datang lagi Ma, aduh Ma, aku takut Ma." Yehuda menjadi sedikit gelisah, karena kramnya menjalar sampai ke leher.

      Kram itu berpindah-pindah dari leher ke tekak, dari tekak ke lidah lalu mata Yehuda pun sudah memudar. Aku sedikit berdebar, apa gerangan yang terjadi pada anakku ini?

     Aku meminta ulang kepada suamiku agar membawanya ke dokter kenalan kami, maksudku dengan memeriksakan dia ke dokter akan segera tahu, apa penyebab kram ini.

     Dokter memeriksa anakku dengan teliti, dan memberikan injeksi untuk menghentikan kram. Menurut dokter, kalau ini gejala angin maka dengan injeksi akan reda. Oleh karena itu kami harus menunggu di tempat praktek sampai kram hilang. Suamiku terpaksa meninggalkan kami oleh karena ia harus menyambut tamu-tamu yang datang dari Korea. Sudah beberapa menit, rupanya obat yang disuntikkan tidak mempan, dokter memberikan resep untuk membeli obat yang lebih kuat. Dan setelah obat dimasukkan, kami disuruh menunggu lagi. Namun yang ini pun tak berhasil. Dokter temanku memeriksa ulang, ia seorang rohani, oleh karena itu, ia mengatakan kepadaku, agar aku menyelidiki kasus ini dari segi rohani. Karena dari segi medis, tidak tampak adanya penyakit yang mengkhawatirkan.

     Pada saat itu Yehuda sudah semakin tersiksa. Setiap kali kram itu datang, ia menjerit kesakitan, dan yang aneh, lidah Yehuda dapat terjulur keluar sampai tampak akarnya, lalu tergulung habis ke dalam. Ia merintih dan menangis. Mata anakku sudah mulai kosong. Aku sebagai ibunya, merasa ikut terpukul dan tersiksa melihat penderitaan putraku. Belum pernah ia pasrah ataupun menangis kalau ia sakit. Bahkan belum pernah ia jatuh dalam pelukanku saat ia sakit. Namun saat itu, dalam keadaan ketakutan, ia minta aku memeluknya. Ia kelihatan begitu menderita, dan sedikit pun tak membiarkan aku meninggalkan dia.

     Pulang dari dokter sudah jam 19.00, suamiku belum pulang juga. Baru saja aku mau meninggalkan dia untuk mengambil makanan, tiba-tiba anakku berteriak lagi, dan kali ini dengan sangat ketakutan.

     "Ma..., ma... jangan pergi Ma, aku takut Ma, doakan aku Ma."

     Dengan cepat aku kembali ke tempat tidurnya. Rahang, leher, mata, lidah mulai berturutan kram, dan suara tangis anakku telah berubah. Ia tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan jelas, seperti orang yang hampir kelu. Aku merasa sangat iba, aku tak tahan melihat anakku menderita. Oleh karena itu aku mengangkat tanganku untuk menyembah dan memuji Tuhan. Dengan hati yang sangat hancur, aku tak mampu mengucapkan doaku, selain memuji dan menyembah-Nya. Namun tiba-tiba aku merasakan kehadiran Allahku. Aku mengalami kekuatan yang luar biasa, kekuasaan penuh dari Tuhan. Doaku sudah berubah kalimat, aku mengucapkan doa dalam bahasa asing.

     Satu tangan kuangkat ke atas untuk menyembah Tuhan, tangan satunya tertumpang di kepala anakku. Tiba-tiba Yehuda menggeliat, dan wajahnya berubah, ia berteriak,

     'Panas... panas...!" Melihat gejala itu, aku semakin bersemangat aku mulai sadar, Yehuda tidak teerserang sakit biasa, ada roh lain yang bersarang di balik penyakitnya. Aku terus gencar menyembah Tuhan, dan ia terus menggeliat-geliat kepanasan. Saat demikian suamiku muncul, ia segera bergabung bersamaku. Kami gencar berdoa, kali ini aku mulai menengking iblis, aku memerintahkan agar iblis keluar. Terjadi peperangan yang luar biasa. Anakku berteriak-teriak, iblis bertahan tak mau keluar, ia menyiksa anakku, membantingnya, menekuknya dan membuat anakku menggeliat-geliat di tempat tidur. Pada saat itu, suamiku imannya mulai kendor, ia meninggalkan aku sendiri menggumuli anakku. Suamiku berdoa sendiri di ruang lain dan meminta ampun kepada Tuhan untuk dosa-dosanya. Lidah Yehuda terjulur panjang, ia mulai mengejekku, aku menjadi makin panas, aku mulai benci kepada iblis. Sekali lagi kuangkat tanganku tinggi-tinggi, lalu kutantang iblis dengan berani, kali ini tegas kuperintahkan agar dia meninggalkan anakku Yehuda.

     Anakku meronta keras, dia terbanting dan berteriak, tetapi iblis memekik sambil mengatakan ia tak mau keluar.

     Aku mulai berkonsentrasi, persis seperti seorang bidan yang sedang menunggui seorang ibu yang akan melahirkan putranya.

      "Baik," kataku, "kamu tak mau keluar, sekarang rasakan, kau kubakar dalam nama Yesus!"

     Dan tanganku seolah-olah melemparkan api ke rahang Yehuda.

     Tiba-tiba Yehuda berteriak seperti tercekik dan muntah. Namun masih ada kram di tempat yang lain, kali ini tampak lidahnya sering terjulur. Dengan gemas, jari-jariku kutempel ke lidah Yehuda, dan kuperintahkan iblis meninggalkan lidah anakku, sekali lagi yang ini pun menolak, aku jadi garang.

     "Kubakar kau dalam nama Yesus," kataku sekali lagi. Dan Yehuda kembali terkapar dan berteriak melengking lalu muntah.

     Beberapa teman yang mendengar teriakan anakku mulai berdatangan, mereka mendukung kami dalam doa. Saat itu suamiku sudah mulai kuat dan bergabung lagi denganku. sampai jam 24.00, iblis belum semua keluar. Kram masih ada di beberapa tempat, sedang anakku mulai dapat berbicara lagi.

     Dengan aktif Yehuda ikut menunjukkan di mana persembunyian iblis. Memang hal ini luar biasa. Pengalaman ini masih sangat baru bagi kami dan kami belajar dari pengalaman yang baru ini. Anak kami ini sudah menerima Tuhan Yesus sejak ia berusia 4 tahun, saat ia mengenal apa itu dosa. Lalu ia mengalami kelahiran baru dalam pelayanan kebangunan rohani.

