Oleh: Asmadi kurniawan
Awal mula sejarah bangsa Israel menghilang ke dalam kabut yang kabur. Kenyataan dan dongeng bercampur baur tak terpisahkan. Namun demikian legenda itu itu sendiri menjadi unsur tak terhapus dalam kesadaran kita akan sejarah. Legenda itu mempunyai realitasnya sendiri. Apa yang berabad-abad lamanya umum dipercaya sebagai peristiwa yang pernah terjadi di bagian dunia yang disebut “Timur Tengah”, tidak kurang turut menentukan jalannya sejarah dunia dari pada apa yang sesungguhnya terjadi menurut penyelidikan yang akhir-akhir ini diadakan.
Awal mula sejarah bangsa Israel menghilang ke dalam kabut yang kabur. Kenyataan dan dongeng bercampur baur tak terpisahkan. Namun demikian legenda itu itu sendiri menjadi unsur tak terhapus dalam kesadaran kita akan sejarah. Legenda itu mempunyai realitasnya sendiri. Apa yang berabad-abad lamanya umum dipercaya sebagai peristiwa yang pernah terjadi di bagian dunia yang disebut “Timur Tengah”, tidak kurang turut menentukan jalannya sejarah dunia dari pada apa yang sesungguhnya terjadi menurut penyelidikan yang akhir-akhir ini diadakan.
Waktu Israel melintasi ambang pintu sejarah, maka
wilayah Timur Tengah dikuasai oleh raja-raja yang berkediaman di pinggir sungai
Nil dan di daerah Mesopotamia (wilayah antar sungai, yakni Efrat dan Tigris).
Di tepi sungai Nil, di pinggir sungai Efrat dan Tigris yang airnya melimpah itu
sudah berkembanglah dusun-dusun, yang penghidupannya tidak bergantung pada
turunnya hujan yang tidak menentu. Maka para penghuni lembah sungai Nil dan
daerah Mesopotamia tak perlu hidup sebagai suku-suku badui seperti suku-suku
lain di daerah Timur Tengah yang setiap tahun terpaksa mengembara ke sana-sini
untuk mencari tanah rumput bagi ternaknya.
Di masa bangsa Israel terbentuk, maka negeri Mesir
sudah berabad-abad lamanya merupakan sebuah negara yang terorganisasi dengan
baik-baik. Para Firaun (bukan nama, melainkan gelar) tidak hanya menjadi kepala
bangsanya, tetapi juga pelindung dan pemupuk peradaban yang mengesankan. Sampai
hari ini piramide-piramide di negeri Mesir masih memberi kesaksian tentang
aspirasi dan kebesaran para Firaun. Suratan-suratan yang dengan tulisan sakral
yang disebut “hieroglifa” tersurat pada dinding kuil-kuil dan makam-makam masih
juga menyatakan ambisi para Firaun yang gila hormat untuk menyimpan dan
mewariskan pengalaman yang banyak mereka kumpulkan bagi angkatan-angkatan yang
menyusul. Arca raksasa dan lukisan yang menurut patokan seni yang ketat
dilukiskan pada dinding-dinding masih memperlihatkan bakat seni, kendati
keterbatasannya akibat teknik seni yang sangat terikat pada pola-pola
tradisional. Beberapa kali kekuasaan politik para Firaun melingkupi sebuah
wilayah yang mulai pada sumber-sumber sungai Nil di negeri Nubia (sekarang
Sudan) di bagian selatan sampai dengan gurun Sinai, negeri Kanaan dan Siria di
bagian utara. Adakalanya tentara Firaun juga menyerbu ke negeri Libia di bagian
barat. Hanya di sebelah timur laut pengluasan kekuasaan Firaun terbentur pada
batas-batas yang dipasang oleh kerajaan-kerajaan yang susul-menyusul berkembang
di daerah Mesopotamia, di antara kedua sungai besar, Efrat dan Tigris.
Di daerah itu mulailah sejarah yang berawal
orang-orang Sumer dan yang dapat kita ketahui berkat berbagai bahan yang masih
tersedia. Di wilayah itu dan di bawah kekuasaan raja-raja yang berganti-ganti muncullah
berbagai kerajaan, negara dan peradaban yang susul-menyusul, yang satu dihisap
oleh yang lain. Sekitar tahun 2000 sebelum Masahi kerajaan orang-orang Sumer
digulingkan oleh orang-orang Akkad. Adapun orang-orang Akkad yang suka
berperang itu berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai jauh di luar
daerah Mesopotamia. Bangsa Akkad mendirikan kerajaan yang paling berkuasa di
dunia pada zaman itu. Gelombang invasi yang berikutnya datang dari bagian
barat. Suku-suku Amori menjatuhkan kerajaan orang-orang Akkad. Dari bangsa
Amori berpancarlah sejumlah wangsa kerajaan yang memuncak dalam wangsa kerajaan
Babel.