     Dan dalam kondisi mundur rohani, iblis berhasil mengecoh dia menyerang fisiknya tetapi tidak mampu menerobos masuk ke dalam roh dan jiwanya. Oleh karena itu saat kami berdoa, dengan kesadaran penuh ia ikut berdoa. Namun saat iblis menyerangnya, ia tak mampu bertahan, iblis mengambil alih suara dan kalimat-kalimat yang diucapkannya. Ia dengar, ia tahu kalimat-kalimat itu bukan dari dia tetapi dari iblis. Seperti menolak keluar, atau menyebut namanya, lalu menatap ke arah orang-orang tertentu, ia terkadang tidak mau seperti itu, tetapi tak dapat melawannya. Tidak ada kemampuan melawannya.

     Lewat jam 24.00, teman-teman lain sudah mulai capai, mereka pulang, Yehuda minta terus didoakan.

     "Keluarkan semua Ma, Pa, masih banyak," ucapnya sedikit kelu. Jendela kamar sengaja kubuka lebar. Dan tetangga yang mendengar teriakan Yehuda berdatangan melihat kejadian yang kami alami dari jendela.

     Kami terus bergumul dalam doa sampai jam 5.00 pagi. Yehuda sudah mulai bisa berdoa, bisa minum dan berbaring. Namun ia merasa masih ada roh-roh yang belum keluar.

     Setiap ia menyebut nama roh itu, kembali roh itu menyerangnya sehingga lidahnya kaku. Kami mulai loyo, capai, tetapi Yehuda masih bersemangat, walaupun ia cukup sakit. Karena roh-roh yang besar selalu saja menyiksanya sebelum ia mau keluar. Aku merasa ini sisa-sisanya yang kecil. Suamiku sendiri sudah lelah dan tertidur kecapaian. Kulihat Yehuda masih belum sembuh benar. Sekali lagi aku mohon kekuatan dari Tuhan, dengan gemas pula, aku menyuruh Yehuda telungkup, kubangunkan suamiku, lalu kami mulai berdoa mengurapi Yehuda dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dengan memerintahkan roh apa saja yang masih ada keluar dengan cepat. Dan Yehuda tidak lagi bangun ia sambil berbaring telungkup muntah-muntah sampai habis. Baru ia bisa lancar bicaranya, tidak kelu lagi. Ia menangis senang. Air mata kami pun menitik puas dalam kemenangan Tuhan. Kami menyuruh Yehuda mengucap syukur dan menyembah Tuhan. Pada saat tangannya kusuruh angkat, lagi-lagi kram datang, kali ini berada di tangannya, ia tak mampu mengangkat tangannya, dari lengan sampai ke ujung jari-jarinya menjadi kaku.

     "Pa, rasanya ada di sini," kata Yehuda ketakutan.

     "Tak usah panik," kata suamiku menguatkan Yehuda. Saat yang bersamaan aku menutup mata dan mohon petunjuk Bapa di surga, roh apa lagi yang berada di lengan anakku ini. Seperti beberapa roh yang tak mau mengakui namanya, Allahku begitu jelas menjelaskan kepadaku siapa roh ini sebenarnya, demikian juga yang bertengger di lengan Yehuda.

     Bapa di surga mengingatkan aku pada kungfu yang pernah dipelajari oleh ayah dari suamiku. Lalu tergambar bagaimana anakku ini cepat sekali memukul adik-adiknya dan siapa saja yang tidak disenanginya. Aku tersenyum dan mulai berkata, "Dalam nama Yesus, siapa kau yang bersembunyi di balik tangan anakku?" tanyaku.

     Tiba-tiba Yehuda menatapku dengan kosong, mulutnya terkatup rapat dan mulai agak kejang. Sekali lagi aku bertanya dengan membentaknya, "Kau tak perlu bersembunyi, sekarang juga kau roh kungfu roh nenek moyang dari opa Yusuf, aku perintahkan kau dalam nama Yesus keluar!"

     Kupegang lengan Yehuda, dan anak ini sekali lagi berteriak dan muntah. Baru lengannya menjadi lemas, dan dia menangis lagi, lalu tanpa disuruh ia mengangkat tangannya untuk  menyembah Tuhan.

     Kami sangat terharu, mengikuti doa anakku yang hancur hati. Ia begitu bersyukur dan menangis minta ampun untuk dosa-dosanya, hal-hal yang tidak pernah kami duga sebelumnya diakui dengan jujur dalam doanya, lalu ia terus memuji Tuhan. Setelah selesai ia juga mengatakan bahwa dadanya yang bertato merasa seperti terbabar, kami tahu Allah tengah membersihkan iblis yang masih bersembunyi dalam dosa-dosa anakku.

     Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kami, iblis juga bersembunyi di balik dosa-dosa yang tidak diakui dan masih disenangi. Hari itu menjadi hari yang bersejarah bagi keluarga kami. Allah bekerja membersihkan dosa. Kebangunan rohani yang dipimpin oleh Allah sendiri. Yehuda telah sembuh benar, wajahnya bercahaya. Ia terus beroperasi menghancurkan benda-benda setan yang disimpan di dalam rumah tanpa setahu kami. Anakku begitu takut, setelah pelepasan, Allah berbicara langsung kepada dia.

     Sementara berdoa, suara Tuhan datang dan ia sendiri yang menunjukkan di mana kaset-kaset rock itu disembunyikan dan harus dibakar habis. Juga majalah-majalah porno, poster-poster rock, semua harus dihancurkan dan dibakar habis.

     Sejak itu ia aktif bersaksi, ia juga bersaksi di gereja. Anakku benar-benar berubah. Kalau dahulu diajak menyanyi pun berat, tetapi sekarang ia malah berani berbicara di depan jemaat. Bakatnya bermain musik makin nyata, saat ia memainkan musik tidak lagi tampak keduniawian.

     Hampir setiap malam ia mengajakku membaca firman Tuhan dan berdoa sampai jam 1.00 malam. Banyak masalah dia ungkapkan kepada kami. Sampai hubungannya yang paling buruk dengan wanita-wanita perek diakui. Syukur ia belum terlanjur menjalani dunia hitam itu. Karena pada saat itu Roh Allah mencegahnya dengan memberikan ketakutan yang sangat kepadanya.

     Meskipun capai, kami tetap melayani dia. Kemudian ia juga membawa teman-temannya remaja yang punya masalah dosa dan ocultisme kepada kami. Tetapi karena kesibukan suamiku dengan tugasnya, maka pelayanan ini terpaksa kulakukan sendiri. Rumah kami menjadi rumah konseling, dan kebanyakan pelepasan kuasa kegelapan.

     Seorang putri teman Yehuda punya masalah di giginya. Selalu saja giginya sakit kalau ia mendengar firman Tuhan atau berdoa. Yehuda melayani putri ini dan menganjurkan agar konsultasi denganku. Putri ini tidak menolak karena ia memang terus tersiksa dengan sakit giginya itu.

     Kami berdua berdoa, dan mulai berbicara dari hati ke hati. Ternyata ia punya opa-oma yang memegang jimat-jimat. Ayah tirinya tidak sekeyakinan dengan mereka. Ibunya sendiri percaya kepada dukun-dukun dan juga kepercayaan adat.

     Putri ini sangat terbuka, oleh karana itu mudah untuk membawanya ke pangkuan Kristus. Ia mau mengakui semua dosanya dan menerima Kristus secara pribadi. Setelah doa pelepasan, aku menumpangkan tangan untuk memberkatinya. Dia merasakan sekujur tubuhnya panas, dan sakit giginya sembuh.

     Sungguh luar biasa, putri ini bertumbuh dalam Tuhan Yesus dan setia mengikuti kebaktian. Ia juga mengambil keputusan untuk dibaptis, karena memang belum dibaptis. Orang tuanya tidak pernah ke gereja walau berstatus Kristen oleh karena suaminya yang sekarang bukan orang Kristen. Sedangkan putrinya ini merindukan untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia ingin sekolah Alkitab apabila selesai SLA-nya.

     Hari ini diadakan kebaktian misi di gereja kami. Gereja hampir penuh karena kebaktian semacam ini selalu saja dihadiri jemaat lain yang anggotanya telah mengikuti persekutuan misi yang dilayani dalam wadah YPPII.

     Setelah firman Tuhan, tiba-tiba seorang putri menangis histeris dan hampir kejang. Tentu saja kami yang duduk di belakang agak terganggu. Seorang teman hamba Tuhan mencoba menenangkannya, tetapi agaknya ia malah menangis lebih kencang dan mulai sedikit kejang. Bagi orang yang tidak biasa melayani kasus semacam ini sedikit gugup, dan tak tahu apa yang akan diperbuat. Teman tersebut meminta aku melayani pemuda ini, karena ia menganggap aku sebagai ibu pasti lebih mudah mengorek masalahnya. Aku memang tidak menolak pelayanan, tetapi bagaimana bisa melayani, kalau orangnya terus menangis, Akhirnya aku menyuruhnya menangis sampai puas. Setelah lama aku menunggu akhirnya dia reda, aku mulai berdoa, agar Roh Kudus menolong, agar ia berani menjelaskan masalahnya. Baru saja doa selesai kuucapkan, tiba-tiba ia mulai kejang lagi dan menangis sampai kaku.

     Aku berpikir keras, apa lagi yang harus kuperbuat, aku lalu menunduk diam mohon pimpinan Tuhan. Lalu dengan kasih seorang ibu aku memegang pundaknya dan berusaha menempatkan diriku di pihaknya. Aku juga memberanikan diri untuk dapat dipercaya, dan aku benar-benar berjanji bersedia mendengar apa saja yang menjadi keluhannya. Ia mulai reda dan bertanya kepadaku,

     "Benarkah Ibu mau mengerti aku?"

     "Yah, aku berjanji, percayalah!" kataku membujuknya.

     "Kalau kuungkapkan hal yang buruk sekali pun, dapatkah Ibu tidak menceritakan masalahku kepada orang lain?"

     "Aku berusaha menyimpan rahasiamu."

     "Juga kepada orang yang kubenci?" Aku diam merenung, tampaknya ia punya masalah luka hati yang cukup parah.

     "Oke, ceritakanlah, aku tetap berusaha menyimpan rahasiamu juga kepada orang yang kau benci, tetapi setelah berdoa, kau harus mengampuninya.

     "Tidak, tidak bisa, tak mungkin Bu, aku sangat membencinya dan tak sanggup mengampuninya. Ia sangat menyakitkan hatiku."

     "Tak ada manusia yang sanggup mengampuni orang lain, karena kita dalam keadaan daging dan dosa. Tetapi percayakah kamu bahwa Kristus sanggup mengampuni temanmu yang kau benci itu?"

     Pemuda ini diam tertunduk dan tidak bisa menjawab.

     "Nah ceritakanlah, apa sebenarnya masalahnya dan mengapa engkau membencinya?"

     Ia masih diam tak menjawab, ia menunduk begitu dalam lalu menitikkan air matanya lagi.

     "Tentu engkau dihinanya atau hatimu dilukai, bukan?"

     "Lebih dari itu Bu."

     "Temanmu itu wanita atau lelaki?"

     "Lelaki."

     "Cintamu dikhianati?" Ia mengangguk malu,

     "Bukan cuma itu Bu, aku malu mengatakan kepada Ibu, dan takut."

     "Kamu tidak mempercayaiku?"

     "Percaya Ibu, tetapi aku malu dan takut."

     "Apa laki-laki yang melukaimu dari keluargaku?"

     "Yah!"

     Kata-kata ini membuatku tersentak, jika Tuhan tidak berwibawa dalam hidupku saat itu, mungkin nafsu egoisku akan menyusup melintasi benakku dan membuyarkan pelayananku ini. Karena aku sudah bisa menerka, kemana arah pembicaraan kami.

     "Dia putraku?"

     "Yah," bagai disambar petir aku sangat terkejut, lalu aku berusaha menenangkan diriku.

     "Apakah kalian telah melakukan sesuatu yang dilarang?"

     "Ibu, aku tertipu, aku memang bersalah, aku terlalu percaya."

     "Dan dia tidak mau bertanggung jawab?"

     "Kami sudah berbicara Bu, aku yang salah, tetapi aku sangat benci kepadanya dan tidak bisa mengampuni dia."