Ketika bangsa Ibrani tampil di panggung sejarah maka
bangsa Sumer, bangsa Akkad dan Babel sudah berabad-abad lamanya mencapai
tingkat kebudayaan yang tinggi. Desa-desa yang didiami kaum tani sudah
berkembang menjadi negara-negara yang berupa kota dan yang menjalankan
perdagangan yang mujur serta mengenal ketrampilan bermutu. Berkat penemuan
system angka maka cara hidup dan pemikiran orang-orang Babel menjadi lebih
teliti, saksama serta teratur dari pada seandainya tanpa sistem semacam itu.
Tulisan Babel yang berupa paku jauh lebih baik dari pada tulisan Mesir yang
berupa hieroglifa untuk melayani macam-macam keperluan. Para dewa, terutama
dewata langit – udara, surya dan rembulan – dipuja dalam kuil-kuil yang berhias
mengesankan. Dibangunlah sistem perairan saksama yang sangat memperluas wilayah
pertanian, jauh di luar daerah yang digenangi oleh sungai Efrat dan Tigris.
Tingkat tinggi kebudayaan Babel terutama tampak dalam kehidupan dan karya raja
Hammurabi. Dalam abad 19 seb. Mas. raja itu dengan bangga menyebut dirinya:
“Raja Babel, Sumer dan Akkad dan raja keempat benua”. Raja Hammurabi merebut
banyak daerah lain dan masih memperluas perdagangan negerinya. Tetapi Hammurabi
terutama mendapat nama karena “Kitab Hukumnya”. “Kitab Hukum” itu tersurat pada
tiang batu yang dalam tahun 1901 diketemukan dan sekarang tersimpan di musium
Louvre di kota Paris. Dengan bangga, seperti lazim pada negarawan, Hammurabi
dengan singkat sekali (hal mana kurang lazim pada negarawan) memberitakan
tentang pemerintahannya sebagai berikut: “Kepada negeri Sumer dan Akkad saya
memberikan air yang tak kunjung habis. Kedua bangsa yang terpisah itu saya
persatukan. Saya melimpahi mereka dengan berkah dan kesejahteraan. Saya membuat
mereka diam di kediaman-kediaman yang aman-sentosa.”
Menurut berita-berita yang tercantum baik dalam
Alkitab maupun dalam sumber-sumber lainnya maka suku-suku Ibrani berasal dari
wilayah Mesopotamia. Waktu suku-suku itu memasuki negeri Kanaan, mereka bukan
suku-suku badui yang primitip lagi. Mereka bercirikan tempat kelahirannya,
yakni Babel, sehingga mereka diresapi tradisi kebudayaan lama dari orang-orang
Sumer, Akkad dan Babel. Kemudian mereka juga berkenalan dengan peradaban Mesir,
sebab beberapa lamanya suku-suku Ibrani itu menetap di negeri di tepi sungai
Nil itu. Namun demikian suku-suku itu memilih sebagai tanah airnya sebuah
daerah yang terletak antara kedua kerajaan raksasa di bagian Timur Tengah itu.
Di sana, di selajur tanah antara sungai Nil dan sungai Efrat, di tanah yang
adakalanya menjadi jembatan dan adakalanya menjadi jurang antara dua kerajaan
raksasa itu, orang-orang Ibrani memperjuangkan identitas kebangsaannya.
Identitas itu terus-menerus terancam, namun dapat dipertahankan juga. Di negeri
Kanaan, yang mendapat nama berkat suku-suku Ibrani itu, mereka tetap dibayangi
oleh negeri Mesir atau negeri Mesopotamia. Tetapi akhirnya suku-suku itu hidup
lebih lama dari pada negara raksasa itu, bahkan menjadi lebih penting.