     "Yah Ibu mengerti, tentu kamu sangat sakit hati karena sikap putraku yang kurang ajar kepadamu. Aku sebagi ibunya sungguh minta maaf kepadamu untuk perlakuan anakku yang kurang ajar itu."

     "Nanti akan kutegur dan memberikan peringatan kepadanya dan ia harus mau bertanggung jawab kepadamu."

     "Jangan Bu, biar saja, aku memang keliru, sebagai seorang wanita tidak seharusnya begitu mudah menyerahkan diri kepadanya."

     Putri ini mulai menceritakan bagaimana mulanya ia jatuh dengan lelaki yang ternyata salah seorang dari sekian anak-anak yang kuasuh. Dia tidak mengetahui bahwa anak laki-laki ini adalah anak asuhku, setelah semua masalah diceritakan dengan detail, aku juga mulai mengorek masalah adat istiadat dan okultisme. Rupanya pengekangan diri yang tidak berhasil dijinakkan akarnya dari dosa okultisme. Putri ini pernah dilayani menerima Tuhan Yesus secara pribadi, dan sudah dua kali dilayani hamba Tuhan, namun ia belum dapat kemenangan dalam hal mengatasi dosa seks dan masalah pribadinya. Ia masih liar dan tidak dapat mengekang diri dari kemauan yang menyimpang dari firman Tuhan.  

     Untuk mendapatkan kelepasan yang sungguh-sungguh aku mendesaknya agar dia mengupas semua dosa juga okultisme yang masih belum diakui.

     Ia membuka diri dan mau dibimbing sehingga ia begitu mudah ditolong. Allah bekerja luar biasa, ia terbebas dan merasa lega. Dan yang indah ia tidak lagi mendendam kepada lelaki yang membuatnya sakit hati, malah bisa mengampuni dengan sungguh-sungguh, hal ini tampak pada doanya.

     Setelah beberapa hari berselang ia sering datang ke rumah untuk minta bimbingan berikutnya. Kerinduannya untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan tidak bisa ditunda lagi. Puji Tuhan kerinduannya dijawab Tuhan. Dan saat ini, ia telah berada di sebuah sekolah Alkitab di Pontianak untuk dipersiapkan menjadi hamba Tuhan.

     Kalau Allah tengah bekerja, Ia tidak bekerja setengah-setengah. Ia mengasihi manusia berdosa, dan Ia menghendaki pembersihan bagi anak-anaknya.

     Seperti anakku Yehuda, ke empat anakku yang lainnya pun perlu jamahan Tuhan secara khusus. Peristiwa pelepasan Yehuda, anakku pertama masih hangat dalam keluarga kami, terutama bagi adik-adiknya yang melihat sendiri bagaimana Tuhan membebaskan abangnya. Namun peristiwa itu tidak menggugah hati mereka untuk memberanikan mereka menyelesaikan dosa yang masih mereka sembunyikan.

     Sore itu anakku kedua demam tinggi, kami telah memberikan tablet penurun panas, namun panas tidak juga turun. Seperti abangnya ia juga mulai meringkuk di kamar kami. Sebelum  memutuskan membawanya ke dokter kami berdoa terlebih dahulu dan suamiku mulai menanyakan kepadanya apakah ada dosa yang disembunyikan?

     Tiba-tiba anakku menangis, ia juga seorang remaja yang berusia 16 tahun, dan tanpa diperintah dua kali, ia mengakui segala kesalahannya kepada kami. Setelah mengaku, kami membimbingnya dalam doa pengakuan dosa dan menyerahkan kepada Tuhan Yesus sendiri, agar firman Tuhan dalam I Yohanes 1:9 berlaku malam ini untuk anakku.

     Setelah berdoa, ia juga minta ampun kepada kami, dengan mencium tangan kami berdua. Kami sangat terharu untuk kasih Allah yang tengah memproses anakku ini, lalu kami memberkati dia. Dan luar biasa, setelah pengakuan dosa dan berdoa ia mulai berkeringat, tanpa obat lagi demamnya yang tinggi tadi lenyap begitu saja.

     Kami tak putus-putusnya bersyukur untuk pertolongan dan pernyataan kasih-Nya yang besar itu kepada anak-anakku.


Oleh. Ny. Es. E. Maukary


Diterbitkan oleh. PT BPK Gunung Mulia

Sabtu, 25 Agustus 2012

MENGEJAR EKOR

Oleh: Asmadi Kurniawan



Baca: 1Raja-raja 3:4-14

Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian ... juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan ... (1 Raja-raja 3:12-13).

Seekor kucing keasyikan mengejar ekornya sendiri. Berputar-putar, dan berputar-putar lagi, berharap segera mendapati ekornya tertangkap. Ia pikir, ketika ia sudah mendapatkan ekornya, ia akan bahagia. Ia tidak akan khawatir kehilangan ekornya, karena ia telah memegang ekornya. Padahal itu salah sama sekali! Berputar sampai pingsan pun ia takkan dapat menangkap ekornya. Ia hanya akan kelelahan. Dan sesungguhnya, bukankah tanpa dikejar pun, ekor itu selalu setia mengikutinya?

     Sadar atau tidak, kerap kali orang memakai waktu hidupnya untuk banyak mengejar kesuksesan, kekayaan, pengakuan, dan sebagainya, agar hidupnya bahagia. Segala upaya, waktu, dan energi, dicurahkannya untuk mengejar hal-hal itu. padahal, itu sebenarnya adalah target hidup yang salah! Segala target yang tidak bernilai kekal, tidak layak kita kejar sedemikian rupa. Kita malah kehilangan target yang utama, yang Tuhan ingin agar kita raih dan miliki, supaya hidup kita berarti.

     Mari simak lagi. bagaimana Tuhan berkenan pada permintaan Salomo (ayat 10). Yakni, ketika Salomo meminta hikmat sebagai hal terpenting yang ia rindukan, bukan yang lain-lain (ayat 9). Dan, ketika target utama itu telah ia sasar, Tuhan ternyata menambahkan hal-hal lain yang Salomo perlukan, meski Salomo tidak memintanya (ayat 13). Tanpa perlu dikejar, Tuhan memberinya kekayaan, kemuliaan, umur panjang. Itu semua bonus! Sebab itu, kita diajar untuk tidak mengejar bonus, tetapi target utama: hikmat. Yakni, hati yang berpadanan dengan hati Tuhan. Mata yang melihat seperti mata Tuhan. Hidup yang berjalan sebagaimana Tuhan berjalan. Mari kenali pribadi Tuhan lebih intim. Dan, milikilah hikmat dari-Nya. 

Senin, 13 Agustus 2012

MENJEMPUT FATTY

                                                      Oleh: Asmadi Kurniawan


Pada suatu siang nampak empat orang anak memasuki bangunan stasiun yang kecil di desa Peterswood. Mereka  disertai seekor anjing yang berlari-lari. Kelihatannya senang sekali. Ekornya tidak henti-hentinya dikibaskan kian kemari.

     "lebih baik Buster diikat saja," kata Pip, satu dari keempat anak itu. "Kita datang terlalu cepat. Masih ada dua-tiga kereta lain yang akan lewat. Sini, Buster - kemari sebentar, Anjing manis!"
   
     Anjing kecil berbulu hitam itu datang sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan cepat, serta menggonggong-gonggong.

     "Ya, ya - aku tahu, kau sudah rindu pada Fatty," kata Pip sambil membungkuk, untuk memasang tali penuntun ke kalung leher Buster. "Kami pun rindu padanya. He - jangan meronta!"
   
     "Pegang kuat-kuat - ada kereta masuk!" kata Larry. "Tidak berhenti di sini rupanya."

     Mulanya Buster masih bisa disuruh tenang. Tapi tiba-tiba kereta api yang lewat dengan cepat itu membunyikan peluit. Bunyinya melengking! Buster langsung cepat-cepat menyembunyikan diri di bawah bangku, sehingga Pip yang memegang tali terseret-seret. Buster duduk menghadap tembok, membelakangi kereta api yang lewat. Anjing itu gemetar sekujur tubuhnya. Hii - peluit itu, menyeramkan bunyinya!

     "Aku saja pun ikut kaget," kata Bets. "Sudahkah, Buster - sebentar lagi Fatty kan sudah tiba. Kami senang sekali kau ada bersama kami, selama Fatty pergi. Kau manis sekali selama ini.!"

     "Bahkan Ibu pun suka padamu!" kata Pip sambil menepuk-nepuk Buster. "Padahal ia mula-mula sama sekali tidak setuju kau dititipkan pada kami, selama Fatty ada di Swiss."

     "Aku tidak mengerti, kenapa Fatty mau-maunya pergi ke sana sampai dua minggu, sehingga tdk ada di sini sewaktu natal," keluh Bets.
     "Ia akan ikut dengan ayah-ibunya," kata Daisy. "Pasti ia asyik bermain-main di tengah salju yang begitu banyak di Swiss."

     "Ya - dan kalau jatuh pun tidak apa-apa, karena ia gendut," kata Larry sambil tertawa. "Pukul berapa sekarang? Wah, masih terlalu pagi! Bagaimana sekarang?"

     "Aduh, dingin rasanya di emperan sini. Yuk, kita ke ruang tunggu," ajak Daisy. "Yuk, Buster."

     Tapi Buster tidak mau bergerak dari tempatnya. Pip menarik-narik tali penuntunnya.

     "Ayo ikut, Goblok! Kita cuma akan ke ruang tunggu. Kereta Fatty belum waktunya masuk."

     "Ikat saja dia ke bangku," kata Larry. "Kalau kita paksa juga ikut ke ruang tunggu, nanti ia sedih terus di sana. Kau ini memang goblok, Buster! Kalau aku, biar diupah berapa pun, takkan mau duduk di emperan yang begini dingin."

     Mereka meninggalkan Buster, setelah mengikatnya ke bangku. Mereka masuk ke dalam ruang tunggu. Nyala api pendiangan di situ kecil sekali. Tapi setidak-tidaknya di tempat itu mereka tidak diganggu angin dingin yang menghembus di luar.

     "Satu hal sudah jelas," kata Daissy sambil duduk di bangku kayu yang keras, "Fatty takkan menyamar. Jadi ia tidak bisa mempermainkan kita kali ini. Ia datang bersama ayah dan ibunya - jadi tidak berani berbuat iseng seperti biasanya."

     "Syukur," kata Bets. "Aku ingin melihatnya seperti dia yang asli! Gendut dan periang, dengan cengiran lebar! Sudah berbulan-bulan kita tidak berjumpa dengannya. Tiga bulan di sekolah - lalu langsung belibur ke Swiss!"

     "Aku berani menebak apa yang akan dikatakannya nanti, begitu melihat kita," kata Pip sambil nyengir. "Pasti ia akan berkata, 'Nah - ada misteri baru tidak?' "

     "Jawabannya, tidak!" kata Pip. "Akhir-akhir ini Peterswood tenang sekali. Pak Goon sama sekali tidak ada kesibukannya!"

     Selama dua minggu itu Pak Goon, polisi desa itu, memang mengalami saat-saat tenang. Anjing saja pun tidak ada yang menyerang biri-biri. Juga tidak terjadi peristiwa pencurian - yang kecil-kecil pun tidak ada! Selama itu Pak Goon banyak waktu untuk menikmati tidur-tiduran di kursinya yang empuk!

     Sebuah taksi memasuki halaman depan stasiun, diikuti oleh taksi lain. Seorang laki-laki menjulurkan kepalanya dari jendela taksi yang pertama, lalu memanggil tukang angkat koper yang ada hanya seorang di situ.

     "He - tolong angkat koper-koper ini ke dalam! Cepat, waktu sudah mendesak sekali!"

     Tukang koper yang dipanggil bergegas-gegas datang, untuk mengambil dua koper kecil. Seorang laki-laki keluar dari taksi, lalu membantu seorang wanita turun. Keduanya sudah setengah umur. Pakaian mereka api. Keduanya nampak gembira. Penumpang taksi yang wanita menggendong seekor anjing pudel mungil.

     "Poppet sayang!" kata wanita itu dengan suara mencumbu. "Angin dingin sekali - awas, jangan sampai kau kena pilek!" Anjing kecil itu diselipkannya ke bawah mantel bulu yang tebal, sehingga hanya ujung hidungnya yang mungil saja yang masih nampak. Keempat anak yang menonton dari balik jendela kamar tunggu, senang melihat anjing pudel itu. Aduh, manisnya!

     Empat sampai lima orang turun dari taksi yang datang menyusul. Mereka ribut sekali, tertawa-tawa. kelihatannya mereka hendak mengantar pasangan yang turun lebih dulu.