Daerah tersebut oleh para sejarawan kerap kali
disebutkan sebagai “Bulan Sabit yang subur”. Namun demikian kata sifat “subur”
itu bisa menipu. Sebab di samping tiap-tiap bidang tanah yang hijau bentanglah
daerah luas yang hanya pasir dan batu belaka. Di zaman dahulu daerah ini
menjadi tanah lalu lintas yang padat. Bangsa-bangsa, bala tentara, suku-suku
badui, kaum dagang dan kafilah-kafilah melintasinya pulang-pergi. Di zaman
dahulu dan kemudian daerah bulan Sabit yang subur itu menjadi tempat di mana
orang tidak hanya tukar-menukar barang dagangan, tetapi juga pikiran. Pikiran
itu sesudah dirubah dan dibentuk kembali lalu disebar-luaskan ke mana-mana.
Di daerah orang-orang Ibrani menetap jarang sekali ada
kemantapan dan keamanan, seperti Mesir dan Mesopotamia sering kali menikmatinya
berabad-abad lamanya. Para penduduk daerah itu terus-menerus dalam perjalanan
ke wilayah lain atau terancam kebinasaan. Kebanyakan suku-suku itu hanya kita
kenal namanya saja. Nama-nama itu terdapat dalam daftar bangsa dan suku
sebagaimana disajikan Alkitab dan sumber-sumber lain. Tetapi tiba-tiba
muncullah dari daerah Mesopotamia sekelompok suku yang lalu berurat-berakar di
bagian barat daya daerah Bulan Sabit yang Subur. Suku-suku itu mengembangkan
identitas nasionalnya sendiri yang mewariskan dua hadiah, yakni: sejumlah hukum
susila yang berdasarkan pemandangan unggul terhadap sejarah dan di samping itu
sejumlah kitab yang memberikan kesaksian tentang keluhuran budi dan hawa napsu,
dan yang sepanjang sekian banyak abad oleh lebih banyak orang dihormati dan
dikagumi dari pada kitab lain manapun, sebelumnya atau sesudahnya.
Para moyang sebuah bangsa
Pendapat
bahwa mereka berasal dari seorang moyang saja memanglah sangat menolong
mempertahankan kesatuan bangsa Ibrani. Namun demikian kisah tentang Abraham,
Ishak dan Yakub, yang tercantum dalam Kitab Kejadian mempunyai beberapa ciri sebuah
mythos nasional, yang cukup lazim. Kisah itu mengingatkan suatu zaman, waktu
para dewa masih secara mesra bergaul dengan manusia dan turun tangan dalam
hidup sehari-hari. Meskipun gaya bahasa kisah itu serupa dengan gaya bahasa legenda
dan bahasanya mirip dengan bahasa dongeng, namun rangka dan latar belakang
cerita-cerita itu bersesuaian dengan apa yang oleh ilmu sejarah ditampilkan
sebagai hal yang dapat dipercaya. Misalnya cukup terbukti bahwa di masa raja
Hammurabi di Babel dan juga kemudian dari itu banyak keluarga dan suku berkeliaran
di bagian pinggir daerah Bulan Sabit yang Subur. Alkitab memberitakan bahwa
Abraham sendiri meninggalkan kota Ur Kasdim di bagian barat daya Mesopotamia.
Ia pindah ke kota (daerah) Haran, sebuah pusat orang-orang Amori di bagian
barat laut Mesopotamia. Di Haran Abraham disuruh oleh Allah meninggalkan negeri
dan sukunya sendiri untuk mendirikan sebuah bangsa baru di negeri lain. “Aku akan membuat engkau jadi bangsa yang
besar. Aku akan memberkati engkau dan membesarkan namamu, sehingga engkau
menjadi berkat” (Kej. 12:2).
Taat
kepada pesan ilahi itu Abraham menempuh perjalanan menuju ke bagian barat
Palestina (nama itu baru diberi jauh di kemudian hari), yakni negeri
orang-orang Kanaan. Kepada Abraham dijanjikan sebagai milik warisan negeri yang
membentang dari “Dan sampai ke Bersyeba”. Kebanyakan penduduk negeri itu
berbangsa Semit. Namun demikian negeri itu karena tanahnya yang berbeda-beda
serta iklimnya yang berlain-lainan, dengan pegunungan dan tanah dataran, dengan
penduduknya yang bermacam-macam kebangsaannya, merupakan daerah yang secara
alamiah mesti menghasilkan berbagai negara kecil. Dalam kenyataan di daerah itu
terdapat sejumlah kerajaan kerdil, yang dengan pesatnya muncul dan menghilang. “Raja”
yang kepadanya Abraham menjual sebidang tanah dan yang dari padanya ia membeli
sejumlah sumber air, kiranya hanya kepala suku, sama seperti Abraham sendiri.