     "Ayo, cepatlah, Bill! Kau masih harus membeli karcis, padahal waktu tinggal sedikit," kata wanita yang menggendong pudel.

     "Masih banyak waktu," kata laki-laki yang bernama Bill, sambil berjalan masuk ke stasiun. "Eh - itu bunyi kereta ya, yang di kejauhan? Astaga! Rupanya kita memang perlu cepat-cepat!"

     Wanita tadi bergegas-gegas ke emperan dalam, sambil menggendong anjing kecilnya.

     "Ah, ternyata bukan kereta kita," katanya. "Arahnya berlawanan. Kaget aku tadi, Poppet!"

     Orang-orang yang baru datang itu berisik sekali, sehingga keempat anak yang ada di ruang tunggu keluar untuk menonton. Orang-orang dewasa itu ramai sekali berbicara sambil tertawa riang.

     "Selamat bersenang-senang!" kata seorang laki-laki berambut merah. Ia menepuk punggung orang yang bernama Bill, sehingga orang itu terbatuk-batuk.

     "Kalau sudah sampai, jangan lupa mengirim kabar. Kami pasti akan meresa kehilangan kalian. Pesta kalian selalu meriah!" kata seorang wanita yang juga ikut mengantar.

      Wanita yang membawa anjing duduk di bangku tempat Buster terikat, sementara anjingnya diletakkan di lantai peron. Buster tertarik melihat ada anjing di dekatnya, lalu diendus-endus. Anjing pudel kecil itu tahu-tahu mendengking ketakutan. Buster lari ke sebelah depan bangku. Tali penuntunnya melibat kaki wanita yang duduk disitu. Wanita itu menjerit. Dengan cepat ia menyambar anjingnya yang bernama Poppet. Rupanya takut kalau digigit oleh Buster.

      Suasana bertambah ribut, karena tepat saat itu ada kereta masuk. Bunyinya yang berisik menyebabkan Poppet ketakutan setengah mati. Anjing manja itu meronta sehingga terlepas dari pegangan tuannya, lalu cepat-cepat lari. Buster berusaha mengejar. Tak diingatnya bahwa ia terikat tali penuntun ke bangku. sehingga nyaris saja lehernya terjerat. Buster menabrak kaki wanita pemilik Poppet. Wanita itu jatuh terguling. Ia berteriak, terpekik jerit,

     "Aduh, tolong tangkapkan Poppet! Iiih, kenapa sih anjing ini? Ayo, pergi - Anjing jahat!"

     Keadaan menjadi kacau balau. Aak-anak bergegas lari, berusaha menangkapkan Poppet. Pip buru-buru kembali, karena melihat Buster dijadikan bola tendang oleh wanita yang berteriak-teriak karena takut dan sekaligus juga marah-marah.

     "Anjing siapa ini?" teriaknya dengan suara melengking tinggi. "Kenapa di ikat di bawah bangku? Mana polisi? Mana anjingku?"

     "Sudahlah, Gloria - tenang sajalah," kata laki-laki yang bernama Bill. Saat itu tak seorang pun sempat memperhatikan kereta api yang baru saja masuk. Pip serta ketiga anak lainnya juga tidak. Mereka terlalu sibuk dengan Buster - serta Poppet yang malang, yang begitu ketakutan!

     Karenanya mereka tidak melihat Fatty turun dari kereta bersama orang tuanya. Fatty nampak sehat sekali. Montok, dengan kulit coklat kemerahan karena banyak disinari matahari. dengan segera ia sudah melihat keempat temannya yang ada di situ. Ia heran melihat melihat mereka begitu sibuk, sehingga sama sekali tidak memandang ke arah kereta untuk mencarinya!

     "Ayah dan Ibu sajalah yang pulang naik taksi," kata Fatty. "Aku berjalan kaki, bersama teman-teman. Itu mereka!"

     Ia menghampiri Pip yang sedang sibuk berusaha meminta maaf pada wanita yang marah-marah, dan juga pada suami wanita itu. Tangan Pip mencengkeram kalung leher Buster yang menggeliat-geliat hendak membebaskan diri. Anjing bandel itu menggonggong - lalu meronta sehingga pegangan Pip terlepas.

     "Nah - ternyata ada juga yang masih kenal padaku!" kata Fatty. "Halo, Buster!"

     Keempat temannya berpaling dengan cepat. Bets lari menghampiri Fatty lalu merangkulnya dengan gembira. Nyaris saja Fatty terguling karena gerak Bets yang begitu bersemangat.

     "Kau sudah datang, Fatty!"

     "Begitulah kelihatannya!" kata Fatty. Setelah itu menyusul kesibuk pukul-memukul bahu dan punggung, sebagai pengganti ucapan selamat berjumpa kembali. Buster begitu bersemangat melihat tuannya lagi. Ia menggonggong-gonggong. Bunyinya berisik sekali. Ia menggaruk-garuk kaki Fatty, sehingga anak itu terpaksa menggendongnya.

     "Anjing siapa itu?" tanya suami wanita yang masih marah-marah itu. "Belum pernah aku melihat anjing yang begitu tidak tahu adat! Menubruk istriku sampai terjatuh, sehingga mantelnya kotor. Nah - itu ada polisi datang! Coba kemari sebentar, Pak! Saya ingin melaporkan anjing ini. Ia tadi liar sekali - menyerang pudel istri saya, serta menyebabkan istri saya jatuh terguling!"

     Anak-anak kaget sekali, karena tidak menyangka bahwa Pak Goon akan ada di situ! Polisi desa itu kebetulan mampir karena hendak membeli surat kabar. Ia masuk ke emperan, ketika mendengar suara ribut di situ. Ia langsung datang menghampiri. Matanya yang melotot berkilat-kilat. Nampak sekali bahwa ia merasa senang.

     "Anjing ini tadi menyerang, kata Anda? Sebentar, akan kucatat! Ya - anjing ini memang sudah lama merupakan gangguan terhadap ketertibaban \ ya, ya, sudah sejak lama!"

     Pak Goon mengeluarkan buku catatan, lalu menjilat ujung pensilnya. Ia benar-benar mujur saat itu - ada yang mengadukan anjing Fatty yang menyebalkan!

     Kereta api berangkat lagi. Tapi tidak ada yang memperhatikan. Semua asyik menonton anak-anak, yang sedang dikerumuni orang dewasa. Buster langsung meronta dari pelukan Fatty begitu ia melihat Pak Goon datang menghampiri, lalu berlari sambil meloncat-loncat mengelilingi kaki polisi desa itu. Pak Goon mengibas-ngibaskan buku catatannya untuk mengusirnya.

      "Panggil anjing ini - suruh dia pergi! He, suruh dia pergi, kataku! Ia benar-benar akan kulaporkan. Akan..."

      Tahu-tahu wanita istri laki-laki yang bernama Bill itu terpekik dengan gembira,

     "Ah - itu Poppet sudah kembali, dengan Larkin. Kusangka kau takkan bisa datang pada waktunya untuk membawa Poppet pulang, Larkin!"

     Orang yang bernama Larkin itu berbadan gemuk. Jalannya membungkuk dan agak terpincang-pincang. Kakinya yang satu agak menyeret. Ia memakai mantel besar yang sudah usang. Lehernya terbungkus syal yang menutupi bagian bawah mukanya, sedang kepalanya tertutup topi pet yang juga sudah tua. Ia datang menghampiri, sambil menggendong Poppet.

     "Siapa ini?" tanya Pak Goon. Ia tercengang melihat laki-laki berpotongan aneh, yang tahu-tahu muncul dengan seekor anjing kecil dalam gendongan.

     "Oh, dia ini Larkin, yang tinggal di pondok yang ada di pekarangan Tally-Ho, rumah yang kami sewa di sini," kata wanita pemilik Poppet. "Ia tadi kami suruh menyusul untuk menjemput Poppet dan membawanya pulang ke  rumah. Ia yang akan mengurus Poppet selama kami tidak ada - tapi aku ingin terus ditemani anjing manisku ini sampai saat terakhir - ya kan, Poppet sayang?"

     Wanita itu mengambil anjing pudel mungil itu lalu mencumbunya sebentar. Setelah itu ia berbicara pada Larkin,

     "Anda akan merawatnya dengan baik-baik, kan? Jangan lupa segala yang sudah kukatakan. Tak lama lagi aku akan kembali untuk menjenguknya. Nih - bawa dia, sebelum kereta kami masuk. Nanti ia ketakutan lagi."

     Larkin pergi dengan langkah terpincang-pincang. Selama itu ia sama sekali tidak berbicara. Poppet tadi diserahkan padanya dengan hati-hati, seperti boneka. Kini anjing kecil penakut itu dibawa pergi, terselubung dalam mantel laki-laki gemuk itu. 

     Pak Goon mulai tidak sabar. Ia masih memegang buku catatannya. Anak-anak mencari-cari kesempatan lari meninggalkan tempat itu. Tapi kesempatan itu tidak ada, karena Pak Goon memperhatikan mereka terus dengan waspada.

     "Mengenai anjing ini, Bu," kata polisi desa itu. "Bolehkah saya mengetahui nama dan alamat Anda, begitu pula..."

     "Nah, itu dia kereta kita!" seru wanita yang diajaknya bicara. Seketika itu juga orang ramai bergerak maju ke tepi peron. Pak Goon terdorong-dorong, sementara orang-orang sibuk bersalaman mengucapkan selamat jalan, selamat tinggal, dan entah selamat apa lagi. Kemudian laki-laki yang bernama Bill mengajak istrinya naik ke kereta, yang sesaat kemudian berangkat ke luar dari stasiun, diiringi lambaian tangan orang-orang yang mengantar.

     "Hahh!" dengus Pak Goon kesal. Ia menutup kembali buku catatannya, lalu menoleh ke arah Buster serta anak-anak tadi. Mata Pak Goon yang sudah melotot semakin terbelalak - karena yang dicari ternyata tidak ada lagi di situ!


               THE MYSTERY OF TALLY-HO COTTAGE
                                         by Enid Blyton
                    Copyright C Darrell Waters Ltd 1954
               First published by Methuen Children's books
                                    All rights reserved

                           MISTERI DI TALLY-HO
                           Alihbahasa: Agus Setiadi
                                       GM 84.108
                     Hak cipta terjemahan Indonesia
                             PT Gramedia, Jakarta
               Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
                        Diterbitkan pertama kali oleh
                  Penerbit PT Gramedia, Jakarta 1984
                                  Anggota IKAPI




                                Dicetak oleh 
                     Percetakan PT Gramedia
                                   Jakarta

Minggu, 12 Agustus 2012

PERTOBATAN BAGI TEROBOSAN

                                                          Oleh: Asmadi Kurniawan    


   "Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel ..." (Yeremia 31:31). Pertobatan dengan jalan memperbaharui perjanjian kita dengan Tuhan.

     Umat Israel telah kembali dari pembuangan Babilonia. Bait Allah telah selesai di bangun, dan telah didedikasikan. Mereka telah merayakan Paskah di Bait Allah yang baru saja dibangun kembali. Orang-orang Lewi dan imam-imam telah dikuduskan dan diatur sesuai bagian mereka masing-masing di mana mereka telah dimampukan untuk melayani di Bait Allah sesuai peraturan yang berlaku. Tidak sampai dari 8 tahun kemudian, saat tembok dibangun kembali di bawah perintah Nehemia, orang Israel sekali lagi mulai membawa perpuluhan dan buah sulung mereka ke rumah Tuhan.

     Di pasal ini, semua umat bersama-sama berkumpul untuk mendengarkan kitab peraturan dibacakan. Dari pagi sampai siang, Ezra dan orang Lewi membaca dan mengajarkan peraturan kepada mereka. Saat mendengarkan bagaimana mereka telah tidak menaati perintah Tuhan, mereka menangis. Mereka dengan terbuka mengenali kasih karunia Tuhan, mengaku dan bertobat dari dosa-dosa mereka, serta merendahkan dan menyerahkan diri mereka kepada kebenaran Tuhan yang telah menurunkan penghakiman ke atas mereka karena ketidaktaatan mereka. Mereka tidak mencoba melakukan pembelaan atau membenarkan tindakan-tindakan mereka; mereka BERTOBAT.

     Hari pertobatan itu diakhiri dengan memperbaharui perjanjian mereka dengan Tuhan. Mereka bersama-sama berkumpul, menyatukan diri kepada Dia dengan sebuah sumpah dan memeteraikannya. Beberapa hal ini adalah perjanjian mereka dengan Tuhan:

     1. Atas kerelaan mereka sendiri, mereka berjanji memberikan 1/3 syikal setiap tahun untuk pengeluaran-pengeluaran rumah Tuhan (Nehemia 10:32-33).