Bagaimanapun juga hanya beberapa bagian yang hijau sajalah yang dapat didiami
secara tetap. Pada umumnya negeri Kanaan hanya dapat menjamin nafkah kepada
suku-suku badui yang puas dengan apa yang mutlak perlu dan taraf hidup minimal.
Adapun Abraham, Ishak dan Yakub tidak hidup seperti kaum tani yang menetap dan
tidak pula seperti kaum badui. Cara hidupnya setengah-setengah. Mereka
mengembara dari kota-kota – seperti Yerusalem, Hebron, Bersyeba dan Gerar – ke mata
air dan sumber di padang gurun. Memanglah tanah Palestina bukan tanah yang menarik
untuk menetap dan bertani. Suatu ikatan kuat mempertahankan kesatuan keluarga
yang terus-menerus bepergian, bukanlah untuk mencari tanah di mana dapat
mendirikan sebuah negara, melainkan hanya untuk mencari penghidupan saja.
Kemudian, yakni di masa Yusuf, suku-suku Ibrani itu mulai ikut-serta dalam lalu
lintas perdagangan internasional; mereka bergabung dengan kafilah-kafilah yang
dengan membawa rempah-rempah, mur dan balsam bertolak dari daerah Gilead.
Tetapi Abraham hanya menuju ke sebelah selatan, ke negeri Mesir, waktu di masa
paceklik negeri Kanaan tertimpa kelaparan. Setelah padang rumput menghijau
lagi, maka segera ia kembali ke Kanaan.
Keluarga
Abraham membeli di Hebron sebuah gua, yakni Makpela,
yang dijadikan makam keluarga. Setelah Abraham meninggal dunia, maka anaknya,
Ishak, bertanggung jawab untuk meneruskan keluarga. Ia menghendaki bahwa anak
bungsunya, Yakub, kawin dengan seorang puteri dari keluarga yang masih
berkerabat, supaya ikatan keluarga jangan terputus. Namun demikian antara kedua
saudara kembar, yakni Esau dan Yakub, terjadi percekcokan, baik karena alasan pribadi
maupun alasan ekonomis. Esau disebut sebagai “orang yang pandai berburu, suka mengembara di padang-padang, sedang
Yakub menjadi orang yang tenang, yang tinggal di kemah” (Kej. 25:27).
Dengan
kedua istrinya Lea dan Rakhel dan dengan kedua hamba sahaya istrinya Yakub
memperanakkan duabelas putra: Ruben, Syimeon, Lewi, Yehuda, Issakar, Zabulon,
Dan, Neftali, Gad, Asyer, Yusuf dan Benyamin. Keturunan ke duabelas anak Yakub itu,
yakni “suku-suku Israel” atau Bani Israel” atau “orang-orang Israel” menjadi
satu kelompok yang jelas dapat dikenal
sebagai sebuah kesatuan sosial. Pada umumnya mereka tidak masuk persekutuan
militer dengan suku di luar kelompoknya sendiri; negeri Kanaan mereka anggap
sebgagai tanah dan warisannya. Manakala packlik memaksa mereka mengungsi di
negeri Mesir, maka mereka merasa dirinya sebagai “orang asing” dan “perantau”
di sana, sebagai “tamu” yang untuk sementara waktu tinggal di pembuangan. Ciri
suku-suku itu yang khas dan yang membedakan mereka dengan suku-suku lain yang
serumpun, ialah (menurut pendapat umum) agamanya yang kurang lebih monoteistis.
Mereka yakin bahwa Allah mereka membimbing apa yang terjadi di dunia dan
menentukan nasib manusia. Dalam hal ini mereka berbeda sekali dengan agama
orang-orang Mesopotamia dan mesir, yang politeistis dan sangat samar-samar.
Cita-cita
orang-orang Ibrani
Jadi
pertimbangan-pertimbangan rohaniah-keagamaanlah yang mendorong Abraham untuk
pergi dan yang mempersatukan keturunannya. Memanglah baik bagi perginya Abraham
maupun bagi persatuan suku-suku Israel tidak ada keterangan lain kecuali
motip-motip keagamaan tersebut. Sebab negeri Mesopotamia, tempat kelahiran
Abraham, merupakan pusat dan asal-mula kebudayaan di zaman itu. Kesenian di
sana jauh lebih maju dan lebih halus dari pada yang di negeri Kanaan. Berkat
tata-hukum dan perdagangan maka masyarakat di sana jauh lebih mantap dari pada
di tempat manapun. Maka tidak dapat tidak Abraham mengungsi karena terdorong
oleh keyakinannya dan karena memprotes masyarakat yang ada di Mesopotamia.
Demikian pun dapat disimpulkan dari berita yang tercantum dalam Kitab Kejadian
bahwa Abraham memprotes kekurangan logika yang melekat pada cara hidup dan cara
berpikir di Mesopotamia; dan ia pun yakin bahwa di tempat lain dapat menemukan
jawaban yang lebih memuaskan atas teka-teki yang terpancar dari nasib manusia.
Adapun
kisah mengenai para bapa bangsa dalam Kitab Kejadian ia menyusul kisah-kisah
mengenai penciptaan dan air-bah. Di dalam kisah-kisah itu ditemukan banyak unsur
yang juga dikenal oleh tradisi di Babel; kisah mengenai Yusuf memuat beberapa
nama dan cerita-cerita yang aslinya berasal dari negeri Mesir. Namun demikian,
apa yang membedakan para bapa bangsa dengan dunia sekitarnya jauh lebih penting
dari pada apa yang mengkaitkan mereka dengan adat kebiasaan sezamannya. Awal-mula
sejarah Israel yang menghilang ke dalam kabut mesti berupa sebuah revolusi,
sebuah protes terhadap tradisi dan bukanlah kelanjutannya: tampil sebuah
pandangan baru mengenai manusia dan mengenai dunia dan berbarengan dengan itu ditolaklah
pandangan mitologis dan panteon yang berisikan dewa-dewa yang saling
bertentangan. Gagasan bahwa hanya ada satu Allah yang esa dan transenden,
secara dasari merubah pandangan yang lama dan menciptakan kategori-katagori
pemikiran yang baru. Maka dari itu pengungsian Abraham dari negeri kelahirannya
mesti diartikan sebagai pemutusan radikal dengan pandangan kafir. Sebagai
penggantinya agama Israel menerima adanya Yang Esa yang menguasai segala
sesuatu; Yang Berbudi yang mengarahkan segala-galanya kepada sebuah tujuan,
Allah yang mengusahakan apa yang baik menurut tata-susila dan yang sifat utama-Nya
ialah kebaikan hati.
Adapun
bangsa Israel menulis sejarahnya dengan disinari cita-cita yang baru. Sejarah
Israel yang merangkum pengungsian Abraham ke negeri Kanaan sampai dengan
tinggalnya Yakub serta anak-anaknya di negeri Mesir itu turut memberi ciri yang
khas kepada alam pikiran bangsa Yahudi. Sejarah itu bukanlah sebuah tawarikh mengenai
pahlawan-pahlawan yang mengatasi manusia di zaman awal-mula dahulu; bukan
pulalah sejarah mengenai sebuah dunia para pahlawan, sebagaimana yang suka
dibayangkan oleh bangsa Yunani dan bangsa-bangsa lain dari zaman dahulu sebagai
awal-mula sejarahnya sendiri. Sudah barang tentu kisah-kisah tentang Abraham,
Ishak dan Yakub berisikan keinsafan bahwa mereka terpilih oleh Allah. Tetapi di
samping itu diceritakan tentang hal-hal biasa dan yang keduniaan; dikisahkan sebuah
cara hidup sederhana di mana perjuangan dan tipu-daya bergiliran dengan
perasaan manis dan halus. Baik dalam kesusastraan dari zaman kemudian maupun
dalam tradisi bangsa Yahudi, Abraham, moyangnya, dianggap sebagai teladan dan
penjelmaan dua sikap hati yang ulung, yakni: kebaikan hati dan kehalusan budi
dalam pergaulan dengan sesama manusia, dan kepercayaan serta penyerahan kepada
kehendak Allah, suatu penyerahan yang jauh lebih dari hanya kerendahan hati
saja. Juga tradisi Kristen dan Islam menganggap Abraham sebagai tokoh historis
benar dan menghormatinya sebagai moyang rohaninya. Tetapi untuk bangsa Israel
Abraham menjadi moyang pertama yang tidak ada tara bandingnya; lambing keunggulan
bangsa Ibrani. Dijiwai oleh perjanjian, yang diikat Allah dengan Abraham, dan
dipersatukan oleh ingatan akan ketiga angkatan yang menyusul moyangnya itu bani
Israel, yang di negeri Mesir mengalami nasib buruk, tampil di panggung sejarah
resmi di pertengahan milenium ke-2 sebelum Masehi.
Oleh:
ABBA EBAN
alih bahasa
lembaga biblika Indonesia
Penerbit
Nusa Indah – Percetakan Arnoldus
Ende – Flores