     2. Mereka telah setuju untuk setiap tahun membawa buah sulung dari tanah dan pohon mereka bagi rumah Tuhan (Nehemia 10:35-37).

     3. Mereka telah setuju membawa yang sulung dari anak, lembu, dan semua kumpulan ternak dan domba mereka ke rumah Tuhan, kepada imam (Nehemia 10:36).

     4. Mereka telah berjanji membawa perpuluhan dari seluruh hasil panen mereka. Seorang imam akan menyertai orang Lewi saat mereka menerima perpuluhan, dan orang Lewi membawa sepersepuluh dari perpuluhan itu ke bilik-bilik rumah perbendaharaan di dalam rumah Tuhan (Nehemia 10:37-38).

          "... umatku, ...merendahkan diri ... berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14).

          Kehendak bagi kita adalah penyediaan total!

     "Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami" (Nehemia 10:39). Saat ini kita memiliki perintah, tantangan, janji yang sama tentang perpuluhan seperti yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel. Kita adalah Israel rohani (Roma 2:28-29).KehendakNya bagi kita adalah penyediaan total! kemakmuran! Suplai yang terus menerus! Kelimpahan!

     Gereja saat ini, secara keseluruhan, sedang hidup di bawah sorga yang tertutup! Mayoritas orang Kristen tidak melihat manifestasi kelimpahan yang dijanjikan Tuhan. Adalah kehendak Tuhan bahwa tubuh Kristus memiliki semua keuangan yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah diberikanNya kepada kita, menginjili dunia. Dia telah membuat penyediaan bagi hal itu melalui hubungan perjanjian kita dengan Dia.

     Mengapa kita tidak berjalan dalam kelimpahan yang telah disediakan Tuhan bagi kita? Karena "rumah Allah" terbengkalai!

     "Rumah Tuhan" ... pekerjaan Tuhan diseluruh dunia ... "terbengkalai" selagi orang Kristen lebih memperhatikan kebutuhan dan kerinduan mereka sendiri. Sementara jutaan orang mati tanpa Tuhan, orang Kristen duduk di rumah mereka yang nyaman dan menikmati kesenangan hidup. Kita sedang hidup di masa penuaian akhir zaman Tuhan, dan Tuhan telah merencanakan untuk memakai gereja ... Anda dan saya ... menyebarkan Injil ke seluruh penjuru dunia sebelum kedatangan Yesus.

     Meskipun "rumah Tuhan" dalam keadaan hancur, tetapi kita membuat alasan dengan berkata, "Waktunya belum tiba untuk rumah Tuhan dibangun."

     Mayoritas besar orang Kristen hari ini menaruh kebutuhan-kebutuhan keluarga mereka lebih utama daripada pekerjaan Tuhan. Seperti bangsa Israel, mereka begitu sibuk membangun rumah-rumah mereka sendiri, memperlengkapinya dengan perabot-perabot terbaik yang dapat dibeli. Sebelum tubuh Kristus dapat masuk ke dalam masa restorasi di mana Tuhan membuka pintu-pintu langit dan berkatNya benar-benar mengejar kita, kita harus  terlebih dahulu datang ke tempat pertobatan.

          "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, ... dan ujilah Aku, ... apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit ..." (Maleakhi 3:10).  

          Tuhan akan mengusir belalang pelahap bagi kepentingan Anda.

     Kita harus bersedia merendahkan diri kita di hadapan Tuhan, seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel. Seluruh tubuh Kristus perlu merendahkan diri mereka. Kita perlu mengangkat wajah kita di hadapan Tuhan dan mengakui bahwa kita telah menelantarkan "rumah Tuhan" ... pekerjaan Tuhan di seluruh dunia. Hari ini, saat tubuh Kristus mendengarkan firman Tuhan diperkatakan melalui nabiNya dan bertindak di atasnya ... melalui mempersembahkan perpuluhan dan persembahan kepada Tuhan sesuai petunjuk yang telah ditetapkanNya di dalam firmanNya ... janji-janjiNya tentang berkat dan kemakmuran akan dilepaskan. Pintu sorga akan terbuka, dan Tuhan akan membuat "kekayaan bangsa-bangsa" mengalir ke dalam tubuh Kristus. Pekerjaan Tuhan akan subur dan berkembang, dan TIDAK AKAN ADA KEKURANGAN DI RUMAH TUHAN. Dalam kehidupan Anda sendiri, itu mungkin yang Anda rasakan saat Anda hidup di bawah pintu sorga yang TERTUTUP. Tidak peduli apa pun yang telah Anda lakukan, kelihatannya Anda tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Anda. Itu karena Anda tidak mengalami janji-janji Tuhan tentang berkat dan kemakmuran di dalam hidup Anda.

     1. Sadarilah cara Anda. Evaluasi ulang motivasi dan metode dalam memberi. Tentukan apakah itu sesuai dengan firman Tuhan.

     2. Bertobat. Mintalah Tuhan mengampuni Anda karena mengabaikan rumah Tuhan dan menomorsatukan kebutuhan Anda.

     3. Disucikan. Jika Anda tidak memberi sesuai dengan firman Tuhan, atau hanya memberi bukan yang terbaik kepada Tuhan, mintalah Tuhan untuk menyucikan Anda. Lalu, dedikasikan kembali perpuluhan dan persembahan Anda kepada Tuhan.

     4. Buatlah komitmen yang baru. Tempatkan Dia menjadi yang terutama, dan berikanlah kepadaNya yang  terbaik yang Anda miliki. Tetaplah untuk setia dan konsisten dalam memberi perpuluhan Anda ke dalam rumah perbendaharaan ... untuk membiayai pekerjaan Tuhan di seluruh dunia.

     Saat Anda melakukan langkah-langkah ini, BERSIAPLAH! Tuhan akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat-berkatNya yang melimpah sehingga tidak ada lagi ruangan yang cukup untuk menerimanya! Dia akan MENGUSIR belalang pelahap bagi kepentingan Anda, dan Anda akan berjalan di dalam hubungan penjanjian dengan Dia di mana Anda hidup di dalam siklus penyediaan supranaturalNya.